Speak

Speak

Jung Taekwoon – Ryu EunHee

“Kau bukan robot kan?”

Eunhee bersemangat ketika melihat Taekwoon yang berjalan lurus tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan, dan tentu tanpa bicara.

Laki laki itu… Jung Taekwoon, dia orang yang misterius. Jarang tersenyum, juga jarang bicara. Bahkan ketika sedang bersama teman temannya. Ketika Cha Hakyeon dan kawannya yang lain tertawa terbahak bahak, bahkan suara mereka bisa terdengar dari jauh karena kerasnya suara mereka, tetapi Jung Taekwoon berbeda, dia hanya diam sambil menatapi temannya yang tertawa. Selera humornya berbeda.

Selain teman dekatnya, tak ada yang berani bicara pada Taekwoon, karena yang mereka dapatkan hanyalah tatapan dingin darinya. Tetapi Ryu Eunhee tidak, gadis yang memilih duduk bersebelahan dengan Taekwoon sejak semester pertama itu selalu mengajak bicara Taekwoon walaupun ia tahu laki laki itu tak akan menjawab.

Bukannya Taekwoon tidak menyadari kehadiran gadis itu. Taekwoon sangat menyadari kehadiran Eunhee yang selalu duduk disebelahnya, padahal banyak tempat kosong namun Eunhee selalu memilih duduk disebelah Taekwoon. Sejujurnya ia selalu merasa terganggu dengan suara gadis nyaring Eunhee..

Seperti pagi ini, Taekwoon baru saja memasuki kelas dan matanya sudah bisa menemukan Eunhee duduk di tempat yang biasa ia tempati. “Selamat pagi, Jung Taekwoon!” Tak perduli dengan kehadiran teman sekelasnya, Eunhee berteriak dari tempatnya duduk. Oh, tentu saja pekikan suara Eunhee menyita perhatian seluruh orang di ruangan itu.

Taekwoon memutar bola matanya, tanpa bicara seperti biasanya ia berjalan menuju tempat yang biasa ia duduki, dan tidak menoleh pada Eunhee yang jelas jelas ada disampingnya. Taekwoon segera mengeluarkan earphonenya dan menyambungkannya ke ponsel, dia selalu melakukannya, setidaknya untuk menghindari ocehan Eunhee.

“Tsk… Dasar robot.” Cibir Eunhee.

Tepat ketika Taekwoon akan memasang earphonenya, ia segera menoleh kesamping dan memberikan tatapan datar pada Eunhee. “Kenapa? Bukankah aku benar?” Ujar Eunhee.

Taekwoon lagi lagi memutar bola matanya yang kedua kalinya pada Eunhee. Namun gadis itu sepertinya tidak perduli sambil terkekeh pelan. Setelah itu Taekwoon tak mendengar apa yang diucapkan Eunhee dan ia pun juga tak ingin mendengarnya.

Baru sebentar ia memutar lagu kesukaannya, tiba tiba seseorang menarik earphonenya, “Profesor sudah datang.” Ujar Eunhee. Gadis itu segera duduk rapih ketika sang Profesor sudah berdiri di tengah tengah podium. Taekwoon memandangi Eunhee yang sudah menghadap kedepan selama beberapa detik, setelah itu ia memutar kepalanya.

.

.

.

“Hei Jung Leo! Kau tak memesan makanan?” Ujar Hakyeon setelah menepuk bahu Taekwoon.

“Aku tidak lapar.” Jawab Taekwoon. Hakyeon mengendikkan bahunya, Taekwoon hanya mengikuti Hakyeon menuju meja dimana tempat Jaehwan dan yang lainnya sudah menunggu.

Hyung, bukankah itu Ryu Eunhee? Gadis yang selalu duduk disamping Taekwoon hyung?” Tanya Hongbin sambil menunjuk Eunhee yang sedang berjalan melawati kantin dengan setumpuk buku ditangannya.

Taekwoon ikut menoleh, dilihatnya Eunhee sedang membawa tiga tumpuk buku tebal, “Iya, itu Eunhee.” Jawab Hakyeon.

