TOXIC

toxic

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

2:50 PM

“Silahkan, Anda mau pesan apa?” bertolak tingkah aslinya, karena tuntut kontrak kerja dan atasan ia memoles roman palsu hingga akhir shifIt. Pelanggan di hadapnya masih merunduk meniti deret makanan yang ditawarkan hanya diam, ia menggerutu tanpa kata.

“Nona, kenapa tidak ada waktu luang Anda di dalam menu?”

Dahinya mengkerut. Pelanggan ini tengah mencoba menggoda gadis yang salah, pikirnya.

“Maaf, kalau Anda belum tahu mau pesan apa, saya akan kembali lagi nanti,” ditelannya kembali hasrat untuk mendekat sekedar menguar caci.

“Kalau begitu, aku pesan waktumu. Nari-a.”

Derap siap langkahnya tertunda, pelanggan dengan topi fedora membayang paras dan kacamata gelap yang menutup separuh atas wajah itu mendongak. Meski wajah itu terhalang, senyum jahil dan tatap jenaka itu terlalu lama melekat dalam kepalanya, walau setelah dua bulan tak beredar.

Ia ingin marah, melempar keras telapak tangannya di wajah pria itu pasti akan terasa menyenangkan. Namun sesuatu lain menggerogoti hatinya. Sesuatu yang coba ia sentak lepas berkali-kali namun belum kunjung berhasil. Sesuatu yang membisiki isi kepalanya untuk malah berlari dan meraup laki-laki itu, menyabotase sosok tersebut untuknya.

“Satu, kau brengsek. Dua, kau lebih muda dariku,” langkahnya mengumbar jarak, “tiga, hidupku baik-baik saja tanpamu.” Kedua rana tatapnya menusuk tajam tanpa terhalang selapis kaca yang memblokade dua tatap yang balas memandangnya.

“Aku merindukanmu, Nari-a.”

Tidak pernah ada yang selaras dalam dirinya jika laki-laki itu sudah menabur gula dalam kata perkata yang lolos dari lubang suaranya. Seolah ucap tersebut adalah mantra yang membuat ketahan dirinya pecah meski hampir 95% lainnya tak setuju.

“Kau tahu Yejun, bohongmu sama sekali tidak lucu,” tawa sarkas menjadi sahutnya.

“Kau tahu aku sama sekali tidak berbohong.”

Persetan, begitu mudah ia percaya.

**

8:45 PM

 

“Mana Junhyuk?” tidak ada basa-basi sapa menyapa, tata krama bertamu atau mohon permisi begitu Sungjin muncul membuka pintu dorm.

Sungjin diam. Melengos tanpa jawaban kembali ke ruang tengah.

“Sungjin, mana Junhyuk?” ulang Nari jengkel.

Pertanyaan Nari hanya seperti bola pingpong yang kembali terpental tanpa berhasil mengenai area lawan dengan gemilang.

“Kau masih marah karena gelasmu tempo hari?” tawa Nari tak percaya. Tak mengerti kenapa manusia yang didaulat menjadi ketua grup Junhyuk tersebut bermental anak sekolah dasar yang merajuk hanya karena Nari memecahkan gelas kesayangannya kemarin waktu.

“Gelas itu bingkisan pemenang lomba JYP yang kumenangkan Nari!” sungut Sungjin, memandangnya tak kalah jengkel.

“Kau bisa minta lagi kan, toh kau sudah mau debut,” sanggah Nari tak kalah.

“Lalu kenapa mencari Junhyuk?” Sungjin tak menjawab pertanyaan Nari. Tahu tidak akan ada hal bagus yang mengakhiri perdebatan kosong.

Nari menggeleng. Jelas enggan mengumbar alasannya. Sungjin cukup jeli untuk menerka -gadis itu sedang tak tenang karena sesuatu. Bahkan ia tampak beberapa kali waswas, meskipun Nari tidak bertanya –ia sedang tak ingin bersua Jaehyung.

“Junhyuk sedang latihan dengan Wonpil. Kau baik-baik saja?”

Tak ada tutur jawab.

Sungjin mengerti, dia bukan tergolong orang-orang yang memasuki lingkup di dalam pertahanan Nari. Tapi ia cukup peduli untuk khawatir tingkah gadis itu yang tampak seperti baru saja melakukan kesalahan fatal.

“Kau bisa cerita padaku. Aku tidak se-ember Junhyuk.”

Lolos napas Nari terdengar berat. Sesuatu memang salah. Ia hanya tak tahu harus bagaimana dengan kesalahan itu.

