Nightmare cure

NIGHTMARE cure

..

Stefanie Han x Nightmare

all.want.candy © 2015

..

Stefanie Han lost her Nightmare cure

..

..

Stefanie… where are you little bitch?

Suara serak dengan nada kekanakan yang terdengar jelas dari ruang tengah hingga kamar tidur–lemari lebih tepatnya. Langkah kaki yang juga tak berhenti, selayaknya nafasnya yang terus terpacu tapi tak berani menggema–tak ingin diketahui dimana ia berada. Dari sela-sela lubang lemari ia memandang tanpa jemu pintu kamarnya, memastikan pemilik suara mengerikan bernama Will–kakak laki-lakinya–tak memasuki kamarnya.

Bukan, iblis itu bukan kakaknya.

Mana ada kakak laki-laki yang ingin menodai adik kandungnya sendiri?

Bukankah kakak laki-laki lahir lebih dulu untuk melindungi adiknya?

Entahlah.

Where are you darling? Come on meet your lovely brother now!” kekehan yang terdengar mengerikan, semakin keras hingga terasa hanya berjarak beberapa jengkal dari tempat persembunyian milik Stefanie.

Tubuhnya seketika bergetar ketakutan, keringat dingin mulai mengalir deras, detak jantungnya tak karuan–dan semua itu makin menjadi saat engsel pintu kamar miliknya berderit dan langkah milik orang itu memasuki kamarnya.

“Ste-faaa-nie… hahaha,” lagi-lagi ia memanggil seakan ingin bermain-main, seakan mengajak gadis mungil yang kini meringkuk ketakutan dalam lemari itu untuk bermain dengannya.

Dapat dilihatnya sepasang kaki milik iblis itu berjalan perlahan. Yang memiliki persembunyian tak ingin sedikitpun ketahuan, tangannya makin kuat membungkam mulutnya sendiri, tak ingin pula desah nafasnya terdengar. Langkah kaki Will mulai menjauh dari pandangan Stef, menuju salah satu sisi lain kamarnya. Tekad mulai membakarnya lalu memaksa tubuhnya untuk memilih, ia berusaha bernafas setenang mungkin, lalu bergerak perlahan untuk menangkap bayangan pemuda yang kini membuka pintu kamar mandinya.

Dalam satu tarikan nafas ia berusaha menguatkan hati.

1… 2… 3…

BRAK

Dengan sebuah langkah cepat ia berlari untuk nyawanya, menimbulkan suara gaduh saat berusaha meninggalkan kamar tidurnya dan berlari cepat menuju ruang tengah, tak mengindahkan tawa keras Will yang masih memanggil namanya. Lebih baik mati ketimbang harus bertemu iblis itu.

Namun Tuhan menyukai skenario penuh drama.

Stef yang bahkan tak sadar kemana ia berlari, menginjak skenario drama milik ilahi. Lantai yang basah membuatnya seketika terhuyung jatuh, terpeleset tak terkira dan jatuh menabrak lantai, nyeri menyerang seluruh tubunya, tapi membakar pergelangan kaki miliknya yang membawanya kabur.

No… please no…” keringat dingin mulai kembali membanjiri tubuhnya terutama saat siulan dan suara langkah kaki milik Will mendekat.

Stef sadar sesuatu yang aneh mengotori lantai, substansi yang sama yang membuatnya jatuh terpeleset.

“UGH!!” rasa mual menggerayangi perutnya saat melihat cairan putih bening menempel di sebagian kakinya, semua itu milik Will dan mungkin milik pelacur lain yang mengotori lantai marmer apartemen keluarga mereka.

Susah payah ia berusaha berdiri, tak mengindahkan cairan apapun itu yang mengotori kakinya, memaksa kaki kecilnya berjalan tertatih menuju pintu keluar terdekat.

Namun ia terlambat.

Sangat terlambat.

“STEFANIE!!” nada riang Will terdengar mendekat dengan cepat, hingga sepasang tangan pemuda itu menariknya kembali ke kegelapan, membantingnya ke sofa terdekat hanya untuk memaksa gadis mungil–adiknya–menuruti nafsunya.

NO!! LET ME GO!! NOO!!” tinju demi tinju melayang memukul tubuh atas Will yang polos tanpa apapun, air mata tangis mulai deras berjatuhan, namun iblis itu menyukainya.

Menyukai bagaimana adiknya tak berdaya di bawah tubuhnya.

Shh.. Don’t worry dear, I will treat you well,” kekuatan milik pemuda itu jauh lebih besar dari milik Stef, dengan mudah ia memaksa Stef menyerah–kelelahan–memegang kedua tangan kecil Stefanie muda dengan tangannya, sedangkan bibir milknya menyentuh kulit sang tawanan.

WILL!!! I Beg you.. please stop!!” gadis itu tak ingin menyerah, tapi ia telah kalah, ia telah tertawan, air mata terus mengalir dan tubuhnya bergerak liar–jijik dengan semua perlakuan penjahat itu.

Yes, I’ll make you beg for me, Stefanie.”

