Avoid

avoid

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

 

“Tumben akhir-akhir ini kau tidak pergi?”

Sena –penghuni boarding house yang bersebelah kamar- adalah penghuni kesekian yang bertanya demikian begitu sosok Nari berkelebat.

“Aku tidak kuliah,” jawab gadis itu seadanya. Menarik botol bir dari dalam pendingin, menegak beberapa teguk sebelum mencomot kue yang sudah setengah termakan –entah milik siapa.

“Aku tahu. Biasanya kan kau pergi ke apartemen oppamu,” sedikit banyak tinggal satu atap membuat Sena cukup peduli pada gadis yang kadang membuat keributan lewat tengah malam hampir setiap minggu tersebut. Disodornya kotak berisi ayam goreng yang tengah disantap.

Nari melahap sepotong, “Dia sibuk. Kau tahu, debut.” Tuturnya disela cecap kunyah.

“Pacarmu? Kau masih berhubungan dengan model itu?” dalam keadaan sadar Nari tak mungkin ingat membagi keluh akan hubungan tololnya pada Sena, namun panjang lebar bagaimana laki-laki brengsek itu selingkuh tanpa rasa bersalah dari Nari tertuang lancar beberapa bulan lalu saat Sena menyeret Nari dari tangga boarding house –menguar protes penghuni lain yang tercekal tidur manisnya.

Pekat bir merembes mengaliri kerongkong Nari.

“Semoga hari ini dia mati,” tak ada tuang emosi. Hanya lontar kalimat yang membuat lawan bicaranya hampir tersedak.

“Kau benar putus? Lantas siapa yang kau tangisi tempo hari?”

Nari mengerang, mustahil mengendap rahasia kalau alkohol mencuri setiap sela kewarasan yang masih bersemayam dan mengumbar segalanya tanpa cerca ingatan pasca kejadian.

“Ah…. pacar barumu?”

“Berisik! Kau tahu tidak sih ayam ini enak?! Jangan membuat nafsu makanku rusak, eish.”

 

**

 

Oppa-ya…. Junhyuk Oppa? Oppa!”

Kapan pula Im Nari berlajar tahu waktu baik untuk datang mengusung kegaduhan begitu Dowoon –yang masih setengah tertidur- menguak pintu dorm tanpa desak tanya begitu wajah Nari tertera di interkom pada pukul tiga, dini hari.

Noona, Junhyeok hyung lembur di studio.”

Tubuhnya berputar, “Di studio? Studio!” Nari menaruh tas kecil yang dibawanya, merogoh saku jaket dimana ponselnya bergeming –ponsel baru hasil merengek minta dibelikan Junhyeok beberapa minggu lalu.

“Aku tunggu di dorm. Ibu membawakan makanan kesukaanmu.”

Masih jelas pesan singkat yang tertanda tiga puluh menit lalu. Junhyeok mengerjainya?

“Dowoon, sumpal telingamu dengan headset setelah ini.”

Semua utas sistem sarafnya terlonjak. Asal suara sosok yang mati-matian tengah ia hindari minggu-minggu belakangan. Pertahanan awal ketika merasa terancam: melarikan diri.

“IM NARI! KAU PERGI KUHABISKAN MAKANAN INI!!”

Sial, bagian makanan kiriman bibi benar adanya.

 

**

 

“Kenapa telepon tidak diangkat?”

“Kerja.”

“Kenapa tidak membalas pesanku?”

“Sibuk.”

“Kenapa tidak mengabari Junhyeok?”

“Tidak ada pulsa.”

“Kemana saja dua minggu ini?”

“Kerja kubilang.”

“Kenapa menghindariku?”

“Aku tid—“

“Apa yang kau ceritakan pada Sungjin tempo hari.”

“Sungjin bilang padamu?!”

Ya!”

Gadis di hadapnya mendengus. Pertanyaannya tak berbuah jawaban jelas. Gemas setiap tanya hanya berpantul keambiguan, Jae hampir menyerah. Hampir.

“Sungjin cerita apa?” tagih Nari, lebih berniat mengorek ketidak loyal-an laki-laki yang mengumbar janji tempo waktu.

