Hangover

Im Nari (OC) – Park Jaehyung (DAY6)

..

..

sky.l

..

..

“Im Nari!”

Bruk.

Tahu-tahu onggok daging dengan rambut panjang tak karuan bak tiang tanpa pondasi terhuyung begitu pintu berayun terbuka. Bau pekat alkohol semerbak melingkupi tubuhnya. Membuat si pembuka pintu kaget lantas mengernyit.

Hyung, Nari!”

Wonpil menahan berat tubuh Nari, memegang kedua bahu gadis itu sembari mentolerir bau alkohol yang membuatnya merasa jengah. Terdengar derap kaki dari ruang tengah beserta riuh rendah.

Hebat, gadis satu ini selalu berhasil membuat sarang mereka seperti habis kejatuhan bom atom. Apalagi dengan kesadaran yang melayang ditelan berbotol-botol soju.

“Dowoon-ah, maaf, kupinjam tempat tidurmu malam ini,” Junhyuk melingkarkan lengan Nari pada bahunya. Wonpil membantu, melakukan hal yang sama.

Oppa, Junhyuk oppa. Waaa kau imut sekali,” racau tak jelas melengkapi kerepotan Junhyuk.

“Kau menyusahkan sekali. Kenapa kau jadi sepupuku sih?” Junhyuk merutuk, bukan hanya merasa keberatan dengan masa tubuh gadis yang ia bopong, tapi juga perangai tak tentu aturan dan kelakuan seenak hati yang bisa berganti arah lebih cepat dari kilat di tengah badai. Tanpa kabar tanpa peringatan tahu-tahu muncul meracau membuat keributan.

Oppa…. laki-laki brengsek itu… selingkuh,” sisi lengan yang bergelayut pada Wonpil ditarik mengungkung leher Junhyuk.

Kaus Junhyuk basah. Nari terisak.

“Ssshhh….”

Dowoon berdiri macam patung di ruang tengah, Wonpil menggaruk kepala. Tak ada yang paham harus melakukan apa jika bersangkut Im Nari. Bahkan Junhyuk yang mengenalnya dari masa mereka berlari kesana kemari dengan popok.

“Dowoon-ah kenapa—“ Jaehyung menggantung pertanyaan yang segera terpampang jawabannya.

Dowoon menoleh, mengendik bahu. Ia baru mengenal Nari beberapa bulan belakangan. Tak mengerti bahwa gadis itu datang tanpa permisi bahkan mabuk adalah sebuah tolerir normal.

“Maaf hyung,” tutur Junhyuk pelan, cukup untuk terdengar Jaehyung.

Jaehyung menghempas udara keras. Rutukan rusuh yang membuat hampir tidurnya gagal luntur.

“Tidur di kamarku saja. Dua jam lagi aku kembali ke studio,” ujar Jaehyung.

Kalau bukan karena lengan Nari di lehernya, Junhyuk sudah berlari memeluk Jaehyung penuh terima kasih.

Oppa…. aku….”

Bruk.

**

Kilas peristiwa yang terekam pada otak besarnya hanya botol berwarna hijau yang terus ia tuang kedalam gelas. Lalu kosong. Benar-benar kosong. Tangannya bergerak tak tentu, mencari benda tipis yang selalu ia kekang kemana saja. Namun benda itu entah dimana, tak berada dalam jarak jangkau. Sial, jangan-jangan semalam ia membuat masalah lagi.

Hyung, ponselmu ketinggalan.”

Suara nyaring dari luar kamar segera mengkonfirmasi dimana ia berada. Dorm Junhyuk. Tentu saja, hanya satu orang di dunia ini yang bisa seenaknya ia repotkan. Meskipun sesungguhnya terhitung enam kepala.

Matahari sudah nyalang melaksanakan tugas rupanya. Entah pukul berapa sekarang. Tak ada desing tangan-tangan waktu di kamar ini. Kamar? Kamar siapa ini?