Dan pertahanan terakhir gadis itu mulai menghilang satu demi satu helai.

Ia masih melawan, berteriak, memaksa pemuda itu berhenti.

Namun ia sudah terlambat.

Hingga jeritan pilu terakhirnya terdengar menyayat.

“AAAAAAHH!!!”

..

“AAAAAAHH!!!”

Ia terbangun, dengan degup jantung kencang, sepasang mata yang melotot, tubuh yang gemetaran, keringat dingin yang membanjiri tiap inci kulit pucatnya, lalu trauma yang menghantui setiap jengkal tubuhnya.

Mimpi buruk dari trauma itu terus menghantuinya, nyaris 7 tahun hingga sekarang. Tak ada yang bisa mengobatinya, bahkan pil dari dokter jiwa yang merawatnya tak pernah manjur untuk menghapus semua memori mengerikan itu. Hanya satu obat yang bisa membuatnya sejenak melupakan mimpi buruknya, melupakan semua yang melukainya, yang menorehkan luka dalam memori yang terpatri kuat pada jiwanya.

Dengan jari bergetaran ia meraba nakas, tak peduli beberapa barang kecil terjatuh dan menimbulkan suara nyaring yang menggema dalam kegelapan kamar miliknya. Dengan cepat meraih ponselnya kemudian mengenggam benda metalik itu kuat-kuat. mengetik sesuatu di ponselnya, mencari obatnya

To: Yoon Gi Min

Save me, please…

Dan ketika pesan itu terkirim, ponsel itu jatuh tanpa daya, mengikuti gravitasi.

Meninggalkan gadis itu kembali ke dalam kegelapan.

..

“SIAL!”

Dengan tergesa-gesa, sesosok pemuda berkulit pucat berpakaian baju hitam-hitam berjalan menyusuri lorong apartemen milik Stef. Sorot matanya sangat khawatir, seakan sedang di kejar kematian. Panik, Yoon Gi menekan tombol pengunci pintu, memasukkan beberapa digit angka yang dikenalnya dengan sangat baik. Tanda lampu hijau dan melodi kecil terdengar, membuatnya bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam apartemen. Semua lampu telah mati, hanya lampu meja yang memang dibiarkan sengaja menyala setiap malamnya, aroma kesunyian menyengat, tapi Yoon Gi tak mengindahkanya. Langkahnya bergegas menuju kamar tidur utama, ia tahu benar dimana gadis itu berada.

Tanpa harus berfikir dua kali.

Sebuah ketukan kecil dari Yoon Gi, kemudian dengan perlahan ia membuka pintu kamar yang kini gelap gulita, tangannya meraih saklar lampu, menyalakan lampu utama hingga kamar itu berbias terang. Gadis itu duduk meringkuk ketakutan dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya, mengintip dari balik selimut saat merasakan seseorang lain hadir disana. Sepasang matanya memandang Yoon Gi tapi ia bergeming, malahan gadis itu mundur teratur menuju salah satu sudut kasurnya saat Yoon Gi perlahan mendekat.

“Na Young,” panggilan dengan nada kaku itu tak diindahkan sama sekali, gadis itu malah memilih merapatkan selimutnya dan bergerak menjauh-sejauh yang ia bisa dari Yoon Gi.

“Na Young, berhenti seperti orang bodoh,” pedas memang seperti Min Yoon Gi pada normalnya, tapi itulah yang membuat Stef bertahan dengannya, alasan yang sama mengapa pemuda itu bisa mengembalikan Han Na Young kembali ke logikanya.

“Han Na Young, dengarkan aku!” seruan yang diikuti tindakan menarik selimut Stef dengan tiba-tiba menyebabkan gadis itu berteriak keras, meronta dalam ketakutan.

Dengan tenaga lebih Yoon Gi menarik salah satu tangan milik Stef, menarik sang gadis mendekat padanya, namun dalam hitungan detik tangan Stef yang lain melepaskan pukulan yang diterima Yoon Gi tanpa balasan. Sebuah pukulan lain dan tendangan diterimanya bertubi-tubi, bibirnya digigit erat, berusaha menahan lidahnya agar tak mengeluarkan kata kasar macam apapun saat berhadapan dengan orang gila.

Terbiasa, Yoon Gi akhirnya menahan kedua tangan Stef dengan genggamannya, mengunci pergerakan gadis itu dengan cara memeluknya dari belakang tanpa sedikitpun melepaskan genggamannya terhadap pergelangan tangan Stef. Memaksa gadis berambut coklat berantakan itu menyilangkan tangannya dan membelakanginya, dengan kaki yang juga di tahan dengan baik oleh Yoon Gi.

“Kau gila lagi kan, Na Young?”pertanyaan itu masih tak terjawab, Yoon Gi tak bertanya untuk mengharapkan jawaban, ia hanya berusaha mengingatkan gadis itu, menyadarkannya dengan segala cara yang ia bisa.

