Déjà Vu

Sungjin

Déjà Vu

Day6’s  Park Sung JinOC’s  Mia Hwang

|| Canon – Canopus – Vignette ||

©KARASU

.

.

.

—Busan, 2009

Libur musim panas baru saja dimulai. Bukan menghabiskan waktu untuk berwisata atau sekedar menikmati segarnya semangka di serambi rumah, anak lelaki itu malah bersiap menuju tempat guru vokal di akademi musik yang dia ikuti. Di hari terakhir sekolah tempo hari, dia dan tiga teman lainnya sengaja menyusun rencana latihan selama seminggu pertama libur musim panas mereka bersama sang guru vokal yang tanpa keberatan langsung mengiyakan.

Nafasnya terengah, berlari kecil dengan tenaga yang tersisa. Jarak antara rumahnya dan akademi tidak bisa dibilang cukup dekat. Ditambah hari ini dia bangun kesiangan. Sementara waktu terus berjalan, dia melirik jam tangan. Lima menit lagi sebelum dia benar-benar terlambat.

Dua meter di depannya, seorang anak gadis berdiri mematung di bawah pohon di tepi taman sepanjang jalanan menuju gedung akademi.

Dia tidak punya waktu banyak. Berniat tak ambil pusing pada gadis muda itu, awalnya. Tapi ketika pupilnya semakin jelas menangkap sorot wajah si gadis, dia pun berhenti. Menghampiri gadis dengan raut penuh cemas yang terus melayangkan tatap ke atas.

Dia ikuti arah pandang si gadis. Mengernyit ketika seberkas sinar matahari musim panas menyapa lewat celah dedaunan. Dia menyipit, berusaha fokus. Dan itu dia, seekor kucing tampak ketakutan di sela peraduan cabang pohon.

“Apa itu kucingmu?”

Gadis itu menoleh. Terkejut awalnya, ketika menyadari seseorang muncul tiba-tiba. Detik berikutnya, dia menggeleng. Masih dengan tatap cemas yang begitu jelas tersirat di dua matanya.

“Apa kau bisa membantu kucing itu turun?” tanya gadis itu. “Aku tidak sanggup meraihnya.”

Kucing itu tersangkut cukup tinggi memang, entah bagaimana dia bisa sampai ke atas sana. Dan memang benar, dengan tinggi badan pas-pasan untuk ukuran perempuan, meski berusaha menjijit gadis itu pasti kesulitan menggapai.

Di lain pihak, anak lelaki itu dirundung ragu. Waktunya tak banyak, dia pasti terlambat jika tidak lekas bergegas. Namun, kucing itu butuh pertolongan darurat. Ditambah ekspresi putus asa si gadis. Sungguh, dia tak tega jika harus pergi tanpa membantu.

Maka, dengan mengorbankan waktunya, dia pun memanjat. Butuh beberapa menit hingga tangannya mampu menggapai kucing malang itu. Hampir saja dia tergelincir ketika berusaha turun sambil menggendong kucing itu dengan satu tangan.

Gadis itu tersenyum lega begitu anak lelaki tersebut berhasil menapak tanah. Perlahan dia mengambil alih si kucing masuk ke dalam lingkar peluknya.

Anak lelaki itu mengangguk. Puas dengan upaya penyelamatannya yang begitu heroik, juga turut merasa lega saat menyadari cemas yang semula tersirat jelas di wajah gadis itu kini mulai memudar. Dia bahkan tak memedulikan pakaiannya yang kotor disana-sini. Bayangan sang guru yang mengomelinya begitu dia menampakkan diri di kelas pun menghilang tanpa jejak.

“Terimakasih banyak!”

Tatap mata mereka beradu. Detik itu, Sungjin bersumpah tidak akan melupakan lengkung manis milik si gadis asing.

.

.