**

4:55 PM

 

Ia melakukan banyak kesalahan. Sadar maupun tak sadar. Namun rasanya seperti tak berpakaian ditengah keramaian ketika dirinya seratus persen sadar. Tanpa tetes alkohol dalam sistemnya.

“Aku tidak melihatmu di klub akhir-akhir ini.”

“Kau mencariku? Wow… aku tersanjung,” ucap Nari dengan sarkasme kental.

“Kau benar marah padaku?” seolah pertanyaan yang baru saja ia umbar adalah lelucon, ia terkekeh.

Jika manusia di hadapannya tersebut bukan publik figur yang akan menjadi bahan sorot isu dunia hiburan, tangannya mungkin sudah menghantam paras sempurna laki-laki itu -kalau saja.

“Hei brengsek, kita sudah berakhir. Teruskan hidupmu,” Nari menyesap setengah gelas jusnya. Merasa ada yang aneh dengan udara pengap yang melingkupi sekitarnya padahal pendingin ruangan berdesing tak jauh dari mereka.

Laki-laki itu tidak pernah keberatan dengan panggilan Nari –karena memang pada nyatanya ia sadar dirinya pantas disebut demikian. Bahkan mengaggap itu panggilan kesayangan Nari untuknya.

“Kau tahu, tidak pernah ada jalan keluar diantara kita, bukan?” kacamata hitam yang mengalihkan pandang dua titik di baliknya dilepas. Melucuti tatap Nari yang menahan diri untuk tak tenggelam di tengahnya.

“Kau bercanda ya? Leluconmu payah.”

“Nari-a kita –“

“Tidak ada lagi kita, Yejun. Kau pura-pura tidak dengar?” geram Nari.

Tidak pernah ada sela jika Nari sudah melontar namanya dengan lantang. Gadis itu tidak main-main. Ia paham, ia mendengar. Tapi tetap ia tidak akan membenarkan. Gadis itu telah ia klaim sebagai miliknya.

“Kau menemukan seseorang, begitu ya?”

Membaca mimik Nari lebih mudah daripada membaca literatur sekolah.

“Kau pikir dia akan terus bersamamu? Ayolah,” Yejun menatapnya seolah tahu apa yang Nari pikirkan. “Dia tidak tahu seperti apa dirimu Nari. Begitu ia tahu, hanya ada aku yang tersisa.”

Nari bisa saja memilih untuk beranjak dan tak mendengar apa-apa yang Yejun katakan. Tapi baris-baris kalimat yang diungkap Yejun tidak dapat ia sanggah sedikit pun.

“Nari-a….” tangan Yejun mulai menggapai dagu Nari. “Kau hanya punya diriku. Kita serupa. Tidak pernah ada kata ‘selesai’ apapun yang terjadi.”

Terkutuklah ukur meja kedai yang terlalu kecil, sekali gerak Yejun menarik wajah Nari meraup bibirnya tanpa ragu. Otaknya tak bekerja, tak menolak. Lumat itu tak lembut, tak pula kasar. Setiap sela di tubuhnya tergelitik.

Oh, tidak. Ia menikmati setiap tetes racun yang bergumul menyerangnya.

**

9:10 PM

Kepalanya bersandar pada permukaan kayu halus meja. Sungjin tak kunjung mengumbar suara selesainya ia bercerita. Rasanya mual, seperti baru saja menelan sesuatu yang menjijikan.

“Jadi…. kau selingkuh?”

Nari mendongak, “Tidak! Duh… aku cuma tidak sengaja men—“ napasnya tersendat, memori beberapa jam yang lalu merembes seperti air yang diguyur paksa.

“Kalau kau masih menyukainya berarti itu selingkuh, iya kan?”

Tanggapan Sungjin membuatnya merasa semakin buruk. Namun tak ada satu pun yang salah, terlalu benar.

“Tolol. Bercerita denganmu tidak membuatku lebih baik,” sergah Nari mencibir laki-laki diseberang meja.

Sungjin –sama sekali tidak merasa tersindir, menurunkan gelas minumnya. Memandang lurus gadis tak sopan di hadapnya yang tak kunjung menyentuh Americanonya.

“Kau, seberapa sayang kau pada Jae hyung?”

Seperti belum cukup banyak menyerang Nari, lontar pertanyaannya seperti bom tanpa isu berarti yang tahu-tahu meledak entah dari mana. Sepersekian detik Nari bersumpah jantungnya berhenti berdetak sebelum setelahnya melompat tak berarturan diburu perasaan tak nyaman.

“Kalau sayangmu besar. Kau pasti sudah melupakan hubungan pingpong konyolmu itu.”

“Pikirmu gampang! Dua tahun bukan seperti satu minggu kau tahu,” tuding Nari.

