Unspeakable Secret

U N S P E A K B L E  S E C R E T

“Ada banyak rahasia yang perlu kuucapkan, padamu...” 

.

Kaede Miho/Kaji Shouji | Park Sojin/Isama Yasu

.

©2015

JAKEALL & KARASU

 

Japan, 2014

Shunan, Yamaguchi, Gyu’s Clan House

05.34 p.m JST

‘Ikuti dia. Bunuh anak bermarga Reguma itu jika Sena masih melewati aturan yang kuberikan.”

Blam,

Ia menghela napas. Tak urung dibuat termangu sepersekian detik, mengamati bentuk tegel kayu kopong. Membunuh ya, benaknya. Masih tidak dapat percaya jikalau kali ini ia diberikan tugas untuk membunuh sekaligus memata-matai keturunan kedua dari Oyabun, terlampau berbeda dengan kegiatan sehari-harinya yang hanya mengurusi wilayah administratif—tak jauh dari menangih uang dan mengusir perampok teri yang ingin berkuasa. Tapi yang membuat Yasu tak semangat, tentang negara yang akan menjadi destinasinya nanti.

“Yasu-san!”

Miho melambai kuat, memamerkan dua bungkusan sedang dari kantong karton yang baru dia dapatkan beberapa menit lalu. Sebenarnya, ia mendapatkan informasi ini dari Wakashu, yang berujar kalau di dekat pusat kota Shunan ada gerai makanan baru dan dikarenakan ia mendadak merasa kelaparan—juga berhubung kepala dapur tidak memberinya sedikitpun makanan, yah, semua orang tahu seberapa besar nafsu makan seorang Kaede Miho, standar para babi hutan, ibaratnya.

Are1…dia tidak mendengar panggilanku,” gumamnya, mengerucut bingung. Mau tak mau Miho beringsut mendekat, menarik ujung kimono yang tengah dikenakan oleh pria semampai itu pelan. “Doushite2?” gadis itu membersil, menutupi arah pandangan Yasu dengan senyum lima jari khasnya.

Ia tersentak, sadar dari lamunan. Kemudian membalas tarikan lebar yang diberikan oleh Miho dengan senyuman lemah. “Ti-tidak, tidak ada.” Diikuti si gadis yang sudah kembali menegakkan tubuh, kini sibuk berusaha untuk membuka bungkus keripik yang sedari tadi ia pamerkan ke seantero rumah. “Sudah sini,” potong Yasu, menarik bungkusan itu dari tangan Miho. Dan tanpa menunggu lama, mulut bungkus keripik itu sudah terbagi dua, mengangga lebar, menguarkan aroma madu tajam.

Arigatou.

Pemuda itu tersenyum renyah. Tak ayal mengangsur tangan, menggosok kepala Miho pelan sembari berujar, “cobalah berhenti untuk terlihat seperti Inoshishi, Miho.” Dan melangkahkan kaki menjauh, tidak lagi-lagi menyaksikan mimik komikal si gadis yang hendak memprotes perucapannya.

Hari ini, Yasu terlalu sukar untuk bercanda. Energinya terlampau habis sewaktu mendengarkan ketetapan Oyabun mengenai tugas baru di masa mendatang.

* * *

Head of Gyu’s room, Shunan

19.22 p.m JST

Kaede Miho duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk patuh. Berhadapan langsung dengan punggung seorang lelaki paruh baya. Dimakan umur bukan berarti mengurangi wibawa sang Oyabun. Jangankan berpandangan mata, melihat punggungnya saja nyali siapapun bisa ciut. Tak terkecuali gadis itu. Jujur saja, jarang sekali Oyabun memanggil Miho untuk datang ke ruangannya. Selama ini, mandat menjalankan misi selalu disampaikan lewat perantara orang-orang kepercayaan. Bukan hanya karena terus mendapat misi level bawah yang tak butuh banyak keahlian khusus, Miho sadar jika Oyabun tidak begitu menyukainya. Alasan mengapa Oyabun enggan bicara empat mata dengan gadis itu. Sebagai satu-satunya wanita di antara klan Gyu, Miho dipandang sebelah mata, tidak begitu diakui kemampuannya. Diperbolehkan tinggal dan tetap menjadi bagian dari klan adalah hal terbesar yang disyukuri Miho, karenanya ia tak pernah menuntut banyak.

