Good Goodbye

Good Goodbye

Gyu Shin Kaede Miho

Genre: Angst; Lenght: Ficlet

Miho’s story Heartache

©2015

KARASU

.

Little time not a moment wasted with you

I realized to stay

We had to break away

Good Goodbye — One Ok Rock”

.

“Di sini kau rupanya!”

Gadis bermata cokelat tembaga itu berlari kecil-kecil ke arah Shin. Tentu saja dengan segurat senyum manis di parasnya. Satu-satunya anak periang yang seolah tak memikul beban di pundaknya, di tengah kumpulan kriminal.

Kaede Miho. Gadis misterius tanpa latar belakang jelas yang dulu sempat ditemukan tanpa sengaja di tengah hutan dekat kediaman Gyu. Sadar dari tidur panjangnya tanpa ingatan yang berarti, pada akhirnya ibu Shin memohon pada Oyabun untuk memberinya izin merawat gadis asing itu dan menjadi bagian dari klan.

Tanpa sungkan, Miho duduk di samping Shin. Sudah cukup lama Shin menghabiskan waktu menyendiri di padang rumput, menghadap bentangan cakrawala dan lereng terjal jurang. Untuk sampai ke tempat ini memakan waktu cukup lama, pun harus melewati hutan pedalaman terlebih dahulu. Shin dibuat terkejut saat mendapati gadis itu menghampirinya di tempat persembunyian kecilnya.

“Ada tempat sebagus ini tapi kau tidak memberitahuku,” gerutu Miho, bibir mungilnya mengerucut. “Kau ini memang jahat sekali.”

Tapi Shin tidak berminat untuk masuk dalam candaannya. Pemuda itu lebih memilih mengunci bibirnya dan tak mengalihkan pandangan. Agaknya, ia terganggu dengan kedatangan gadis itu.

“Tadinya aku ingin mengajakmu kembali pulang, Paman Hiruma memasak sukiyaki1 makanan kesukaanmu!” Miho terus berceloteh tanpa jeda, tak terlalu memperhatikan Shin yang diam tanpa minat untuk mendengarkan. “Tapi tempat ini indah sekali, aku jadi ingin menikmati waktu sejenak.”

Miho merentangkan kedua lengan tangannya tinggi-tinggi, sementara matanya dibiarkan terkatup. Dihirupnya udara segar bercampur aroma rumput hingga memenuhi rongga dada. Merasa seakan dirinya tengah berada di surga dunia.

“Woaah! Udaranya segar sekali!” seru Miho penuh riang, kontras dengan Shin yang masih duduk selayaknya patung es. “Lain kali ajak aku kalau kau ingin kemari, pemandangan seperti ini lebih enak dinikmati bersama.”

Miho langsung menghentikan celotehannya tepat ketika Shin tiba-tiba bangkit dari duduknya.

“Eh? Sudah mau pulang?“

“Pulanglah sendiri.”

“Kau sendiri mau kemana?

“Bukan urusanmu.”

“Shin?”

“Sudah berapa kali kubilang, jangan mengikutiku lagi, kau hanya menggangguku.”

Punggung Shin berbalik membelakangi Miho, bersiap untuk mengayunkan tungkai kakinya ke arah berlawanan. Bersiap untuk menjauh sekali lagi. Sementara Miho menatap nanar punggung Shin yang begitu dingin dan sepi.

“Kau ini benar-benar egois, ya?”

Langkah Shin terhenti saat kata-kata itu terucap dari bibir gadis yang masih berdiri mematung di belakangnya.

“Kau sangat egois, terus memendam kesedihanmu seorang diri tanpa mau berbagi dengan siapapun.”

Ucapan Miho terdengar begitu menusuk, sama seperti bongkahan es yang menghujam sekujur tubuh hingga ke dalam jantungnya.

“Berhentilah membiarkan dirimu tenggelam dalam kesepian, itu hanya akan membuatmu semakin terluka, Shin. Coba buka matamu dan lihat ke belakang, masih ada seseorang yang berdiri untukmu di sini. Kau tidak sendirian, jadi berbagilah denganku.”

Shin mengatup rahangnya kuat-kuat. Dua kepalan tersembunyi di sisi kanan dan kiri. Kebenaran yang keluar satu per satu dari mulut gadis itu seperti ribuan panah yang menyerbu seluruh inci tubuhnya. Kesepian, satu hal yang menyelimuti jiwanya untuk sekian lama. Semenjak ibunya dirampas dari sisinya, ia lupa bagaimana cara tersenyum pada dunia. Kebahagiannya telah direnggut, menyisakannya seorang diri. Berkawan dengan sepi, di tengah kehidupan yang menyedihkan ini.

Dan gadis itu berulang kali mencoba mengulurkan tangan padanya. Menawarkan persahabatan dan kehangatan. Hal yang bertolak belakang dengan jalan yang ia tuju sekarang. Dendam dan ambisi.

Mungkin benar, ia terlanjur hanyut terlalu dalam di jurang kesepian. Tak ada cahaya di dunianya yang sekarang. Yang ada hanyalah kegelapan, juga kebencian. Terkurung dan hidup di dalamnya seorang diri.

“Tidak ada yang perlu kubagi denganmu, atau dengan siapapun.”

*

—Seoul, 2015.

Kakinya terus melangkah di tengah lautan orang yang berlalu lalang. Gemerlap Seoul di malam hari tak membuatnya berminat untuk menyapukan pandang ke sekeliling kota. Matanya terarah lurus ke depan. Tatapan dingin yang tak pernah lenyap dari paras tampannya.

Meski sedikit rasa hangat tiba-tiba menyerbu relung hatinya, ketika kenangan itu menyeruak ke dalam ingatan.

Dua tahun sudah termakan putaran waktu, tapi bayang wajah gadis itu tak pernah luntur dari memori otaknya. Pun setiap kata yang terucap dari bibir si gadis, yang —meski amat kecil pengaruhnya— sempat memberi cahaya di tengah gelap yang menyelimuti.

Terakhir kali Shin berjumpa dengan gadis itu, saat ia mencoba kabur dari sarang klan Gyu. Memisahkan diri dan menjadi pengkhianat klan dengan membunuh sebagian besar pengikutnya. Shin juga ingat, ketika gadis itu berusaha menghalanginya pergi. Berkata ingin melindunginya tanpa berkaca pada kemampuan diri. Dengan mudah Shin menghujam perut Miho dengan pedang yang sebelumnya ia pakai untuk membunuh para penjaga.

Miho masih hidup. Satu hal yang diyakini Shin sebelum ia benar-benar meninggalkan klan Gyu. Shin sengaja tidak menusuknya di bagian vital, sekedar untuk menghilangkan kesadaran Miho tanpa berniat melenyapkan nyawanya.

Mengingat peristiwa dua tahun lalu, menyadarkan Shin pada sisi dirinya yang lemah. Bukankah ia benar-benar bodoh? Membiarkan gadis itu hidup, sementara dengan gampangnya menghabisi nyawa orang lain.

Tidak. Ia harus berhenti mengenang gadis itu dan setiap kata yang pernah diucapkan. Berhenti memikirkan hal yang hanya membuatnya melemah.

Shin hanya perlu berjalan di sepanjang jembatan kebencian, tanpa menoleh ke belakang. Ia tak butuh apapun, atau siapapun. Yang ia perlu hanyalah pembalasan dendam atas kematian sang ibu. Tak lebih dari itu.

/fin.

1) Makanan khas jepang dengan irisan tipis daging sapi, sayur-sayuran, dan tahu di dalam panci besi yang dimasak di atas meja makan dengan cara direbus.

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s