Terakhir dalam ingatnya, Junhyuk tidak serapi ini. Aromanya asing namun manis, berbeda dengan kamar Junhyuk yang berbau seperti kaus kaki lembab. Ia berdiri, menyambar sebuah kemeja lengan panjang yang digantung di depan lemari. Gerah dengan baju yang ia pakai seharian kemarin. Tidak ambil pusing siapa pemilik pakaian tersebut.

Kenop pintu berputar lantas menguak ruang tengah dorm yang tampak sepi. Sepertinya orang-orang sudah berangkat, meneruskan hari kemarin dan bahkan selanjutnya berkutat dengan latihan dan studio.

“Kau sudah bangun?”

Sosok tinggi tidak lupa kacamata bulat yang bertengger di hidung muncul dari dapur, satu tangan terokupasi mug dengan uap mengepul.

“Kau mau sarapan? Yang lain sudah berangkat rekaman ke studio,” Jaehyung beralih duduk di sofa, meraih remote dan menyalakan layar datar.

Nari menggeleng, “Kau, kenapa kau tidak pergi?”

“Sebentar lagi aku kembali ke studio.”

Jaehyung tidak pernah keberatan, Nari tidak pernah berujar sopan dengan embel-embel formal padanya. Sementara Junhyuk akan segera mengomel jika mendengar.

“Kau tidak kerja?”

Nari ikut duduk di sofa, “Tidak. Aku berhenti.”

“Cuci mukamu sana. Kau tampak seperti habis makan berpuluh-puluh mie instan.”

Nari menyentuh wajahnya, tak ingat bahwa bagian tubuhnya itu membengkak hasil sesegukan semalam. Tunggu, kenapa pula ia membuang air mata semalam?

“Kau lihat ponselku?” Nari berdiri, mengedar tatap ke ruang tengah, mencari jejak benda pipih berwarna hitam miliknya tersebut.

Jaehyung menggeleng, “Mungkin Junhyuk menyitanya.”

Shit. That idiot,” Nari kembali menghempaskan diri ke sofa. Tentu saja, Junhyuk selalu menyembunyikan ponselnya tiap kali Nari muncul membuat ulah. Bahkan Junhyuk pernah benar-benar membuang ponselnya kapan waktu, karena Nari menghilang tanpa kabar selama hampir dua minggu penuh.

“Kau tidak tidur semalaman?” Nari melirik wajah Jaehyung, terpeta jelas lingkar hitam di bawah mata.

“Berkat seseorang yang mabuk tahu-tahu datang tengah malam dan memakai kamar bahkan kemejaku.”

Nari melirik baju yang tanpa izin ia klaim, “Sorry.”

It’s fine. Aku memang harus merekam beberapa track dengan Sungjin dan Brian.”

Dengung acara teleivisi mengusik hening yang memenuhi dorm.

“Kau putus lagi dengan batmu?” tanya Jaehyung mengusik sebab keriuhan semalam, diletakannya mug ke meja di samping sofa.

Nari menoleh. Begitukah? Semalam ia menangis karena hubungannya ‘putus’ lagi dengan bocah sialan itu? Kapasitas otaknya tidak lebih baik dari ikan mas bila alkohol merajai setiap sel otaknya.

“Sepertinya begitu,” Nari mengendik acuh. Tak bermemori malam sebelumnya setelah ia tumbang, terbangun lantas tergugu hingga tertidur kembali.

Jaehyung diam. Padahal jelas-jelas ia berusaha menelan segala hal yang ingin ia katakan pada Nari, kebanyakan cacian terhadap hubungannya dengan model laki-laki yang terus mengacaukan kelakuan Nari.

“Acara ini payah,” Nari menggeser posisi, meraih remote di tangan Jaehyung.

“Jangan,” Jaehyung menahan pergelangan Nari.

“Kau mau nonton ini?”