—Seoul, 2015

Pagi itu tak banyak pejalan kaki yang berlalu di sepanjang taman yang jaraknya tak lebih dari satu kilometer dari gedung tempatnya tinggal. Hari ini jadwal latihan tak begitu padat, momen yang tepat untuk menghirup udara pagi musim panas tanpa perlu diburu waktu. Niat hati ingin mengajak member lain berjalan santai dengannya, namun belum ada satu pun yang beranjak dari kasur, masih asyik dalam buaian alam mimpi.

Gerak kakinya melambat. Fokusnya kini beralih pada seorang gadis —yang terlihat sepantaran dengan usianya— tengah melompat-lompat menggapai cabang pohon di pinggiran taman. Sungjin menghampiri, tanpa titah dari pusat syaraf, tungkainya berayun mendekat.

“Kucingmu?”

Berhenti melompat di tempat, gadis itu menengok. Sempat agak terkejut dengan kehadiran Sungjin yang begitu tiba-tiba, refleks dia meloncat satu langkah mundur.

“Ah, maaf,” Sungjin menggaruk tengkuknya canggung. Agaknya, dia merasa bersalah sudah membuat gadis itu terkejut. “Kucing itu,” pupilnya mengerling seekor kucing kecil yang tersangkut di atas pohon,”dia piaraanmu?”

Anggukan dari si gadis cukup untuk menjawab pertanyaannya.

“Dia kabur saat bermain dengan saudara-saudaranya, aku dan kakakku dengan ceroboh membiarkan mereka bermain sendiri, kami tidak sadar jika salah satu dari mereka hilang entah kemana. Dari tadi ibunya gelisah mencarinya, tapi kuputuskan agar dia tetap tinggal, sementara aku dan kakakku berpencar mencari,” Sungjin hanya melongo polos ketika gadis itu menceritakan kilas balik peristiwa kaburnya si piaraan secara teramat detil. Mereka baru bertemu, tak saling mengenal, tapi gadis itu berbicara seakan mereka teman lama yang sangat dekat. “Kupikir kami akan kehilangan Boo, Molly pasti sangat sedih kalau itu terjadi. Tidak kusangka dia tersangkut di pohon ini, tapi aku terlalu pendek untuk menggapai.”

Pundaknya terkulai, air muka yang memelas. Aneh, Sungjin malah tak bisa menahan tarikan dari sudut bibirnya. Gadis itu begitu manis, meski tengah dirundung cemas pada nasib kucing piarannya.

“Biar kubantu.”

Dengan senang hati Sungjin menawarkan diri. Tak perlu menunggu gadis itu mengiyakan, dia langsung sigap merayapi pohon itu dalam upaya penyelamatan heroik. Ingatannya terlempar ke awal musim panas enam tahun lalu, peristiwa yang nyaris sama persis dengan yang dialaminya detik ini. Dia ingat betul kucing berbulu putih lebat yang diselamatkannya dulu, tapi bayang wajah gadis muda yang dia temui kala itu mengabur dimakan waktu. Satu yang masih tercetak sempurna dalam memorinya; senyum indah milik sang gadis.

Tidak butuh waktu lama hingga Sungjin berhasil membawa kucing itu turun. Dia sudah cukup terlatih dalam bidang panjat-memanjat. Terimakasih pada gadis masa lalunya itu.

Kucing itu, yang awalnya gemetaran, perlahan mulai menemukan rasa nyaman kala dua tangan gadis itu mendekapnya hangat sembari mengelus lembut tubuhnya. Wajah si gadis pun tak kalah leganya begitu sang kucing kembali padanya.

“Terimakasih banyak!”

Gadis itu tersenyum. Sungjin terpaku. Seolah waktu tengah mempermainkannya. Melemparnya begitu jauh pada ingatan masa lampau.

“Mia!”

Senyum itu lenyap. Si gadis memutar fokusnya ke belakang.

“Luke!” Dia melambai kegirangan dengan satu tangan masih memeluk erat kucing kesayangannya. “Aku sudah menemukan Boo! Teman ini membantuku menyelamatkan Boo!”