Tetapi hari ini, Oyabun memintanya untuk datang. Alih-alih antusias, Miho terlampau berpikiran buruk. Takut jika saja Oyabun akan menghukumnya karena kesalahan yang tidak ia sadari. Atau Oyabun merasa dirinya tidak berguna lagi untuk klan dan siap untuk menendangnya saat itu juga.

Miho meneguk ludah ketika lelaki paruh baya itu berbalik menghadapnya.

“Apa kau tahu mengapa aku memanggilmu kemari?”

Miho berdeham kecil, bermaksud menyembunyikan rasa gugup lalu menjawab, “Untuk memberi hukuman.”

Gadis itu makin ditekan rasa cemas ketika jawabannya sukses membuat Oyabun mendengus sinis.

“Kau tidak berubah, sama bodohnya seperti biasa,” sahut Oyabun. “Jika saja mendiang istriku tidak merengek memohon padaku agar mengizinkanmu menjadi bagian dari klan ini, aku tidak akan segan menendangmu dari awal. Tapi sayang, itu adalah permintaan terakhirnya sebelum meninggal, kau harus bersyukur karena aku masih mau berbelas kasih menampungmu di sini.”

Tubuh Miho gemetar. Ia tahu alasan itu, paham betul mengapa ia masih bisa bebas bernapas di sarang kumpulan yakuza hingga sekarang. Jika bukan karena Meiko, istri Gyu Shota, mungkin saja saat ini Miho berbaring kedinginan di emperan jalan dengan sekumpulan pengemis.

“Aku tidak akan menghukummu. Hari ini aku berbaik hati memberimu satu kesempatan untuk membuktikan diri padaku.”

Miho mendongak. Diliputi ribuan pertanyaan yang merayap dalam benaknya.

“Ini ujian yang harus kau jalani, jika kau berhasil maka aku akan mengakuimu, “ Untuk pertama kalinya seumur hidup, Miho berani menatap lurus dua manik kelam mencekam itu. “Bantu Yasu untuk mengawasi pergerakan Sena dan cari informasi tentang keberadaan Shin.”

Miho tercekat. Nama itu terucap jelas dari mulut Oyabun. Nama mantan pewaris yang dulunya digadang-gadang menjadi penerus klan Gyu. Anak pertama yang pernah membantai sebagian pengikut klan dan nyaris membunuh sang Oyabun, ayah kandungnya sendiri. Anak pertama yang kini menanggung status pengkhianat klan.

“Temukan Shin,” Oyabun melanjutkan, sejenak memberi jeda. “—dan bawa mayatnya ke hadapanku.”

Penyataan itu seperti balok baja yang menghantam keras-keras wajah Miho. Jujur saja, tidak pernah terbersit olehnya mendapat misi ini, membunuh pengkhianat klan yang notabenenya adalah orang yang paling ia pedulikan. Seseorang yang meski telah lama menghilang, namun selalu merangsek masuk ke alam mimpi tiap kali ia jatuh terlelap.

Mau apa lagi, ketika Oyabun sudah menetapkan jalan yang harus ia tempuh, maka disanalah ia harus meniti langkah meski terseok penuh darah. Tak ada pilihan lain. Kecuali, ia mau membelot melawan perintah, dan menjadi pembangkang yang berakhir sebagai seonggok daging busuk di tengah hutan.

Melaksanakan misi, atau mati.

“Untuk menjadi kuat, seseorang harus membuang semua perasaan yang membuatnya lemah. Dengan cara itu, aku akan mengakui keberadaanmu.”

*

Gyu’s practice room

19.30 p.m JST

“Kau ingin bermain ya?” Salah satu Waka Gashira mendengus sinis, sementara tangan kanan menepuk-nepuk bilik jantung pelan karena terkena terjangan—cukup—mematikan dari pria muda di seberang. Yang kini sibuk menebarkan senyum lebar sebagai tanda maaf. “Ini bukan aliran utara dan selatan, bukan? Oi, berengsek, berhenti menyembunyikannya dan berlagak lemah. Kau pikir aku punya waktu untuk meladeni bawahan Wakashu? Kalaupun bukan karena Oyabun yang meminta, aku juga tidak mau mengeluarkan energi untuk anak teri sepertimu ini—huek!

