[花樣年華 Series] 1st. Intro: Blooming Youth

화양연화

花樣年華

pt.1

..

Lyra x Reunion

all.want.candy © 2015

..

..

“Am I happy right now?

That answer is already fixed, I’m happy”

..

 Langkah kakinya terkesan malas untuk digerakkan, namun janjinya dengan seseorang jauh lebih penting dari logikanya yang berkata Jangan’. Dua ujung bibirnya turun tak menyenangkan, tapi secepat mungkin kembali naik saat sepasang netranya menemukan seseorang yang dicarinya.

“Chae-ya!”

Gadis berambut coklat muda yang dipanggilnya menengadah mencari asal suara sebelum mengulum senyum senang, “Imo!!”

Baru kali itu dalam kehidupannya, sebuah panggilan atas dirinya meninggalkan kesan bahagia yang meluap-luap. Langkah Stef bergegas mendekati Chae Ra, tanpa sedikitpun melunturkan senyum yang semenjak tadi singgah dengan jujur di garis bibirnya.

“Apa kabarmu, Chae-ya? Kau semakin kurus saja,” acakan lembut pada rambut miliknya memaksa Chae Ra melepaskan tangan nakal Stef yang sedari tadi sibuk mengacak rambutnya yang setengah awut-awutan.

“Imo! Aku tidak kurus! Matamu saja yang rusak,” terbiasa, Stef tidak pernah mengganggap semua kata-kata Chae Ra adalah tindakan menghina, yah setidaknya ia sudah kebal—karena gadis itu belum ada apa-apanya dibanding—kau tahu siapa.

Heol! Mataku tidak rusak, karena aku masih melihat Min Chae Ra yang manis seperti dulu, hahaha!!” Chae Ra setengah jijik mendengar kalimat Stef yang terkesan murahan namun ia tak memungkiri ada sejumput perasaan senang saat melihat tawa sang Imo.

“Kau menggelikan Imo, jangan buat aku membenci mulutmu sekarang,” Stef masih tertawa lalu mengangguk paham dengan senyum lain yang ia kulum.

“Ayo! Kau sudah lapar kan?” pertanyaan Stef dijawab lontaran gestur ‘tidak’ dari Chae Ra, ia tak memberi kata sebelum akhirnya mengucapkan jawaban menit berikutnya.

“Tunggu, aku harus minta ijin dulu pada Yoon Gi Oppa,” Chae Ra membalik badannya namun saat akan melangkah, ia sadar lawan bicaranya tak serta merta ikut berjalan bersamanya, “Apa Imo tidak bertemu Oppa?”

Tanpa menunggu, sebuah senyum dan anggukan menjawab pertanyaan milik Chae Ra, “Oh ya, baiklah.”

Chae Ra tahu benar ia tidak dihadapan dengan senyum tulus Imo-nya. Min Chae Ra tahu benar, di balik senyum milik Stefanie Han masih tersisa luka dalam yang membekas belum sedikitpun mengering—karena gadis itu paham benar, obat yang dicari Imo-nya juga adalah racun yang memberinya luka.

..

Kantor utama Big Hit memang tak sebesar agensi entertaimen lain, namun telah lebih dari cukup untuk menjadi ruang bermain, rumah, apartemen, dan tempat pelarian milik Min Chae Ra. Chae Ra tahu benar tiap lekuk ruangnya, bahkan ia tahu benar dimanakah ia bisa menemukan orang yang ia butuhkan—walaupun Stef juga mengetahui hal yang sama—khusus untuk satu orang.

Dahulu.

“OPPA!!!”

Gedoran tak pelan milik Chae Ra lantas saja mendapat jeritan marah pemilik ruangan—Min Yoon Gi. Lantas pintu terbuka lebar diiringi dengan erangan marah milik Yoon Gi, “Kenapa kau menggangguku, Hah?”

Pemuda berkulit pucat itu tak sadar dengan siapa ia bicara—lebih tepatnya tak sadar dengan siapa yang ada di hadapannya. Nyaris saja Yoon Gi menahan napasnya saat menangkap wajah Stef yang tepat berada di hadapannya, ia bahkan melupakan detail keberadaan Chae Ra yang ada di balik punggung milik Stef.

“Na Young…?” lirih karena ditemani ketidak-percayaan.

“Hai, kurasa gadis kecil ini ingin bicara padamu secepatnya,” ada senyum disana, tapi terlalu dingin dan tak ditemani perasaan, nadanya pun menakutkan—tak sedikitpun sama dengan pemilik nama Han Na Young yang dulu.