“Aku heran kenapa dia mau duduk disamping Taekwoon hyung.” Ujar Sanghyuk.
Tiba tiba Jaehwan menjentikkan jarinya, “Eunhee menyukai Taekwoon hyung?”

Taekwoon yang sedang meminum minuman Hakyeon tiba tiba tersedak. Hakyeon yang berada disamping Taekwoon segera menepuk nepuk punggung Taekwoon.

“Ya! Kau tidak apa apa?” Tanya Hakyeon. Taekwoon mengangguk sambil sesekali terbatuk.

Hyung, kenapa Eunhee selalu duduk disampingmu?” Tanya Hongbin pada Taekwoon.

“Aku juga tidak tahu.” Jawab Taekwoon sambil mengendikan bahunya.

“Setidaknya ada seseorang yang mau berteman dengan Taekwoon hyung di kelas.” Ucap Ravi.
.
.
.
Eunhee bukan seorang stalker. Eunhee hanya penasaran dengan sosok Jung Taekwoon yang dingin. Karena itu ia memutuskan untuk duduk disamping Taekwoon. Eunhee selalu memperhatikan setiap gerak gerik Taekwoon.

“Jung Taekwoon.” Panggil Eunhee yang berbisik, namun Taekwoon tidak menoleh, ia tetap menatap lurus professor yang sedang memberikan materi kuliah. Eunhee mengambil sticky notesnya dan menuliskan sesuatu.

‘kau bukan robot kan?’

Kemudian Eunhee menempelkan kertas itu diatas buku catatan Taekwoon. Alis Taekwoon terangkat begitu Eunhee menempelkan sticky notes pink di bukunya. Begitu menoleh kesamping, Eunhee sedang menghadap kedepan. Taekwoon melepas kertas itu dan segera menulis di atas kertas itu.

‘Ya.’

Taekwoon melakukan hal yang sama seperti yang Eunhee lakukan tadi, menempelkan notes diatas buku Eunhee. Eunhee segera mengambil kertas itu dan terkekeh ketika membacanya, Taekwoon melihatnya, ketika Eunhee tertawa. Eunhee kembali mengambil notes baru. Ketika Eunhee sedang menulis, Dia mendapat kertas kecil dari Taekwoon.

‘Jangan ganggu aku atau aku laporkan pada professor.’

Eunhee mengerucutkan bibirnya ketika membaca pesan itu. Ujung bibir Taekwoon tertarik. Disaat itu, Eunhee melihatnya namun ia berpura pura tidak melihatnya. “Aku baru tau kalau robot bisa tersenyum.” Gumam Eunhee, namun Taekwoon masih bisa mendengarnya.

.

“Jung Taekwoon, tunggu aku!” Teriak Eunhee, Taekwoon berhenti dan menoleh sekilas, lalu kembali berjalan. Eunhee semakin berusaha menyamakan langkahnya dengan Taekwoon. Napasnya tersengal ketika berhasil berjalan disamping Taekwoon.
“Kan aku bilang tunggu, aish kenapa kakimu panjang sekali.” Gerutu Eunhee.

Taekwoon berusaha tidak memperdulikan Eunhee, namun sepertinya Eunhee tidak menyerah, Taekwoon mempercepat langkahnya, Eunhee pun juga mempercepat langkahnya. “Kau. Berhenti mengikutiku.” titah Taekwoon.

“Siapa yang mengikutimu? Aku juga akan naik bus.” Ujar Eunhee cuek

Sudah 15 menit mereka menunggu bus yang tak kunjung datang. dan hari sudah berubah menjadi malam. Eunhee mendecak sambil mengecek jam di tangannya, “Kenapa bisnya belum datang?” Taekwoon hanya memperhatikan Eunhee yang terus berdiri, akhirnya ia berdiri dan menarik kerah baju Eunhee.

“Lebih baik kau duduk.” Ujar Taekwoon.

Sontak Eunhee tersenyum, “Ternyata robot juga bisa perduli.” Eunhee terkekeh.

“Berhenti memanggilku robot.” Ucap Taekwoon datar.

“Tapi kan kau memang robot. Kau tidak pernah tersenyum, apalagi bicara.” Ujar Eunhee.

