Heartache

Heartache

Kaede Miho Gyu Shin

Genre: Angst; Lenght: Ficlet

Shin’s story Good Goodbye

©2015

KARASU

.

You and all the regret

The more I couldn’t understand them, the more I couldn’t get away

This moments painful, it’s painful, I want to forget you at once

Heartache — One Ok Rock”

.

Lorong itu begitu gelap dan dingin. Miho merasakan kakinya membeku di tempatnya berpijak. Gemetar menahan takut. Mengurungkan niatnya untuk masuk lebih dalam, meski awalnya ia berniat untuk mengunjungi seseorang yang meringkuk dalam penjara bawah tanah, tempat untuk menahan target atau pengikut klan yang membelot sebelum dijatuhi hukuman.

Untuk sepersekian detik, gaung pekikan terdengar di sepanjang lorong tahanan. Tak ayal membuat bulu kuduk Miho meremang.

Jerit kesakitan mulai meredup, digantikan kesunyian yang menusuk. Dan tapak kaki seseorang sayup-sayup terdengar semakin dekat. Miho menahan napas, sementara tungkai kakinya bergerak mundur perlahan. Sempat terlintas pikiran bahwa hidupnya akan segera berakhir tepat ketika penyusup itu menampakkan wajah.

Namun, kali ini ia salah. Tak ada penyusup yang datang. Melainkan pemuda yang awalnya hendak ia temui. Yang kini berjalan semakin dekat ke arahnya dan berhenti tepat di hadapannya dengan sebuah samurai berlumur darah dalam genggaman.

Miho tercekat. Sekarang ia bisa menebak apa yang tengah terjadi. Jeritan tadi, pedang bermandikan darah, dan pemuda itu.

“S—Shin?”

Penjara bawah tanah ini dijaga oleh beberapa pengikut klan dengan jumlah yang tidak sedikit. Tidak ada orang yang bisa dengan mudah melarikan diri atau keluar masuk dengan mudah karena adanya penjagaan yang ketat, kecuali jika orang itu benar-benar memiliki kemampuan menyusup yang hebat. Atau jika orang itu mampu menghabisi nyawa barisan penjaga bersenjata.

Dan Shin nampaknya berhasil melakukannya.

“Menyingkirlah,” ujar Shin membuka suara, sementara iris pekatnya terarah lurus pada gadis di depannya.

“Ti—tidak akan! Aku tahu apa yang ingin kau lakukan, tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi!”

Dua tangan kurusnya terentang membentuk garis penghalang. Meski sebenarnya ia pun tahu, ini bukanlah apa-apa bagi Shin. Pemuda itu bisa saja mengayunkan pedangnya hingga kedua lengannya terputus dari badan bila perlu.

Persetan dengan semuanya. Miho tidak peduli jika Shin akan menjadikannya korban berikutnya. Yang ia pikirkan hanyalah untuk menghalangi pemuda itu pergi dari tempat ini selagi ia mampu. Miho bisa menebak apa yang sekarang ada dalam pikiran Shin. Tentang tekad balas dendam layaknya kobaran api neraka yang terus ia pendam seorang diri sekian lama.

“Menyingkirlah, atau aku akan membunuhmu.”

“Tidak! Kumohon pikirkan lagi tentang keputusanmu ini, Shin! Jika kau kabur dari sini, kau tahu apa resiko yang akan kau terima, kan?! Jadi kumohon, menyerahlah pada dendammu dan ikuti apa kata Oyabun. Jika kau menjalani hukumanmu sedikit lagi, aku yakin —aku yakin Oyabun akan segera membebaskanmu dari sini!”

“Kau sama sekali tidak tahu apa-apa soal orang tua itu. Dia hanya akan membiarkanku membusuk di tempat ini.”

“Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Aku berjanji akan melindungimu tapi kumohon —kumohon jangan membuat masalah lebih dari ini,” Miho nyaris menjerit. Terlampau sesak menahan tangis yang mendesak keluar. Berpura-pura meyakini diri bahwa Oyabun akan mengampuni perbuatan Shin —yang sebelumnya telah membantai sebagian dari pengikut klan dan nyaris membunuh Oyabun— meski itu hanyalah angan belaka yang terlalu sulit terwujud.