“Tidak penting,” kedua kelamnya melilit rana Nari. “Serius, kenapa kau pura-pura menghilang? Tanganmu patah lagi?” tanpa peduli, sarkasme menggenang nada bicaranya.

“Harusnya kau tahu dari Sungjin,” kedua tangan terlipat, mengumbar defensifitas bahwa gadis itu tak akan mengalah dalam waktu dekat pada tukar sanggah ini.

Jae menari tumpuk kotak berisi beragam makanan yang beberapa jam lalu dibawa pulang Junhyeok, gerak mengancam yang paling efektif.

“Curang! Itu kan jatahku!” Nari menyeret tubuhnya mendekat, hendak meraup tumpuk yang didekap Jae.

“Kata siapa? Tidak ada tulisan ‘ini khusus untuk Nari’ tertera,” Jae menjulur lidah, balas menantang.

Nari makin geram. Sama sekali tak merasa ada aura penting lain selain tumpuk kotak makan yang disandera kekang Jae, “JAE!!”

Laki-laki dengan kacamata yang melorot itu terus bergerak mundur menghindar Nari tak menurunkan lawan, “Jelaskan dulu, kemana kau tanpa kabar dua minggu ini? Atau makanan ini tak akan kubagi.”

Kalau saja taruhannya bukan makanan buatan bibi. Ia pasti memilih melarikan diri, membiarkan duduk perkara mengeras pada tempatnya berpura-pura hal itu tak mengusik apa-apa antara hubungan ‘resmi’-nya dengan laki-laki yang tengah mati-matian menagih rentet pengakuan yang berusaha ia telan bulat-bulat.

“Aku tidak bohong, aku kerja,” tentu saja bagian ini fakta. “Aku menghindarimu karena……”

“Karena?”

Lidahnya terasa pahit. Seperti ia barus saja menalan pil pahit kasat mata yang menyarang di pangkal pencecap. Tutur kebenaran tentang hal bodoh yang ia lakukan dua minggu lalu saat lelaki brengsek itu muncul mencokol kerongkong, mendesak namun susah payah tak digubrsinya.

“Kau sibuk akan debut,” bohong. Delapan puluh persen bohong.

Sebelah alis Jae meninggi, “Pikirmu aku percaya? Mana peduli kau dengan penampilan apalagi perihal kepentingan grupku.”

Sial. Kenapa ia tak kunjung ahli bermuka dua saat mencecar dusta.

“Ugh… harusnya Sungjin ember sudah memberitahumu.”

Jemari Jae bermain ketuk pada tutup kotak makan, “Sungjin hanya bilang terakhir bertemu denganmu kalian berbincang. Itu saja.” Uh-oh ia salah kira ternyata, “Jadi… apa yang kau sembunyikan?”

Dalam imaji visualisasi yang dilebih-lebihkan, Jae baru saja melontar anak panah tepat pada tempurung Nari. Membuat sekujur tubuhnya segera mati rasa. Mati. Ya. Mungkin lebih baik begitu.

“Nari?” Lontar Jae menagih jawab yang tak kunjung bergaung.

Jika diberi pilihan antara menghadap Hades atau mengaku pada Jae, ia akan segera memilih Hades ketimbang mengungkap fakta pada Jae. Ia terlalu baik untuk terkhianati gadis tak beretika macam dirinya.

“Aku…..” tepat seperti rasa ingin memuntahkan setumpuk benda menjijikan, “bertemu Yejun.”

Nah. Kemana dia bisa menemui Hades?

**

Jae mungkin melontar kata berhenti akan hubungan berumur kecambah mereka. Bisa juga ia memilih pergi tanpa patah kata lantas mencoreng Nari dari sekujur buku hidupnya. Atau jika tega, mengusir Nari tanpa sela penjelas.

Namun laki-laki jangkung itu hanya berkata, “Kau mau makan dengan nasi? Kurasa masih ada sisa semalam di rice cooker.” Tak lupa pulas garis lengkung yang membuat Nari lantas melongo.