“Kau—“

Ucapan Taekwoon terhenti ketika bis hijau berhenti di depan mereka. Eunhee segera berdiri dan memasuki bis. Taekwoon pun menyusul Eunhee yang sudah masuk lebih dulu. Taekwoon menduduki tempat yang jauh dari Eunhee, namun gadis itu melihatnya dan berpindah duduk ke sebelahnya.

“Tsk. Dasar stalker.” Ujar Taekwoon.

.

“Huah, baterai ponselku habis.” Ujar Eunhee tiba tiba. Suara mesin memberi tahu pemberhentian selanjutnya, Eunhee segera memakai tas ranselnya dan berdiri. Taekwoon menghela napas ketika Eunhee sudah berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Namun tiba tiba ia memutuskan berdiri dan mengikuti Eunhee keluar.

Taekwoon melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada orang, hanya ada mereka berdua dan jalanan pun sepi. “Ryu Eunhee, dimana rumahmu?” tanya Taekwoon.

“Eh? Kau turun disini?” Ujar Eunhee yang balik bertanya.

“Dimana rumahmu.” Ujar Taekwoon.

“Agak jauh dari sini, kenapa?” Tanya Eunhee lagi.

“Cepat jalan.” Taekwoon berjalan lebih dulu, Eunhee yang kebingungan hanya mengikuti Taekwoon. Beberapa saat kemudian Eunhee baru mengerti, ia menarik lengan baju Taekwoon, “Jangan katakan kalau kau takut terjadi sesuatu padaku karena itu kau mengantarku sampai rumah.” Ucap Eunhee dengan jahil.

Taekwoon memutar bola matanya dan berjalan lebih cepat, “Hei, tunggu aku!” Teriak Eunhee.

.

Taekwoon memang jarang tersenyum dan bicara, namun dia juga manusia yang bisa merasa senang ataupun sedih. Hanya saja Taekwoon sulit untuk mengekspresikan perasaannya. Taekwoon senang memiliki teman seperti Hakyeon yang bisa menerimanya. walaupun ia tak mengucapkannya secara lisan.

“Selamat pagi Jung Taekwoon-ssi. Ini hadiah untukmu, aku pergi dulu.” Entah dari mana munculnya Eunhee yang secara tiba tiba dan memberikan gelas kertas dengan asap yang mengepul di udara. Taekwoon menatap punggung Eunhee dengan bingung namun ia mengendikkan bahunya dan menatap kopi yang masih hangat di tangannya. Taekwoon menyesap kopi itu dan mengecap rasanya, latte? Bagaimana Eunhee tahu kalau ia menyukai latte?

“Yo! Jung Leo, sepertinya aku baru melihatmu bersama seseorang.” Ujar Hakyeon yang mengalungkan tangannya di leher Taekwoon.

“Apa dia yang memberikan kopi ini?” Tanya Hakyeon dengan senyum curiga.

“Hmm ya.” Jawab Taekwoon.

“Sepertinya Eunhee benar benar menyukaimu.” Alis Taekwoon terangkat begitu mendengar nama Eunhee. Kenapa nama Eunhee selalu ada di pikirannya?

“Ayo.” Ujar Taekwoon sambil merangkul Hakyeon dan tersenyum.

Taekwoon dan Hakyeon segera berlari setelah melihat professor berjalan menuju ruang kelas, untungnya mereka sampai sebelum professor masuk. Dengan napas yang tersengal Taekwoon duduk. Sekilas ia melihat ke samping, Eunhee sudah duduk menghadap ke depan. Taekwoon mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Eunhee.

To : Stalker

Terimakasih.

Eunhee segera mengecek ponselnya ketika mendengar getaran ponselnya, matanya segera membulat ketika mendapat pesan dari Taekwoon. Apa benar Jung Taekwoon mengirimnya pesan? Walaupun hanya kata terimakasih, setidaknya itu sebuah kemajuan. Eunhee menaruh ponselnya kembali, namun Taekwoon tak mendapat notifikasi balasan pesan.