Belum lama terjangan itu menimbulkan nyeri, kini mulutnya malah memuntahkan gumpalan kental berwarna merah.

“Ka-kau… apa yang—argh!

Ia mengulum bibir. Garis matanya tak berhenti membentuk lengkung senyum dengan tangan menggaruk ujung kepala. “gomen, gomen. Chiku tidak sengaja masuk ke dalam jantung SenpaiAh, gomen ne.”

Yasu mendongak. Memandangi ruang di atas sana, yang tertutupi oleh kaca riben dan nampaknya pemuda itu tahu kalau Oyabun tengah memperhatikan sesi latihan ini sedari tadi. Kemudian, tanpa menghiraukan bangkai segar Waka Gashira, ia berjalan melangkahinya—dua lain, berpangkat sama, telah melipir dari jarak pandang. Entah merasa ketakutan atau belum ingin terlibat lebih jauh. Semua anggota klan tidak pernah tahu–bodohnya tak mencari tahu, mengenai keahlian apa yang berada di tubuh semampai pemuda itu. Seolah tampak memandang sebelah mata akan bergabungnya sosok penebar senyum dua tahun lalu dan mungkin karena Yasu berada dalam kelompok administratif–yang memang tak butuh keahlian lebih.

Ia merangkak ke depan kapstok. Tanpa sengaja, setelah meraih sekaligus memakai setelan kimono, ia melihat wujud Miho tengah berjalan lunglai di koridor.

*

Yamaguchi, Japan

Ramen Taisho, central Shunan

22.50 p.m JST

Sorot matanya tak kunjung luput dari sosok gadis yang duduk melamun di depannya. Memainkan sumpit tanpa segera melahap semangkuk ramen porsi jumbo yang tadi dipesan. Sudah hampir setengah jam gadis itu terus bertingkah layaknya zombie lapuk. Tentu, Yasu mengerti apa yang dirasakan gadis itu, tidak menyalahkan namun juga tidak membenarkan.

“Hilang kemana selera makan inoshishi, uh?” Yasu coba membuka obrolan, sedikit menyindir perilaku gadis itu yang tidak biasa. Mengacuhkan makanan bukan style seorang Kaede Miho.

Gadis berumur setahun lebih muda darinya itu menggeleng tanpa minat. Bukan berniat mengacuhkan Yasu yang berupaya memulai konversasi, bahkan ramen yang biasanya terlihat begitu seksi di matanya. Hanya saja, Miho sudah kehilangan semangat sejak hari dimana ia diserahi tugas dari sang Oyabun. Dibanding tugas, bisa dibilang itu adalah tantangan yang mau tak mau harus diambilnya. Ajang pembuktian diri di hadapan sang Oyabun. Menang adalah harga mati, karena kekalahan dan kegagalan bisa jadi pengantar menuju jurang kematian.

Yasu menghela napas sejenak, paham betul pergolakan batin yang dihadapi Miho. Tapi, tugas adalah tugas, bukan? Melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan misi adalah hal tabu bagi seorang pengikut Gyu.

“Aku mengerti apa yang kau rasakan,” ujar Yasu, menyandarkan punggung pada bangkunya, sementara sorot matanya memandang Miho penuh keseriusan. “Tapi kau tidak bisa melanggar apa yang sudah menjadi tanggungjawabmu.”

Miho menolak melempar balasan. Ia sendiri masih sibuk bergelut dengan batinnya, mencoba meyakinkan diri untuk tidak termakan perasaan pribadi.

“Membunuh orang itu adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup. Kuharap kau tidak melupakan aturan main yang berlaku disini, nyawanya ataukah nyawamu.”

Semua penekanan yang Yasu katakan bukan semata menjatuhkan mental. Justru sebagai penguat jiwa untuk berani mengambil langkah ke depan. Akan jadi kesia-siaan, jika mengalah pada emosi sesaat. Pada akhirnya, nyawa yang harus jadi bayaran jikalau gagal dalam misi ini. Dan Yasu, tidak akan pernah membiarkan nyawa gadis yang sudah dianggapnya seperti keluarga melayang hanya demi seorang sampah menjijikkan.