Tak ada reaksi berarti dari pemuda jangkung yang berdiri tak jauh di belakang mereka. Tak ada senyum terimakasih, atau sekedar anggukan kepala sebagai tutur laku sopan sebagaimana mestinya. Tatap matanya begitu dingin, tanpa sirat bersahabat.

“Ayo pulang!”

Gadis itu mendesah pelan. Lekas mengembalikan fokus pandangnya pada sang pahlawan. “Terimakasih banyak sudah membantu Boo turun. Dan, ah! Aku Mia,” ujarnya mengulurkan tangan.

“Sungjin.”

Hanya nama yang keluar dari bibirnya, tanpa deret kalimat sebagai pengiring. Seakan kosakata di perbendaharaan-katanya lenyap menguap begitu saja.

“Senang sekali bisa berkenalan denganmu.”

Seperti robot, Sungjin hanya menggangguk kaku. Oh, demi Tuhan, ada apa dengannya hari ini?

“Mia!”

Mia kembali mendesah. Kali ini Luke memanggil namanya dengan intonasi yang lebih tinggi, dan tentu saja dengan tingkat kesabaran yang hampir kikis. “Aku pergi dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi, sampai jumpa!”

Sekali lagi, gadis itu tersenyum. Senyum yang sama persis dengan milik gadis asing yang Sungjin temui musim panas enam tahun lalu.

Dan sekali lagi pula, Sungjin terpaku. Mungkinkah ini sebatas deja vu?

-fin-

notes:

sebenernya ini udah dari minggu-minggu lalu mulai ngetik tapi mandek dan baru selesai dua hari lalu tapi baru bisa publish hari ini karena baru sempat on pc ((curhat))

ini asal muasal sungjin-mia ketemu, semoga bisa tersampaikan dengan jelas maksud inti cerita ini hehe

terimakasih sudah membaca! 😀

Advertisements

4 Replies to “Déjà Vu”

  1. MIA PUNYA KUCING? KAWININ SAMA PUNYA LIESE DONG! /digampar/ /dateng-dateng minta kawin/

    Duh, coincidence banget! O///O berarti emang jodoh itu mereka berdua kak, udah langsung cari tempat ijab kabul terus resmiin!! /dor dor!/ tapi aku tuh kesel, kenapa luke selalu dateng saat Mia sama Sungjin lagi berduaan, kan setan banget /digorok luke/ udahlah maz, daripada ngurusin adekmu yang udah segede gaban itu, mending sama aku aja, masih banyak hal yang perlu kita urusin berdua /woi woi/

    Makin lama aku makin gemes sama kesel sama pasangan ini, satunya lagi yang cewek congek banget otaknya, gak tahu apa sinyal cinta udah bersiul BUAHAHAHAHA yaudahlah pokoknya aku berpatisi sangat ini couple buruan jadi, jangan lama-lama om udah gak tahan /halah/

    DITUNGGU KELANJUTANNYA KAK!

    Liked by 1 person

  2. EH CIE ABANG YANG MINTA DIGANTI TERUS GELASNYA MANLY BANGET MANJAT2 /padahal aku ngebayangin sungjin jadi kaya sungokong/plak/seenakjidat/

    Duh mia, bang leader loh sama kamu jadi nurut bisa gitu awkward-awkward-unyu padahal kalo udah ada Nari pasti bawaannya sewot mulu =_= /yanarisihnyebelin/
    duile bang liat yang unyu-unyu langsung mau bantuin. coba tiada penghalang antara kamu dan dia ya /toel2luke/ kukan gabisa ngetawain si abang lagi kalo luke udah nagih mia balik. luke jangan gitu dong, kamu ga kasian sama muka cengo sungjin yang meratapi punggu mia menjauh? kasian loh idup dia udah dibuat nari susah , jangan ditambah2in hahaha
    kak lain kali lukenya di kunciin yang biar gabisa motong2 mia-sungjin wkwkwkw

    mi ikutan ngerjain ulang tahun jae yuk hehehe

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s