“Apa susahnya hanya bicara terimakasih? Dasar robot.” Gumam Eunhee mencibir tanpa menoleh pada Taekwoon.

.

.

.

.

Sepertinya ada yang kurang pagi ini, biasanya sudah ada Eunhee yang sudah duduk di tempatnya, namun gadis itu tak terlihat. Tanpa sadar, Taekwoon menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Eunhee. Kemana gadis itu?

Taekwoon mengecek jam di ponselnya, sebentar lagi kelas dimulai dan Eunhee belum datang, biasanya gadis itu datang lebih pagi darinya. Ia segera sadar ketika suara Hakyeon memasuki gendang telinganya, “Kau kenapa? Mencari seseorang?” Tanya Hakyeon.

“Eh? Tidak.” Jawab Taekwoon.

“Gadis itu, Eunhee… dimana dia? Taekwoon-a, apa teman sebangkumu itu sudah datang?” Tanya Hakyeok lagi. Taekwoon mengendikkan bahu.

Hakyeon bungkam ketika profesor mengetukan pulpen yang di pegangnya, sekali lagi Taekwoon melihat ke tempat duduk Eunhee, tatapannya memang datar, namun ada arti tersendiri dari tatapan tajam Taekwoon.

.

Eunhee hanya bisa meringkuk di tempat tidurnya. Dokter menyarankannya istirahat total, dan Eunhee benci itu. Bahkan ia tidak diizinkan menyentuh buku tugasnya oleh ibunya, jika saja ia tidak terbangun dengan suhu tubuh yang tinggi, ia tidak mungkin berada di atas kasur dan tidak melakukan apapun.

Bagaimana dengan Jung Taekwoon? Apakah laki laki dingin itu akan mencarinya? Sepertinya tidak. Membalas ucapannya pun sangat jarang, bagaimana bisa Taekwoon mencarinya?

Tepat saat itu lamunan Eunhee buyar karena bunyi getaran ponselnya, ia segera meraih ponsel yang berada diatas nakas disamping tempat tidur. Sedetik kemudian ia menjerit sehingga membuat ibunya datang.

“Ada apa Eunhee?” Tanya ibu Eunhee.

“Aniya, aku baik baik saja eomma.” Jawab Eunhee.

Eunhee meminta maaf karena sudah membuat panic ibunya, setelah ibunya pergi Eunhee kembali mengambil ponselnya dan membuka pesan yang membuatnya menjerit. Apakah karena efek demam sehingga ia menghayal Taekwoon mengirimkannya pesan?

Eunhee mencubit pipinya sendiri dan meringis kecil, tidak, tidak, ia tidak sedang berkhayal. Jung Taekwoon benar benar mengirimkannya pesan. Eunhee kembali menjerit dibalik bantal, sehingga tak menghasilkan suara. Setelah puas mengeluarkan rasa senangnya, Eunhee kembali membuka pesan dari Taekwoon, pesannya memang singkat, namun berhasil menbuatnya kehilangan akal sehatnya.

From : Jung Taekwoon

Kenapa tidak masuk kelas?

Ugh, rasa penasarannya berubah menjadi rasa suka. Kini Eunhee menyukai Jung Taekwoon. Sulit dipercaya namun itulah yang terjadi. Padahal Taekwoon tidak pernah melakukan apapun yang berarti untuknya, yang Taekwoon lakukan hanya bersikap dingin, tetapi Eunhee menyukainya.

To : Jung Taekwoon

Kenapa? Kau mencariku?

Send…

Eunhee terkekeh dan membaca pesan Taekwoon berkali kali, ia menghentikan kegiatannya begitu gagang pintunya bergerak, Eunhee membenarkan posisi selimutnya dan menunggu siapa yang masuk.

“Eunhee, temanmu datang.” Ujar ibunya sambil bersandar di dekat pintu.

“Siapa? Baru kali ini ada yang menjengukku. Dan kenapa eomma tersenyum seperti itu?” Tanya Eunhee.

“Temanmu yang datang laki laki dan juga hmm tampan?” Jawab ibunya dengan senyum jahilnya.

‘Laki laki? Tampan? Siapa?’ pikir Eunhee.