Dengan sebuah tenaga lebih Stef berhasil menarik lengan Chae Ra dan memaksanya bertemu pandang dengan sang kakak, “Oppa…”

Dalam hitungan detik Chae Ra telah ditarik ke dalam ruangan, disudutkan pada satu sisi meja komputer dalam studio mungil kantor utama Min Yoon Gi–siap diinterogasi tentang hubungannya dengan eksistensi sesosok gadis lain yang kini menunggu dengan sabar di depan ruangan studio yang pintunya tertutup rapat.

“Apa yang Na Young lakukan disini?”

Nadanya tajam, nyaris membuat Chae Ra bergidik takut sebelum akhirnya ia memberikan jawaban singkat, “Kami akan pergi jalan-jalan.”

“Lalu kenapa dia ada di depan ruanganku?” raut wajah Yoon Gi tak bisa dibilang tenang, tidak datar seperti biasa atau tampak tak mau tahu, kali ini ada sedikit rasa panik, takut, marah, dan yang samar terlihat–bahagia.

“Kenapa sih? Bukannya Oppa itu kekasihnya? Kenapa harus marah padaku?!” pertanyaan atas pertanyaan Yoon Gi terdengar begitu sengit, hanya saja kali ini Yoon Gi tak bisa menjawab, terdiam dengan seabrek kalimat yang menunggu untuk dilontarkan–sayangnya untuk kali ini ia tak bisa menyebutkan semuanya.

Oppa kenapa sih? Sudah ya aku pergi dulu,” langkah kaki Chae Ra menjauhi abangnya, menuju pintu sebelum akhirnya sebuah pukulan pelan menghentikan tangannya untuk memutar gagang pintu.

“AAAHH!!! OPPA!!” erangan sakit itu terdengar menggelegar dalam ruang studio, alih-alih memberi serangan balasan, Chae Ra lebih memilih membuka pintu lalu merengek pada Stef yang masih menunggu di depan pintu.

IMO!! OPPA MEMUKULKU!!” sontak saja Stef terkejut bukan main begitu melihat Chae Ra yang melompat ke arahnya sambil mengelus-elus kepalanya sendiri–berusaha mengurangi sakit.

Stef tak memberikan balasan apapun atas rengekan milik Chae Ra, ia bahkan tak berusaha untuk menenangkan gadis itu, hanya ada sebuah senyum yang mengantung di ujung bibirnya.

“Lihat saja nanti Oppa!!” ancaman milik Chae Ra hanya ditanggapi dingin oleh Yoon Gi yang sejak peristiwa pemukulan telah duduk manis dikursinya, menghadap layar komputer–kembali bekerja.

“Ya, terserah dirimu, tutup pintunya jika kau pergi.”

Kedua pipi Chae Ra menggembung penuh kesal, namun ia memilih untuk menutup mulut dan berusaha tak menghilangkan mood bahagia hari itu.

“Maaf ya, Chae Ra,” terkejut, Chae Ra mengalihkan padangannya pada Stef, sebelum akhirnya menggeleng.

Imo, kau tidak ingin menceramahi Oppa dulu?”

Baik Stef maupun Yoon Gi tak mengira pertanyaan itu keluar tanpa restriksi dari bibir milik Chae Ra. Otomatis Yoon Gi memutar kursinya menghadap Chae Ra dan Stef yang berdiri di ambang pintu.

Tak ingin mendapat reaksi yang tidak menyenangkan dari kebodohannya beberapa waktu yang lalu, dengan sangat terpaksa Stef memalingkan wajah ke arah Yoon Gi, lalu mempraktikkan pelajaran akting yang dulu sempa diambilnya, “Apa kau bahagia Min Yoon Gi?”

Pertanyaan tanpa jawaban yang bahkan tak akan pernah bisa terjawab oleh mereka berdua sekalipun.

“Ya… Aku bahagia,” singkat tanpa banyak tutur lain, Yoon Gi tak berpaling hingga pada akhirnya Stef sendiri yang memutuskan kontak mata mereka.

“Baiklah, ayo kita pergi!” ajakan penuh nada riang itu nyaris memaksa, terutama dengan gestur tiba-tiba dari Stef yang menarik perlahan tangan Chae Ra agar gadis itu bergerak dari ambang pintu, lalu menutup pintu dengan tidak pelan.

Meninggalkan Min Yoon Gi kembali dalam kesunyian yang beberapa waktu ini menjadi teman baiknya.

“Apa kau bahagia, Han Na Young?”

..

END.

..

All.Want.Candy © 2015

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s