Call Me

cellphone

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

Hyung ponselmu tidak akan berdering hanya karena kau tatap terus 24 jam,” Dowoon adalah orang ketiga yang mengatakan hal tersebut -setelah Junhyuk dan Sungjin.

Digesernya benda yang terasa sangat tidak berguna itu. Kembali bermain dengan stereo dan derit nada, mencoba mengusung hal yang lebih produktif dari sekedar mengharapkan dering panggilan atau setidaknya pesan masuk.

Kalau bulan lalu tidak ada definisi jelas akan hubungan macam apa yang ia geluti dengan Nari, ia tidak akan berjingkat tak tenang karena tak bersua tanda-tanda kehidupan gadis itu. Meskipun ia mengerti seratus persen tingkah laku tanpa titik pandu yang ia gemari. Satu bulan, hanya satu deret kalimat yang mampir di kotak masuknya : aku baik-baik saja, dari nomor asing. Serta berbelas-belas panggilan yang teralih ke pesan suara.

Memang dulu hubungan Nari dengan model sialan itu seperti yang ia alami sekarang? Tidak, ia sudah bersumpah tidak akan membanding-bandingkan apapun yang berbau laki-laki sinting itu.

Kenapa Junhyuk diam saja meski tak mendengar sebutir kabar pun dari adik sepupunya yang terkenal pecandu masalah? Bukankah harusnya Junhyuk sama tak tenangnya? Apa hanya dirinya yang aneh? Memangnya mengkhawatirkan kekasih sendiri aneh, ya?

Hyung…. mau buat track rock?”

“Huh?”

Dagu Dowoon menunjuk aliran nada yang setengah sadar ia buat dengan alun keras. Oh hebat, ia berbakat membuat genre rock ketika mengkhawatirkan Nari. Tetap saja, perasaannya lebih seperti balada mellow.

Pintu studio terlonjak membuka.

Hyung!” Sungjin diam di depan pintu, napasnya berlarian. “Nari di rumah sakit!”

**

“Woah…. kau memang berbakat mengundang masalah ya? Sudah kubilang jangan sering-sering pergi ke klub! Lalu siapa yang menabrakmu? Masak dia tidak ganti rugi! Harusnya kau bi—“

OPPA!” Beruntung tidak banyak pasien lain di lingkup yang sama, beberapa sedang keluar dan beberapa tampak tak tertarik meski teriakan Nari terdengar hingga lorong luar. “Yang penting aku masih hidup. Jangan mengomel terus.”

Junhyuk diam, sisa omelannya masih berentet mendesak diutarakan. Namun jika sudah berperingat telak, melanjutkan berarti memperpanjang masa perdebatan yang berujung sama. Membuang tenaga.

“Tunggu disini. Aku ke bagian administrasi.”

Nari mengangguk, melanjutkan usaha dua kali lipatnya membereskan beberapa pakaian karena sebelah tangannya tak bisa menjalankan fungsi.

Hampir satu minggu ia berada di rumah sakit. Tidak parah, tak terhitung sepele pula.

Malam setelah pulang dari konser di klub yang biasa ia datangi -setengah sadar setengah tidak- tepat ketika ia meniti garis-garis putih penyebrangan, dua menit kemudian ia terpental jatuh dengan sebelah tangan tertindih tubuh. Menghasilkan beberapa fragmen tulang patah yang membuatnya harus dirawat inap selama satu minggu.

Damn it!” pemutar musiknya jatuh.

Nari mendengus, menggeret langkah menuju benda mungil yang tergeletak di dekat pintu masuk ruangan.

Belum tangannya menggapai benda berwarna biru tersebut, tangan lain sudah lebih dulu meraihnya. Nari mendongak.

Sepasang bulir hitam di balik kacamata menatapnya diam.

“Hai pacar.”

**

“Tidak mau ngomel seperti Oppa?”

Ia terus menatap lurus, tak pula mengumbar suara sejak meraih tas Nari keluar ruang rawat inap. Kemana perginya semua protes yang sudah ia susun rapi dalam perjalanannya ke rumah sakit? Ia tidak ingat satu kalimat pun.

“Jae? Merajuk?”

Nari menyiku lengannya berkali-kali.