“Suruh saja dia naik ke sini, lagipula dokter bilang aku tidak boleh meninggalkan tempat tidur.” Ujar Eunhee.

Ibu Eunhee mengangguk dan keluar dari kamar Eunhee. Eunhee terus menatap pintu, menunggu seseorang muncul dari balik pintu. Seingatnya, ia tak memiliki banyak teman laki laki, dan ini pertama kalinya teman laki lakinya datang berkunjung.

Jantung Eunhee berdegub begitu seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Matanya membulat sempurna begitu melihat Taekwoon berdiri di depan pintu. “J-Jung Taekwoon?” ucap Eunhee. Taekwoon tak membalas ucapan Eunhee, ia hanya melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Eunhee, dengan tatapan datar khasnya.

Hal pertama yang menarik perhatian Taekwoon adalah wajah Eunhee yang tanpa polesan make up dan terlihat pucat. bahkan bibirnya yang biasa dipoles lipgloss pink juga memucat. Eh? Sejak kapan dia memperhatikan seorang Ryu Eunhee?

Eunhee menahan napasnya begitu tangan besar Taekwoon menyentuh dahinya, dan ia baru bisa kembali bernapas ketika Taekwoon sudah menarik tangannya. “Rupanya kau benar benar sakit.” Ujar Taekwoon.

“T-tentu saja. kau kira aku berbohong?” Ujar Eunhee mendengus. Taekwoon menarik ujung bibirnya, tersenyum.

Eoh! Apa kau baru saja tersenyum?” Pekik Eunhee dengan mata membulat. Taekwoon dengan cepat menghapus senyumnya.

Eunhee melipat tangan di depan dadanya, kembali mendengus, “Tsk, kau itu unik Taekwoon-ssi. Oh, aku lupa, ada angin apa kau datang menjegukku?” Tanya Eunhee.

Kedua bagian bibir Taekwoon terpisah, seakan ingin mengucapkan sesuatu namun tak terucap. Semua kalimat yang sudah ia pikirkan tertahan di kerongkongannya. Taekwoon juga tak tahu mengapa ia mau repot repot datang ke rumah Eunhee dan menjenguknya.

Taekwoon berdeham, “Hari ini kelas sepi tanpa ocehanmu.” Ujar Taekwoon.

Senyum Eunhee mengembang, “Oh, kau merindukanku?” Tanya Eunhee tepat sasaran. Taekwoon berbalik badan, tak menjawab.

Eunhee segera berdiri dan berjalan ke hadapan Taekwoon, “Hei, Jung Taekwoon, kau belum menjawab pertanyaaku.”

“Kembali ke tempat tidurmu.” Suruh Taekwoon. Eunhee mendengus kesal, dengan menghentakkan kakinya di lantai, Eunhee kembali ke tempat tidurnya.

Taekwoon kembali tersenyum, kali ini ia berjalan mendekati tempat tidur Eunhee dan duduk di pinggir kasur. Eunhee tak menyangka Taekwoon akan duduk sedekat ini, ia semakin kaget ketika tangan Taekwoon mengusap puncak kepalanya dengan lembut, “Cepatlah sembuh, dengan begitu aku tidak kesepian lagi dikelas.” Ujar Taekwoon, kali ini dengan senyum tulus.

Semburat merah muncul di kedua pipi Eunhee, tatapan dan ucapan Taekwoon bagaikan sihir. Eunhee seakan terhipnotis dengan kedua mata itu. Ini pertama kalinya Taekwoon memberikan tatapan tulus yang membuat jantungnya berdetak cepat. Eunhee menahan tangan Taekwoon ketika laki laki itu ingin menarik tangannya.

“Aku mengantuk, teruslah seperti ini sampai aku tidur, kau mau kan?” Sepertinya efek obatnya mulai muncul, terhitung sudah keempat kalinya Eunhee menguap. Taekwoon mengangguk pelan.

Eunhee membenarkan posisinya, dan dengan perlahan Taekwoon menyelimuti Eunhee. Tak lupa tangannya yang terus mengusap puncak kepala Eunhee. Terkadang mereka saling bertukar tatapan. Bibirnya memang tidak tersenyum, namun bahasa tubuhnya sudah menunjukan apa yang dia rasakan.