“Jangan ditanya kenapa aku tidak marah. Aku marah. Tapi tak ingin menghakimimu. Aku percaya, apapun yang terjadi kau pasti merasa bersalah padaku kan?” Jae berdiri, membawa tumpuk kotak makan dengannya. “Kau sayang aku kan? Itu lebih dari cukup.”

Bila ia terlahir kembali dengan akhlak berbeda, ia tetap akan merasa bahkan Jae masih terlalu baik untuk dirinya. Jae akan menjadi pantas jika bukan dengan dirinya. Tak ada tetes polah terpuji sama sekali, merepotkan, bahkan tak lebih menarik dari gadis-gadis cantik yang berseliweran di ruang tunggu acara musik. Namun, Jae memilihnya. Tetap akan selalu hanya dirinya.

“Kau mau menemaniku makan kan?” kedua lengan Nari mengekang Jae, bersandar pada pundak hangat laki-laki itu.

“Asal kau tidak keberatan jatahku lebih banyak.”

“Kau mau duel denganku tidak? Aku siap.”

=end=

Bang Dowoon mangap ya, selalu jadi maknae-yang-berada-di-situasi-nggak-menguntungkan macam begini XD

Nar, Yejun dibikin sate aja ya?

Advertisements

2 Replies to “Avoid”

  1. …….Sumpah, sekang kopel paling ngeselin di cabe itu Mia-Sungjin sama ini satu, Jae-Nari. Bikin iri! Jae baik parah, dia terlalu kebagusan buat aku /lah/ /siape elu/

    Itu Sena, gak dipasangin sama siapa-siapa Li? Jadi pelarian Changkyun aja nyok! Biar Liese bisa tenang bersama Abito di Jepang sana HAHAHAHAHA……

    Dan itu Nari seenak bokong dateng ke dorm DAY6-_- tapi SUMPAH AKU NGAKAK PAS JAE TERIAK SOAL MAKANAN ITU SUBHANALLAH XD Cuma, entah kenapa pas Nari ketahuan dateng gitu aku jadi deg-degan sendiri /jah/ gak tahu kenapa, maunya Nari pergi terus gak ketemu Jae ;_; haha /maapkeun/ Itu si maknae, idup emang susah mak, tabah aja ya. Terus bagian mereka berdua saling sewot, haha, aku senyam-senyum juga, MANIS BANGET!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! AKU OVERDOSIS DI SINI /eyak/ /disepak/

    TAPI ITU IH, KOK NARI GAK JUJUR MEREKA CIUMAN? JAHAT! eh kemarin mereka ciuman gak sih? IYA MEREKA CIPOKAN KOK. HAYOLOH. MINGGU DEPAN ANGST BERARTI YA? /Dilempar kerdus/ /bercanda bercanda/

    OKELAH. KISAH SELANJUTNYA DITUNGGU!!!! SEMANGAT LI!

    Like

  2. li tau gak? kakak lagi di jalan dari jawa bagian tengah menuju bagian timur trus ngecek cabe ternyata ada postingan fanfic baru dan itu NARI JAE (kesetanan) oke lupain bagian jawa tengah dan timurnya.. NARI JAE SELALU YA BIKIN GEMES

    belum apa apa dowoon udah dibikin bingung mlongo wkwk dia beneran ada di situasi yang tidak tepat, untung aja nari ga sampe ngeluarin sumpah serapah ke junhyuk lewat telpon buahaha. beneran deh waktu si jae teriak ngancem soal makanan dari mama junhyuk itu.. JURUSNYA NICE SEKALI MAS !! nari langsung ga berkutik lol

    dan, yah, jae baek banget sumpah demi jenggot om limbad yaampun siapa sih yang ga pengen punya pacar super duper pengertian macem jae, trus gitu mukanya imut pula, aduh serius ya bisa memperbaiki keturunanku (lah kok aku) (emang jae mau sama kamu tir)

    nari, kalo yejun fix mau dijadiin sate, tenang aja, mama lia sama tiara siap bantuin
    salam metal,
    jae-nari hardcore shipper

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s