“….Let me go Will… please…” helaan nafas berat lolos begitu saja dari katupan bibir Yoon Gi, ia tak habis pikir, bagaimana bisa seorang kakak laki-laki yang punya hubungan darah dengan adiknya sendiri menimbulkan trauma parah semacam ini.

“Lelaki brengsek itu tidak ada disini Na Young, tenang lah,” kalimat sama yang selalu ia ucapkan untuk menyadarkan Stef, kalimat yang juga membuatnya lega karena ia bisa mengumpat tanpa merasa bersalah–karena laki-laki bernama Will itu benar-benar brengsek.

Seketika sunyi kembali menyelimuti kamar tidur milik Stef. Sang pemilik masih tak sadar, sedangkan kekasihnya masih dengan sabar menemaninya, menyandarkan kepalanya pada pundak Stef, membisikkan beberapa bait lirik rap yang ditulisnya–Stef yang normal sangat menyukai Yoon Gi saat pemuda itu melantunkan lirik-lirik lagu Bangtan di telinganya.

Tubuh Stef bergetar perlahan tak jelas karena apa–tapi itu tanda yang baik untuk Yoon Gi–Stefanie Han telah mulai kembali ke permukaan. Air mata membanjir keluar, isakan kecilnya berubah jadi lebih liar, ia berteriak–marah–sedikit memberontak walaupun sia-sia karena Yoon Gi masih membelenggunya. Gadis itu marah pada dirinya, merutuki betapa lemahnya ia saat trauma itu menghantuinya.

Lalu marah pada seorang ‘kakak laki-laki’ yang telah membunuh hatinya.

Ia marah pada semua yang menghantuinya.

Merasakan betapa ia telah kotor.

Betapa ia tak pantas untuk mencintai dan dicintai.

“Shh…” Yoon Gi tak melepaskan pelukannya, ia masih memaksa Stef untuk tak bergerak dalam pelukan eratnya, sepasang tangannya tak lagi membelenggu Stef, namun bukan berarti ia tak waspada.

Stefanie Han masih menangis, namun ia tak lagi menjerit, tak lagi melawan, dan tak lagi lepas kendali.

Tak lagi ingin membunuh dirinya dan membunuh Will.

“Ini aku Na Young, ini aku.. Yoon Gi…” bisikan pelan ditelinga dan pelukan hangat itu tak serta merta membuat Stef tenang, tubuhnya masih gemetaran, air mata masih saja mengalir bersama isakan yang terus terdengar.

Tapi tubuhnya tahu ia berada di tangan yang benar, dekapan yang benar.

“Aku bersamamu Na Young, aku disini,” pelukan erat Yoon Gi mengendur, membiarkan Stef yang masih meringkuk untuk lebih santai, ia beringsut sedikit, kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukan lain.

Kecupan kecil di puncak kepala Stef membuat tangis dan sesenggukannya mulai berhenti terdengar, usapan lembut milik Yoon Gi membuatnya nyaman, seakan ketakutannya akan kegelapan memudar saat itu juga. Ia tak lagi gemetaran, tangannya tak lagi mengepal karena takut, desah nafasnya tak lagi kacau.

Dan hatinya tak lagi sakit karena kebekuan yang tadi menyerangnya.

“Yoon Gi…” panggilan lirih yang seakan tanpa nyawa itu membuat Yoon Gi mengangkat kepalanya, menggumamkan kata ‘ya’ dalam nada rendah, menunggu gadis itu mengucapkan kata lain yang dapat ia mengerti.

“Jangan…” begitu lirih hingga Yoon Gi harus mendekatkan telinganya di dekat bibir milik Stef, ia masih diam, menunggu dengan sabar apa yang ingin Stef katakan.

“Ja–Jangan pergi… Yoon..” terbata, tapi maknanya begitu jelas dan terang, memberikan sebuah jawaban pasti yang tanpa mereka ketahui mejadi bumerang yang akhirnya menghancurkan keduanya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, bodoh.”

..

“AAAAAAHH!!!”

Teriakan memilukan terdengar hingga sudut kamar. Sepasang matanya membelalak, desah napasnya melaju cepat, dalam diam yang mencekik tenggorokan, bulir air matanya mengalir. Tangan gemetarannya itu tak beranjak darimanapun, tak berusaha mengambil obatnya–tak jua berusaha menenangkan diri.

Isakan keras dan air mata yang mengalir deras.

Ia kembali sadar malam itu, ia tak lagi memiliki seseorang yang akan duduk di sampingnya, ataupun memeluknya dalam diam, lalu membisikkan mantra-mantra penyembuh luka hatinya.

‘semua akan baik baik saja’

‘aku disini bersamamu’

“Bunuhlah aku… Tuhan….”

Dan Stefanie Han tak punya pilihan selain untuk memotong kepalanya–kecuali ia punya mantranya.

..

END.

..

A/N: HAAAI SEMUA~! Nama saya All.Want.Candy, seorang penulis yang kehilangan integritasnya lalu hilang ditelan waktu! senang bertemu dengan anda semua! Selamat menikmati!

All.Want.Candy © 2015

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s