Jaehyung menggeleng. Bergulat dengan rentetan kata yang berlompat tanpa henti di dalam kepalanya. Menimbang perlukah verbalisasi berutara. Resiko Nari meledak seperti apa yang ia kenal membuatnya tak ingin bertindak. Tapi, ia tak tahan.

“Jangan kembali dengan laki-laki bodoh itu.”

Setiap gerak pada tubuh Nari tertunda. Kedua fokus pandangnya bertumbuk pada dua titik hitam di balik kacamata.

“Jae kau tahu, tidak ada laki-laki ta—“

“Ada aku.”

Kedua kata itu seperti bola yang dilempar telak tepat di wajahnya. Sakit. Terkejut. Nari tak tahu harus menyanggah dengan apa.

Stop it. Stop being drunk because of him,” Jaehyung menarik pergelangan Nari, memaksa gadis itu menerima mimik keras penuh determinasi terpampang.

Segala suara tersekat. Gadis itu tidak suka merasa ditampar untuk bangun dari mimpi yang ia ciptakan. Mimpi dimana ia bertahan disana karena segala hal terasa kosong tanpa arah. Berada di pinggir jurang membuatmu merasa lebih hidup ketimbang duduk diam di depan papan tulis.

I hate reality. It’s awful. I can’t,” susah payah Nari mendorong pengakuan yang ia simpan rapat-rapat.

Stay…” tangan Jaehyung menangkup kedua pipi Nari, “stay for me. Please.”

“Jae don’t.”

Aroma manis yang sama menggelitik hidungnya. Membawa sensasi menyenangkan. Bau kopi terkuar pekat dari napasnya.

Mungkin ia masih mabuk. Mungkin alkohol terlalu sarat dalam kepalanya. Nari mendekat, mengecap rasa kopi yang menempel di bibir Jaehyung. Mengusir dentum keras yang masih bergulung dalam kepalanya. Persetan dengan bocal sialan yang berkali-kali mengoyak mentalnya. Peduli neraka dengan keberatan Junhyuk yang segera bergumul dalam otaknya.

Mungkin ia bisa menciptakan mimpi lain. Mungkin ia bisa bermain aman dengan sedikit percikan api. Tak masalah. Bukan berarti ia bangun dari mimpinya. Tak harus kembali pada dunia nyata yang penuh perangkap tak kasat mata.

Ia bisa menciptakan mimpi lain. Mengalihkan candunya.

.

=end=

halooooo, ini karya pertama perkenalan saya.

Maaf kalo banyak kurang-kurangnya hehehe.

Semoga suka.

XO,

sky.l

day6

salam kenal juga dari anak-anak DAY6 😀

Advertisements

One Reply to “Hangover”

  1. SELAMAT DATANG LIA!!!!!! (tiup terompet) (nyalain kembang api) (lempar bunga bunga)

    fic pertama langsung disuguhin anak anak Day6 yang bentar lagi debut (dalam hati teriak AMIN) dan jaehyung sumpah ya disini minta ditarik ke KUA duh gentle banget

    trus juga suka sama wataknya nari deh hahahaha, emang paling suka sama tipe karakter cewek yang semau gue gini. nari nanti kapan kapan ayo ngopi bareng di pinggir jalan, lebih enak ngopi di pinggir jalan loh ayo nanti aku ajak pas malem minggu

    nari gercep banget langsung tium tium mas jaehyung uh tapi manis, udah nar kamu coba lupain yejun aja ya kan ada mas jae yang siap siaga di samping kamu cekimiw~

    OH! dowoon nya disini lucu wkwkw, ngebayangin dia plonga plongo macem bocah bloon waktu nari mendadak dateng kondisi setengah sadar bikin dorm heboh. nak, kayaknya kamu harus ngebiasain diri sama kondisi dadakan macem begitu

    terakhir, mau ngucapin lagi SELAMAT DATANG DI CHIBI CABE CARNIVAL BREEZE YAAAAAA!! 😀

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s