“Kau tahu betul apa yang kumaksud, kan?”

Untuk beberapa detik, Miho bungkam dengan kepala tertunduk. Sumpit yang semula dibuatnya bermain-main —mengaduk isi mangkuk asal-asalan tanpa minat, kini dibiarkannya tergeletak di atas meja. Sementara tangannya yang tersembunyi di bawah, mengepal kuat hingga memutih pucat.

Semua yang dikatakan Yasu adalah benar. Ini bukan waktu yang tepat untuk membiarkan perasaannya pada Shin berkembang dan malah melemahkan pertahanan diri.

Pada akhirnya, Miho mengangkat wajah. Bersembunyi di balik senyum lebar miliknya, sementara dalam diam batinnya membangun pondasi diri untuk yakin pada langkah yang harus ditempuhnya nanti. “Aku mengerti, Yasu-san! Percayalah padaku, oke?” Miho menyahut penuh semangat, meski faktanya senyum itu tidak bisa menipu seorang Isama Yasu.

“Jika nanti kau sampai pada titik lemahmu, jangan memaksakan diri, karena aku yang akan membunuhnya untukmu.”

*

Kinpu Jinja, near Gyu’s clan House

Shunan, Yamaguchi, Japan

01.04 a.m JST

Connected,

Wae, Yasu?”

Pria itu mengigit bibir. Tangannya masih merekatkan ponsel di daun telinga, dibiarkan kebas. Tanpa berusaha membuka obrolan, Yasu menengadah. Menatap cakrawala dari teras Kinpu-Jinja, dan mengindahkan pertanyaan lain dari seberang sana yang menodong masuk ke dalam gendang telinga. Bukan kebohongan jika Yasu mengatakan, betapa ia rindu karakter suara husky ini.

“Kalau kau tak ing—“

“Sojin-nee apa kabar?” Sergahnya, kini iris cokelat itu berpindah menilik jemari kaki. Melupakan tingkap langit tanpa bintang penerang karena kakinya nampak lebih enak dipandang. “Skandalnya sampai di sana ya? Tidak baik, tapi tidak menjurus tidak baik juga sih. Kau sendiri bagaimana, tidak ada kerjaan lagi di kampus sampai lupa mengabariku, begitu?” Cerocos Sojin, perlahan nada parau sehabis bangun tidur itu mulai berubah normal.

Yasu terkekeh. “Ne~ee, bukan begitu. Aku ikut program pertukaran pelajar,” tanpa memberi ruang, ia kembali melanjutkan, “di Korea. Yonsei, mungkin sekitar enam bulan atau lebih. Bagaimana menurut Sojin-nee, berita buruk atau bagus?”

“Yonsei?!” Terdengar tengking—cukup, memekakkan telinga di sana. Kemudian beberapa suara penunjang lain yang Yasu terka adalah teman satu kelompok bermusik, anggota Girls Day, Kim Yura. “Yang ada dikepalaku kau pasti akan menganggu waktu tidurku, bukan? Aku tidak bisa pergi keluar lagi, Yasu. Terlalu banyak schedule, tapi kalau sekadar secangkir kopi tengah malam mungkin masih bisa dicuri. Waktunya, maksudku.”

“Aku tidak akan menganggu Sojin-nee, aku pasti akan sibuk sekali. Mendekati tugas akhir,” Terawang pria itu, dalam benaknya terpapar tugas penyelidikkan keturunan kedua Gyu dan juga anak gadis bermarga Reguma. “Tidak akan ada waktu untuk melihat Sojin-nee. Tapi kalau sesuatu terjadi seperti waktu itu, aku janji untuk segera berlari menemui Sojin-nee.”

Gadis itu tertawa pelan sembari mengangguk pelan, “berhenti membual, bodoh. Aku lapar, Yura mengajakku membeli ttaeboki di dekat dorm. Kututup duluan ya, Yasu. Cepat selesaikan mastermu, dan sampai bertemu di Korea—jika sempat. Dah.”

Lalu, klik. Sambungan terputus. Diikuti bunyi tut tut panjang dan helaan putus asa.

