Movie Night

movie

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

“You’re not gonna ask me to watch The Notebook, are you?”

Keningnya membentuk cekung, ia menggeleng, “Pikirmu aku suka genre romansa? C’mon Jae.”

Jaehyung hanya tertawa, meletakkan kembali petak bungkus piring film ke tempat semula sementara Nari menimbang-nimbang deret film action dengan sampul menjanjikan.

Berkat rengekan Junhyuk pada Sungjin yang lalu memohon pada koordinator trainee agar mereka diberikan libur akhir pekan sebelum menerjang daftar panjang penampilan beberapa bulan kedepan menjelang debut resmi di panggung siar komersil nasional, seluruh anggota mendapat waktu bebas tiga hari untuk akhir pekan.

Yang mana langsung membuat Junhyuk segera mengepak barang, kembali ke rumahnya, dan terus mengirim foto makanan rumah yang dibuat ibunya –kebanyakan menu buatan bibi yang Nari suka. Mungkin ia akan mengekor Junhyuk pulang, kalau Jae tidak menyeretnya lebih dulu dengan rencana panjang tiga hari kedepan. Proper date, dalihnya.

“Bagaimana kalau ini?” Jae memampang bungkus film thirller. Nari menyalang sorot ancam. “No? Oke… yang ini?” Kali ini disodornya film animasi. Angguk setuju Nari menggembung sudut kedua pipinya.

“Apa?” tuntut gadis itu, cengir lebar Jaehyung tak kunjung luruh. Jaehyung mengeleng. “Jae….”

“Kenapa kau imut sekali sih? Tampangmu seperti bos mafia tapi mentalmu tak jauh beda dengan anak-anak.”

“Ugh…. siapa yang mengajarimu gombal? Sungjin ya?” tutur Nari, bukannya malah tersanjung atau tersipu. Gadis itu memicing mata lantas berdecak.

Jae meletakkan film yang ia pilih di atas rak, dihampirinya Nari, “Merengut saja kau manis.” Tangannya menjamah pipi Nari, mengecupnya singkat lalu mencubitnya pelan.

“Sial, dasar tukang gombal,” bibirnya mengucap umpat, namun pasang rona merah muda wajahnya tak cukup menyangkal tingkah canggung Nari. Jae pura-pura tak mendengar, kembali memilah-milah jejer opsi film pada rak berikutnya sementara Nari masih diam, berusaha menjinakkan deru jantung yang berlarian.

**

Memilih satu opsi romansa komedi tidak terlalu buruk ternyata, pikir Nari. Baris kredit film berjalan di layar. Nari beranjak menuju dapur, bermaksud mengambil bungkus-bungkus dingin es krim di dalam lemari pendingin.

Hun tolong ambilkan coke sekalian.”

Bukannya terus melenggang ke dapur, Nari memutar langkah kembali ke ruang tengah.

“Apa?”

Tangannya bertengger di pinggang, “‘Hun‘? You mean like honey?

Jae mengangguk. Tak tanggap sirat tak senang bergaung di wajah Nari. Tangannya berganti terlipat di depan dada.

“Kenapa?” tatap bingung Jae tak mengerti.

No lovey dovey nickname. No couple pet-name. Just no.” 

Tatap Nari nyalang memperingati, mengumbar jelas keberatan akan kebiasaan yang dipikir Jae normal antar pasangan yang menaungi status hubungan. Normal, jika saja kekasihnya bukan seorang Nari yang mengutuk Shakespeare karena melegendakan dua sejoli yang menurutnya bodoh.

Babe? Sweety pie? Puppy? Pumpkin? Angel?”

Nari menggeleng, “Jae! No!” diraupnya berondong jagung dari mangkuk di pangkuan Jae, lalu melemparnya butir per butir. Jae menghadang tangan, memblokade serangan berondong jagung Nari.

“Hei hei baiklah. Aku bercanda,” ucapnya mengusul damai. Diturunkannya benteng pertahanan. Sorot tajam Nari masih belum beranjak rupanya.

“Tidak lucu. Menjijikan,” balas gadis itu. Membenarkan fakta kesekian Junhyuk tentang Nari, gadis itu tidak punya lidah santun untuk berujar manis. Lontaran kata tajam tanpa saring bahkan tudingan keras terkuak tak repot-repot pikir panjang.

“Nari,” Jae menyingkirkan mangkuk berondong, berdiri meraih jaraknya dan Nari. “Nari,” diucapnya lirih dan pelan. “Nari,” ia paham macam intonasi dan durasi bagaimana yang gadis itu suka tiap ia melafal namanya. Membujuk gadis itu semudah membuatnya mengamuk.

Telunjuknya menekan sebelah pipi Nari, “Tomat. Kenapa mukamu merah sekali sih?”

Gadis itu berdecak, “Bukan karena mulut gombalmu,” gelagat jengkelnya lenyap.

“Masa?”   Jarak mereka terbuang. Dicecapnya manis berondong karamel yang melekat di bibir Nari. Manis yang membuatnya tak kunjung ingin melepas.

“Gombal,” Nari mendorong keningnya. Menyudahi manis yang mencandu perasanya.

Babe?” Godanya, menikmati gusar kesal mimik Nari.

“Jangan sering-sering mendengar omong kosong Sungjin. Kau sudah bosan hidup ya?” Tangan mungil Nari meraup wajahnya, lekat-lekat tatapnya memicing memperingati. “Shut up. Don’ t call me with those stupid names.

Gembung kedua pipi Jae mekar, kali ini lekat manis karamel yang menghampirinya.

=end=

dalam rangka membagi kebahagian karena teaser DAY6 baru nongol semalem. hohoho

XO,

sky.l

Advertisements

One Reply to “Movie Night”

  1. DUH PASANGAN INI YA BENERAN DEH BIKIN YANG SINGLE PADA ENVY PENGEN BURUAN DAPET JODOH

    babe baby honey bunny sweety nari~ (lalu dilempar remote sama nari)
    nari sama jae lucu banget sih, nari nya ga suka panggilan ala lovey dovey couple trus si jae nya demen banget godain mana gombal lagi. duh dia beneran diajarin sungjin tuh? wah wah sungjin ya.. ga nyangka
    awas aja nanti kalo gombalin mia (mending gombalin aja abang sungjinie) (lalu dihajar masa)

    manis banget nari jae gantian gitu poppo nya, semanis karamel aseeek. udah mulai aktif ya si jae ini, gamau kalah sama nari kayaknya hahaha. kalo kemaren 1-0 sekarang skornya imbang

    oya SELAMAT MENEMPUH MASA DEBUT DAY6 MAKASIH TADI MALEM UDAH NGERONTOKIN HATIKU SAMPE JADI BUTIRAN DEBU
    pokoknya semoga kalian sukses ❤
    biar lia makin sering bikin fic nari-jae (loh) (bentangin spanduk nari-jae shipper)

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s