Last Turn

tumblr_mlv7zdorkw1r18q00o1_500

The Last Turn

The Ark’s HallaiKON’s Chanwoo

Genre: Horror, Thriller, AU || Lenght: Ficlet || Rating: PG-13

©KARASU

Credit Pict: tumblr

.

.

Ide uji nyali ini salah besar.

Harusnya aku tidak mengikuti omongan mereka datang ke rumah tak berpenghuni di pinggiran desa tempat kami tinggal. Aku menyesal ikut dalam ajang uji nyali bodoh ini. Jika aku tidak termakan ledekan mereka —yang menjadikanku bahan cemoohan karena jadi anak penakut— aku tidak perlu sampai terpisah dari rombongan dan terjebak di sini seorang diri.

Rumah ini sungguh luas, menyamai kastil bergaya eropa abad pertengahan. Punya berpetak-petak ruang dengan lorong yang nyaris mirip labirin. Awalnya kami berlima, masuk bersama ke dalam rumah tua yang terkenal angker ini. Orang bilang berhantu, karenanya tak ada satupun yang berani mendekat, apalagi melangkahkan kaki ke dalam. Letaknya jauh dari jangkauan penduduk desa, harus naik ke tengah bukit beberapa kilometer untuk sampai. Dengan bermodal ingin tahu yang tinggi khas anak muda, kami memberanikan diri untuk masuk. Tadinya kami menyusuri rumah ini bersama, sebelum akhirnya satu per satu dari kami terpisah secara misterius.

Mataku menebar pandang nyalang ke tiap sudut ruangan. Nihil, tak ada yang bisa tertangkap oleh pupilku. Sejauh mata memandang, hanya gelap yang kudapat. Dan di sini aku sekarang berada. Meringkuk sendirian di sebuah ruang hampa ditemani cicit tikus yang menggaung. Tangan dan kakiku diikat kuat. Mulutku disumpal tanpa belas kasih.

Kepalaku masih pening. Mungkin efek memar bekas hantaman tepat di sekitar tengkukku.

Aku ingat. Setelah terpisah tadi, ada seseorang yang memukulku dari belakang hingga hilang kesadaran. Mungkinkah itu hantu penghuni rumah tua ini? Tapi apakah hantu benar-benar bisa membuatmu jatuh pingsan?

Bulu kudukku meremang. Membayangkan setiap kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi padaku, rasanya membuat mual.

Aku ingin menangis, tak tahu apa yang harus kulakukan untuk bisa melarikan diri dari tempat ini. Aku juga tak tahu bagaimana kondisi teman-temanku yang lain. Apa mereka juga terjebak sendirian di suatu ruangan di ujung sana? Atau lebih buruk dari itu?

Suhu ruangan pun sama sekali tak bersahabat denganku. Dingin bak di kutub utara. Ditambah posisiku yang terbaring terikat di lantai tanpa alas. Lama-lama aku bisa mati kedinginan.

Demi Tuhan, aku ingin pulang. Tapi tak tahu cara keluar.

Decit pintu tertangkap gendang telingaku. Disusul bunyi tapak kaki yang kian jelas. Aku bisa melihat samar-samar bayang seseorang di tengah kegelapan, bergerak mendekatiku.

Jeritku tertahan. Dilanda ketakutan yang menekan.

Aku meronta —sekuat yang aku bisa meski dengan tangan dan kaki terikat— ketika jemari orang itu melingkari pundakku.

“Halla, ini aku,” ia mendesis.

Aku terdiam, berhenti menyerang. Kurasa aku mengenal suara ini.

Detik berikutnya, mulutku bebas dari kain penyumpal. Terbatuk begitu debu menyusup masuk ke kerongkongan. Lekas kuatur napasku, lalu bersuara kelewat lantang saking girangnya menyadari salah satu temanku berhasil menemukan keberadaanku di ruang antah berantah ini. “Chanwoo?!”

“Sst, pelankan suaramu,” balasnya, masih dengan volume suara yang ditekan seminimal mungkin. Ia sibuk melepas ikatanku, sesekali meringis karena eratnya lilitan tali yang membelengguku. Butuh hampir dua menit sekedar untuk melepasnya. “Kita harus segera pergi dari sini, tempat ini tidak aman.”

Chanwoo membantuku bangkit. Bisa kurasakan tanganku yang terasa dingin dalam genggamannya. Detik itu pula aku menyadari jikalau Chanwoo tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Sesuatu telah terjadi padanya.

“Kita harus segera keluar dari sini,” ucapnya gugup, sembari menarikku untuk lekas bergegas.

Aku pun menahan tangannya, memaksanya untuk berhenti mengayunkan tungkai kaki. “Bagaimana dengan yang lain?” desakku. “Kita harus mencari mereka dulu! Kita tidak bisa meninggalkan teman-teman kita—“

“Mereka sudah tewas!” sambar Chanwoo yang dengan cepat berbalik menghadapku dan mencengkeram kedua lenganku. Getir nampak jelas dari sorot matanya. Bahkan tangannya terasa gemetar saat menyentuhku.

“A—apa maksudmu?”

“Aku menemukan mereka sudah dalam kondisi tak bernyawa di ruangan lain sebelum aku berlari mencarimu. Kupikir kau juga tewas seperti mereka.”

“Tapi bagaimana bisa?”

Aku masih tercekat. Lidahku terasa kelu, dan pening di kepalaku semakin menjadi. Masih tak habis pikir pada apa yang baru saja kudengar. Jujur saja aku tak ingin percaya, berharap ia hanya melempar lelucon murahan, namun aku tak bisa menemukan kebohongan barang secuil pun di mata Chanwoo.

“Ada yang mengincar kita, Halla! Kita harus segera keluar dari sini atau nyawa kita jadi taruhan.”

Sekelebat bayang hitam dalam kejapan mata seolah menari di udara. Bersamaan dengan bunyi koyakan menjijikan, juga cairan pekat yang merembes dari balik kemeja milik Chanwoo. Tangannya yang semula meremas kuat lenganku kini mulai meregang kehilangan kuasa. Sebelum akhirnya ambruk mencium kerasnya petak-petak ubin, menimbulkan debuman mengerikan sebagai latar pelengkap.

Mataku nyalang menatap sosok tegap menjulang—dengan balutan serba hitam seakan menyatu dalam gelap yang menyelimuti— berdiri tepat di depan wajahku. Sorot bengisnya terpantul cahaya rembulan yang mengintip dari celah jendela, menyapaku dengan belati penuh noda merah yang seolah memamerkan seringaian lebarnya.

“Kau yang terakhir, Miss Halla.”

“AAAAAAAAARRRGGGHHHHH!”

.

.

fin

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s