Mungkin apa yang dikatakan Shin ada benarnya, tetapi melarikan diri bukanlah keputusan yang tepat melainkan hanya menciptakan masalah baru. Dengan kabur dari tempat ini, sama saja merelakan diri menjadi buronan utama klan yang harus dihukum mati, sekalipun darah daging sang pemimpin.

“Daripada berusaha melindungiku, cobalah untuk melindungi dirimu sendiri.”

Sudut-sudut bibir Shin tertarik melebar, bukan sebuah seringai jahat melainkan senyuman hangat. Satu hal yang sudah sekian lama tidak pernah ditunjukkannya lagi pada siapapun setelah kematian sang ibu.

Seolah ingin mengakhiri obrolan ini, Shin pun bergerak maju. Pedang di tangannya terayun perlahan, memperlihatkan taringnya di tengah kegelapan. Dan sebelum Miho sempat memberi perlawanan, ujung runcing samurai berhasil menembus rongga perutnya.

Hal terakhir yang diingatnya hanyalah iris pekat milik si pemuda yang berpancar sendu di balik kegelapan.

*

—Seoul, 2015.

Miho memeluk bantal dalam dekapan, begitu erat. Dalam ruang petak segiempat itu, dan dalam kesunyian malam, ia menahan deru tangisnya. Rasanya terlampau sesak, seperti tak bisa bernafas. Seolah oksigen menghilang dari dunia ini dalam sekejap mata.

Kenangan itu kembali menyapa malamnya. Seperti sebuah balok kayu berukuran ribuan kilo yang meluncur tepat ke dada dan menciptakan rasa sakit tanpa ujung.

Musim-musim terus bergantian, tahun demi tahun pun telah bergulir. Tapi rasa sakit itu masih terasa nyata. Tak ada obat yang mampu menyembuhkannya, bahkan untuk jangka waktu sesingkat apapun. Sakit itu semakin memilukan, menorehkan goresan luka lebih dalam hingga ke ulu hati. Mungkin memang benar, lukanya ini tidak akan pernah bisa disembuhkan.

Bodoh!

Miho merutuk diri. Setelah sekian lama waktu berlalu, ia yang dulu dan sekarang tak ada perbedaan. Ia masih sama. Masih terlalu naif untuk melenyapkan semua perasaannya pada orang itu. Bahkan setelah semua yang sudah ia lakukan padanya.

Dirinya yang bodoh ini masih terjebak dalam untaian masa lalu. Mendekam terlalu lama dalam memori pahit, membiarkan dirinya sendiri disiksa rasa perih dan pilu.

“Untuk menjadi kuat, seseorang harus membuang semua perasaan yang membuatnya lemah. Dengan cara itu, aku akan mengakui keberadaanmu.”
“Membunuh orang itu adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.”
“Kau harus jadi kuat, Miho.”

Semua perkataan itu bergantian menggaung dalam benak Miho. Berteriak seakan tak mau dihiraukan, ingin diperhatikan dan menuntut untuk dilakukan. Desakan untuk berubah. Melupakan masa lalu, meninggalkannya jauh di belakang. Terdengar sederhana memang, meski tak sesederhana yang dibayangkan. Atau mungkin, dirinya-lah yang terlampau lemah, tidak mampu menghapus bayang pemuda itu dari hidupnya.

Matanya tertumbuk pada bayang wajahnya yang terpantul di kaca jendela kamar. Tampak begitu lemah, dan menyedihkan.

“Aku membencimu, Miho.”

/fin.

Ehem, mic check 1 2 3! Halo!!!

Oke, ga perlu terlalu panjang karena fic ini juga ga terlalu panjang haha, disini saya cuma ingin menulis sedikit masa lalu antara Miho dan Shin dan tentang perasaan mereka yang disembunyikan jauuuuh di lubuk hati terdalam (HALAH AUTHOR LEBAY). Jadi beginilah sudut pandang dari si Miho sendiri, dan untuk sudut pandang Shin bisa dibaca di Good Goodbye. Dua ficlet ini sebagai hadiah atau bisa dibilang sedikit spam sebelum saya hiatus hehe. Terimakasih sudah membaca!

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s