Sungjin terkekeh, macam yang jelas bukan karena humor tapi sarat cemooh. Sifat alami manusia, menyangkal ketika tertangkap bersalah. Tepat seperti yang dilakukan Nari. Dua bulan tanpa keributan atau protes Junhyuk perihal kelakuan Nari terasa tenang, namun tak ayal menimbulkan rasa waswas kalau-kalau serupa tenang sebelum badai.

“Tahu tidak, dua tahun itu kau juga sudah banyak menyakiti Jae hyung,” jika pembicaraan ini adalah pertarungan tinju, maka Nari sudah diluar arena namun masih mendapat hantaman telak.

“Kau tidak tahu kan, sejak kali pertama Junhyuk mengenalkanmu waktu itu Jae hyung seperti orang yang kecanduan. Ia tersenyum seperti orang sinting tiap kali Junhyuk membicarakanmu. Ia tetap tersenyum, meskipun tahu kau tengah mabuk setelah bertemu laki-laki sialan itu. Ia tetap tersenyum ketika Junhyuk dan Brian hampir benar-benar membawanya ke psikolog begitu tahu Jae hyung menyukaimu. Ia tetap tersenyum bahkan setelah Junhyuk mengumbar semua keburukanmu. Dia tersenyum, meskipun kau lebih memilih kembali pada laki-laki tolol itu dari pada menghargai setiap usahanya untukmu.”

Nari lupa. Apa itu rasa haru. Ia menangis tiap kali laki-laki brengsek itu mempermainkannya –berkali-kali. Tangis kesakitan yang membuang berjam-jam air matanya. Tuturan Sungjin membuatnya merasa berada di sepatu Yejun. Menjadi tersangka yang mengoyak mental perlahan, tanpa sadar ia melakukan hal yang sama.

“Dia racunmu Nari. Kau tahu dia tidak baik untukmu,” alur napas Sungjin menghempas, “satu-satunya pertolonganmu adalah Jae hyung. Dia penawarmu, jaga dia.”

“Abaikan 1001 alasan yang terus bermunculan di kepalamu. Aku mengerti tidak akan mudah bagimu untuk begitu saja membuang kenanganmu dengan laki-laki itu. Tapi setidaknya ingatlah, kau juga mengoyak perasaan Jae hyung seperti laki-laki itu merusak perasaanmu, Nari-ya.”

Jika kepalanya adalah seulas kertas, kepalanya saat ini kosong tanpa setitik goresan sama sekali. Tidak terpikir sangkal, dalih, atau macam perlawanan untuk menampik tubian tutur Sungjin yang membuatnya merasa seperti orang paling jahat.

Yejun menyakiti dirinya. Namun ia bukan gadis baik-baik, setengah perlakuan Yejun pantas ia dapatkan karena ia bukan manusia tanpa sela picik yang menyumpahi kehidupan dari segala arah. Benar, mereka memang serupa. Namun baru terhenyak pikirnya, ia menyakiti Jae yang terlalu baik untuk dirinya. Terlalu baik untuk seorang gadis tak bersantun sepertinya. Realita menghantamnya berkali-kali. Ia merasa lebih buruk dari teroris.

“Aku tidak pan—“

“Kau pantas untuknya. Buat dirimu pantas,” rana tatap Sungjin melucuti tiap lapis rasa bersalahnya hingga ke akar. Ia bak tersangka yang akan dieksekusi.

“Jae…. dia terlalu baik,” Nari mendorong sisa verbal yang masih bisa ia suarakan. Kerongkongannya semakin tandus. Rasa bersalah mencokol dalam, menekan setiap rongga tubuhnya.

“Kau juga baik. Tingkahmu hanya sampul pertahanan, bukan?” Berapa lama ia mengenal Sungjin? Seingatnya tak cukup lama hingga membuat laki-laki itu mengupas segala perangainya selama ini. “Kau dan tingkahmu bukan satu kesatuan. Aku tahu sebanyak itu, setidaknya.”

Nari tidak pernah terpikir, Sungjin cukup peduli pada eksistensinya untuk memerhatikan polah tingkah tanpa pedomannya yang berganti arah semau perasaan -hormon kadang. Setiap kalimat yang terlontar, setiap kebenaran membuatnya didobrak paksa dari tempurung persembunyian. Apa benar, ia sebegitu mudah dibaca? Apa memang ia terlalu acuh pada orang-orang yang benar-benar peduli padanya?

“Kau…. bisa membaca pikiran orang ya? Kau bukan Edward Cullen, kan?”

