W I N D

W I N D (kimi mixapes album) ff cover

KIMI – UNDERCOVER RHYTHM 2

”    W   I    N   D    ”

..

“I hate it, destructing like a wild wind, blew me out of your mind”

..

Pemuda itu duduk di samping Kimi, memberikan sekaleng kopi hangat kepada si gadis. Yang diberi hanya bisa tersenyum lebar lalu menggenggam kaleng kopinya erat-erat, menghangatkan kedua telapak tangannya setelah nyaris membeku akibat udara dingin bulan desember yang nyaris mencapai -5 derajat celcius.

“Seperti biasanya, americano,” Kimi hanya tersenyum senang sambil memandangnya, mengucapkan ‘terima kasih’ tanpa suara, menyembulkan uap hangat dari katupan bibirnya.

Keduanya duduk disalah satu bangku taman kota yang terlihat lengang, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dimana kebanyakan orang Seoul akan mencari tempat hangat untuk bertemu ketimbang kedinginan di bangku taman. Kimi memilih untuk diam, mengusap-usap tangannya pada kaleng kopi americano, sesekali menyesap isinya untuk menghangatkan tubuh di tengah cuaca dingin dengan suhu nyaris 2 derajat celcius. Angin musim dingin berhembus dengan malas, memaksa Kimi bergidik kedinginan sambil memeluk erat jaketnya atau dia akan mendapat masalah kesehatan yang sangat serius.

Shit….” umpatnya dengan nada pelan saat angin dingin berhembus tepat di wajahnya, membuat lawan bicaranya tertawa pelan.

“Angin musim dingin terlalu menyebalkan ya?”

Pertanyaan itu membuat Kimi tersenyum, lalu menyandarkan kaleng berisi kopi hangat yang ia genggam di pangkuannya. Pemuda dengan masker hitam mengetahui perubahan perilaku lawan bicaranya, ia hanya terpaku lalu memandang lekat wajah oriental menawan milik Kimi. Detik berikutnya Kimi menaruh kaleng kopinya lalu memasang hoodie dan kaca mata lebar berbingkai hitam, keselamatannya adalah prioritas pertama ketimbang pertanyaan sang lawan bicara.

“Aku tidak suka dengan angin,” kalimat itu membuat lawan bicaranya tertarik, menantang untuk menanyakan apakah alasan dibaliknya.

Why?

“Saat ia tak punya masalah ia akan selalu tenang, menyenangkan dan bersahabat,” sedikit angin dingin berhembus, menerbangkan bulu-bulu hoodie biru tua milik Kimi, bergerak pelan, melambai-lambai dengan malas.

“Tapi saat ia marah, kau pasti tahu kalau ia tidak akan bisa dihentikan,” Kimi menatap sepasang mata pemuda itu, kemudian tersenyum kecil saat sadar pemuda sang lawan bicara menatapnya bingung.

“Hanya begitu?” hanya dua kata yang disambung dengan nada tanya.

Kimi mengangguk, kemudian membenarkan letak kacamata dengan punggung tangannya. Pipinya memerah seranum apel saat ia menepuk-nepuknya pelan–membeku akibat suhu musim dingin. Si pemuda buru-buru melepas syal miliknya, kemudian mengalungkan syal itu di sekeliling leher Kimi, berhasil mendapatkan pandangan heran Kimi yang sesekali membantunya mengalungkan syal wool berwarna hitam itu.

“Apa kau tidak kedinginan? Udara dingin tidak baik untuk pernafasan,” pertanyaan plus nasehat itu hanya di tanggapi dengan tawa kecil.

Oh, tenang lah, aku punya syal lain di tas,” jawabnya santai, kemudian mengambil syal hitam lainnya dari dalam tas kulit coklat tua bawaanya.

Kimi tersenyum saat melihat pemuda itu memasang syalnya, terkadang pemuda di sampingnya begitu baik dan menyenangkan dan sungguh, betapa Kimi sangat mengaguminya sejak duduk dibangku SMA dulu.

“Apa besok jadwalmu kosong?” pertanyaan itu dijawab dengan anggukan pelan Kimi yang sedang meneguk cairan hangat berbau khas dari kaleng minumannya, “Benar-benar kosong,” imbuh Kimi.

Pemuda itu terkekeh, “Mau ikut denganku ke studio? Aku akan buat mixtape.”

Tanpa berfikir dua kali Kimi mengangguk antusias, “Eoh, Poptime Hyung sudah memintaku untuk datang dan aku sudah berfikir untuk datang,” jelas Kimi.

Jeda sebentar karena masing-masing dari mereka bingung untuk kembali memulai percakapan. Lagi-lagi angin dingin membeku berhembus kencang membuat Kimi bergidik kedinginan dan segera meringkuk, “Lain kali jangan ajak aku bertemu di taman untuk kencan buta.”

Tawa terdengar dari pemuda di sampingnya, “Maaf aku tidak punya cukup uang untuk mengajakmu bertemu di tempat yang lebih hangat.”

“Kau benar-benar pengemis… persis seperti kata BBCs,” ejek Kimi dengan nada sinis, kedua tangannya sudah gemetaran luar biasa sekarang, tak lama ‘si pengemis’ menggapai kedua tangan Kimi dan menggenggamnya erat-erat tanpa sepatah katapun.

Kimi memandangnya dalam diam, tak mampu berkata-kata, hanya sanggup tersenyum mengingat betapa ia menyukai kedua tangan milik lelaki dengan segudang kemampuan itu.

“Kau benar-benar sangat susah untuk ditebak, Woo Ji Ho.”

Dan Ji Ho hanya menyeringai.

Not Ji Ho but Zi-a-Co!

..

End.

..

all.want.candy © 2015

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s