“Mau makan apa? Aku lapar,” ia berhenti menderap sembari melambai mengundang taksi, berusaha bertingkah seolah tidak ambil pusing dengan sebelah tangan Nari yang dibalut gips.

“Serius kau tidak mau mengomel?” Yang diberi pertanyaan malah melempar pertanyaan lain. Lengannya turun terkulai.

“Lain kali telepon aku. Apapun itu alasannya. Telepon,” lamat-lamat ia melucuti rana tatap gadis di hadapannya. Berharap gadis itu sadar –frustasi dan amarah yang bersembunyi dibaliknya.

Hening. Nari mengerjap. Pandangan gadis itu masih melipir dua titik yang menerjangnya.

“Ponselku rusak, ingat? Aku belum beli yang baru,” tutur Nari, melempar pembelaan. “Itu saja?”

Ia hanya mengangguk.

“Kau tidak mau mengomeliku untuk tidak pergi ke klub? Atau menyuruhku berhenti membuat masalah? Atau berhenti membuat orang lain repot?”

Panjang pertanyaan Nari hanya dijawab oleh dua bahunya yang bergerak singkat. Nari terbahak –tak menggubris pandang orang-orang.

“Jae….” Ia membuat wajah malas-malasan, tidak peduli menampakkan keberatan akan selera humor Nari yang tidak masuk akal pikirnya. “Jae…. sini,” tangan Nari mengibas memerintahnya mendekat.

Terpaut satu langkah jarak mereka. Nari tersenyum lebar.

“Maaf, dan….” gadis di hadapannya itu berjinjit, “terimakasih,” Nari mengecup bibirnya singkat. “Kari? Call!” gadis itu berderap lebih dulu, menghampiri taksi yang baru saja berhenti menurunkan penumpang tak jauh dari mereka.

Ia masih berdiri diam. Berusaha memproses apa yang barusan berkilas. Uap pitamnya lenyap tak bersisa. Sebegitu mudah.

“Jae…. ayo! Kau mau kucium lagi?”

Ia mengernyit, menyeret kedua pergerakannya pada gadis yang tengah melambai di depan pintu penumpang. Haruskah ia menjawab ‘iya’?

=end=

jadi beginilah derita Jea abis jadian. Bukannya unyu-unyuan malah dibuat galau. Wkwkwk, kesian yak?

XO,

sky.l

picture: weheartit

Advertisements

2 Replies to “Call Me”

  1. LIA!

    INI
    SERIUS
    YA
    MANIS
    BANGET
    UH

    (menggelinding di dorm day6)

    sukak! banget! manis! gemes! pengen cubit dua cowok cewek ini rasanya (lirik jae-nari)

    nari tuh ya beneran deh ga bisa diem banget anaknya. trus juga seenak jidat banget ugh sukak. makanya lain kali hati2 biar ga sampe ketabrak lagi, plus kalo belum beli hape baru nanti hubungin jae lewat telpon wartel (lah jaman sekarang masa ada wartel tir) atau bawa kabur aja dompet junhyuk trus beli hape baru lagi deh wkwk

    trus itu waktu nari nyuruh jae deketin dia trus tiba2 di poppo duuuuh lucu banget li sumpah bikin gemes aja!! kakak yang baca aja kaget apalagi jae ya hahaha

    suka pokoknya suka! cepet2 bikin fic nari-jae lagi yaaaa

    Like

  2. YA TERUS AKU BISA APA CABE DIPENUHIN SAMA PASANGAN CIMIT INI ;_;

    AGH KESEL! Mau cerita mereka lagi plis liaaaa suka suka suka parah aku. Ya ini, Nari sableng juga sih, wong kalau ke klub minta temenin orang kek, kan ada pacar baru XD moso dianggurin aja, jadi pajangan. Mending kasih ke aku /halah/ /mati aja elu jen/ Tapi ini endingnya, aslknhdjhafkldjj cium cium cium cium lagi! Jae soks nich, tinggal ngomong iya aja susah, kapan lagi dapet ciuman Nari? Ntar kalau udah debut kamu mah dicium gawe mulu /lah/ /elu sewot dah/

    Bener kata kak yoo, cepet-cepet bikin cerita mereka lagi! ditunggu berat!!!!

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s