Beruntung Sungjin tidak sedang menelan minumannya, tawanya menggaung mendengar pertanyaan konyol Nari. Raut polos tak bergores ekspresi membuat pertanyaan barusan terasa semakin konyol, Nari serius dengan pertanyaannya. Percakapan mereka menguras setiap kewarasan yang dicakup otak gadis itu rupanya.

“Sudah lebih baik?” tanya Sungjin disela tawanya yang belum reda.

Tak ada lontar jawaban. Hanya dua bulir kelam kosong yang balas memandangnya.

“Kalian akan baik-baik saja. Sudah kubilang aku tidak se-ember Junhyuk. Selesaikan masalahmu sendiri,” Sungjin mendorong gelas berisi Americano dihadap Nari yang hangatnya sudah beranjak.

Tatap Nari berganti picingan tajam, “Kalau kau ember, mati kau.”

Sungjin berdecak, teringat rasa senioritas jenjang usianya dan Nari, “Hei, begini-begini aku lebih tua darimu. Sopan sedikit.”

Kata sopan sering berkoar, namun sayang tidak pernah tertempel permanen dalam polah tanduk Nari, “Mau kupanggil Oppa? Syarat pertama, kau harus membayar makanku tiap kuminta.”

“Kau pikir aku dompetmu?”

“Nah itu maksudku.”

Pertukaran cerita berganti lebih ringan. Nari mengumbar aib kakak sepupunya bergantian Sungjin menguak kejadian konyol antar grupnya. Hampir gelas ketiga dan beberapa piring makanan penutup  ketika ia benar-benar merasa lebih baik. Tak dihantui gaung percakapan sebelumnya atau kebodohan beberapa jam lalu.

Ia baru tahu, membagi sebagian berat mental hanya lewat obrolan berteman kopi bisa membuatnya merasa lebih baik. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya. Bahkan dengan Sungjin, ketua bermental anak sekolah dasar yang terus menagih minta diganti gelasnya yang tinggal serpih tak berguna.

Sedikit banyak, dinding tebal disekitarnya menipis.

Masih ada orang-orang yang peduli. Bukan hanya Yejun. Bukan hanya laki-laki brengsek itu.

=end=

apa in?!! gajelas ya? mangap ya.

sok sok mellow tapi gagal gini jadinya.

ga ada unyu-unyuan, ga ada jae, adanya malah sesi curhat.

Advertisements

One Reply to “TOXIC”

  1. ini yejun kok minta ditabok ya ((dateng dateng langsung ngomel ga jelas sambil bawa golok)) ((reader rusuh ala aremania))

    nari.. yejun emang mirip heroin, bikin kecanduan dan susah dilupain tapi kamu harus bisa move on! move move move! ada abang ayam di sampingmu
    nanti urusan yejun biar aku yang sekap dia trus kirim ke pulau komodo biar dia cari pasangan baru disana dan ga usah ganggu nari-jae lagi

    wkwk sungjin masih aja ngambek soal gelas kesayangannya, duh leader ngambekan ga beda sama anak playgroup. sini aku beliin gelas yang lebih bagus dari gelasnya om jyp, bikinnya pake cinta dan kasih sayang ((lebay kambuh)) ((lalu disuruh minggat))

    “Kau tidak tahu kan, sejak kali pertama Junhyuk mengenalkanmu waktu itu Jae hyung seperti orang yang kecanduan. Ia tersenyum seperti orang sinting tiap kali Junhyuk membicarakanmu. Ia tetap tersenyum, meskipun tahu kau tengah mabuk setelah bertemu laki-laki sialan itu. Ia tetap tersenyum ketika Junhyuk dan Brian hampir benar-benar membawanya ke psikolog begitu tahu Jae hyung menyukaimu. Ia tetap tersenyum bahkan setelah Junhyuk mengumbar semua keburukanmu. Dia tersenyum, meskipun kau lebih memilih kembali pada laki-laki tolol itu dari pada menghargai setiap usahanya untukmu.”

    COBA INI BIKIN NAHAN NAPAS BACANYA YAAMPUN JAEHYUNG SETIA BANGET
    jaehyung segitu dalemnya sayang sama nari coba nar masa kamu mau lepasin cowok sebaik ini gitu aja. kalo kata pak mario teguh, tinggalkan sesuatu yang membuatmu sakit, di luar sana masih banyak yang lebih baik yang sedang menantimu. ((asik dalem)) ((ketauan ternyata reader jamaahnya mario teguh))
    jadi, lupain yejun, tatap masa depan yang lebih baik, oke nari? ((reader maksa)) ((reader diterjunin ke sumur tetangga))

    ps: aku juga peduli sama kamu nari! ((insert sticker syahrini lagi kecup manis))

    Liked by 1 person

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s