“Syukurlah ternyata kau manusia yang masih bisa tersenyum.” Ucap Eunhee sebelum masuk dalam dunia mimpinya.

Kini Eunhee mengerti cara berkomunikasi dengan Taekwoon. Taekwoon tak butuh rentetan kata untuk mengekspresikan perasaannya. Jung Taekwoon istimewa, dengan caranya sendiri.

END

Ehem. Halo. Perkenalkan aku author baru disini, sebut saja Rinchan. Fict ini adalah tanda perkenalan aku kepada readers hehe. Perkenalan yang aneh ya?
Okay, selamat membaca!

-Rinchan

Advertisements

2 Replies to “Speak”

  1. /Ketawaketiwi/ ih kok manis sih di bawahnya, suka deh penutupnya manis gitu, diabetes abiz. Khas Rinchan beud mah manis-manis, kalau aku sama Kak Yoo angst-dark /halah/ /nyeret-nyeret orang/ /kamu aja ndiri woi/

    Sebelumnya, ada baiknya kamu gak mendengarkan saran dariku ini rinchan /lho/ engga, sebenernya gapapa juga kalau gak pake justify tapi mungkin ada beberapa orang yang bakal lebih enak ngebaca pake format justify biar rapeh getoh hehehe maapkeh nasihat gapen ini, abaikan jika tidak berguna ya XD.

    Nah lanjut, xenengnya tulisan kamu meningkat drastis yaaaah wuhu! udah lumayan kok, udah ada banyak narasinya, walopun masih simpel tapi udah okeeh maju terus rinchan!!

    EUNHEE-LEO AAAAAAAAAAAAAAAA!! INI DUO MAUT MUNCUL JUGA YA WALOPUN BUKAN CANON /tebar beling/ astagah astagah kamu berhasil menghancurkan pair Leo-Sojinku Rinchan huahaha, yaudahlah sojin sama aku aja bebas landas, langsung jeblos jebol /apaan woi!/ /dilempar gentong/ Tapi iya ya, si leo itu robotnya lebih parah daripada Jong Hyun sama Cha Hun ;_; mana mata ipitnya mendukung lagi, kalau natap orang itu wesshh wessh weesh langsung meleduk di tempat /elah lebai!/ tapi cocok sama Eun Hee yang penuh salam keceriaan itu, yang mirip kutu loncat juga tapi gak sekampret Hye Eun /ditebas rinchan/ /maapkeh/ nah kan jadi ngespam gitu 😦 niatnya mau komentar, tapi apa dikata cintaku pada rinchan begitu membara sampe membakar kolom komentar ini jadi sepam gimana dumbs? /SOK POLOS WEH/

    Yaudah mari kita tutup saja komen gak bermutu ini. Tapi tetep inti dari semua ini adalah biar kamu cepet ngepost fanon/canonnyo bocak kampret-idung bengkak sama kutu loncat-keripik leo ini.

    Sekian,

    Taree (azek nama baru! haha)

    Like

    1. HALOH KAK JENIIIIIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
      Manis ya kayak yang buat hihi /ditendang eunhee/

      Saran diterimaaa! makasih sarannya qaqaaa :3
      asek terbang nih terbang. biar ditangkep sama aa leo wkwk siap kapteeennn!!

      HAHAHA KALO CANON GIMANA YAA DUH JATUH CINTA DEH. udah leo buat aku aja, sojinnya juga boleh. lumayan punya kakak cantik wkwkwk mana jarang ngomong, sekalinya ngomong irit banget. kan jadi serem :/
      aku ngaku kok kalo Hyeeun kadang gapunya malu sama sekali. tenang aja kak, bukan kakak doang yang berpikir gitu wakakak /ditabok jungkook/
      YAELAH KAK MAKIN TERBANG NIH. TAPI HATIKU HANYA UNTUK MYUNGSOO SEORANG.

      THANKS A LOT KAK AGEN JNE UDAH REVIEW! POKOKNYA LOPE LOPE BUAT KAK JENI!

      Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s