“Secangkir kopi,” gumam Yasu, kepalanya mengangguk kaku. “Antisipasi kalau takdir ini menyakitkan, Sojin-nee.”

*

Miho’s RoomGyu’s clan House

Shunan, Yamaguchi, Japan

02.30 a.m JST

Secuil memori lampau tentang lelaki yang jadi cinta pertamanya kembali menyeruak. Tepat di awal musim panas. Saat itu, seperti biasa, Miho akan menyisakan waktu senggangnya melihat Shin berlatih di arena tarung. Diam-diam menyimpan rasa kagum dalam hati, tiap kali Shin yang kala itu masih remaja selalu berhasil menaklukkan lawannya dalam waktu singkat.

Tapi bukan itu yang membuat Miho tak bisa melepaskan perhatiannya pada Shin. Sesuatu yang tersembunyi dalam sorot tajam milik Shin yang mampu menariknya untuk berusaha mendekat. Ada sepi menyelinap di balik manik legamnya. Menumbuhkan rasa peduli yang amat dalam. Alasan mengapa Miho selalu mengamati Shin setiap saat, mengikutinya seperti anak anjing. Berharap bisa berbagi luka dan pilu, bersama. Meski nyatanya, Shin selalu mendorongnya menjauh.

Sama seperti saat itu, namun jelas berbeda dari biasanya. Miho yang menyaksikan Shin berlatih bertarung, berhasil dibuat tercengang. Jika biasanya, Shin mengalahkan lawan dengan hanya menyisakan luka-luka di sekujur tubuh, kali itu berbeda. Sosok bengis yang bergelut di depannya tidak nampak seperti Shin. Sekujur tubuh Miho meremang ketika sosok itu meremukkan satu per satu anggota badan lawan dengan senyum seorang iblis. Seolah amat menikmati waktu bermainnya, menyiksa musuh yang tak berkutik dalam cengkraman, juga jerit kesakitan yang mungkin dianggapnya seperti alunan tembang nada. Dan sekali lagi bibir itu memilin bengis kala bunyi gemeretak tulang leher sang lawan menggema di tengah arena tarung.

Permainan berakhir, dengan satu pihak meregang nyawa.

Masih jelas dalam ingatan Miho, ketika Shin berjalan lurus menuju tempatnya seusai menjatuhkan lawannya yang telah berubah wujud menjadi mayat segar. Lelaki itu menghentikan langkahnya, memperkecil jarak dan berbisik tepat di telinga Miho.

“Kau lihat? Aku bukan anak baik, aku adalah monster. Jadi, jauhi aku.”

Miho mendekap erat tubuh mungilnya. Ingatan itu tak ubahnya seperti mimpi buruk yang sekali lagi menyudutkannya. Ia selalu berpikir, sosok bengis itu bukanlah Shin yang dikenalnya. Meski ia juga tak bisa mengelak adanya monster yang hidup dalam tubuh lelaki itu. Dan sekarang, ia yang harus mengalahkan monster itu. Membunuhnya, beserta sang pemilik tubuh.

Hanya satu pertanyaan yang tersisa kini. Apakah gadis itu mampu melakukannya? Merenggut nyawa lelaki itu, sama seperti saat Shin merampas hidup musuhnya dulu.

“Aku dengar kau akan pergi untuk misi besar.”

Lamunannya terpecah ketika suara itu menyeruak masuk. Miho berpaling ke arah ambang pintu. Tampaknya ia lupa mengunci tadi, lelaki itu tak perlu bersusah payah mengetuk pintu dan tanpa pikir panjang masuk ke dalam. Matanya terarah lurus pada Miho yang duduk di tepi kasur tipis yang terbentang.

Tidak biasanya Miho merasa kaku berada di dekat Kaji Shouji, lelaki yang kini berdiri tepat di depan muka. Sorot tajam menusuk, berbeda dengan caranya memandang Miho sehari-hari. Ada ketegangan di sana, pun amarah yang tak bisa tergambar dengan mudah.

“Aku sudah mendengarnya.”

Miho mencoba menarik sudut bibir, memasang topeng sandiwara, lalu mendongak sembari berujar, “Maaf ya, aku menyerobot kesempatanmu.”

Lelucon murahan. Miho tahu dia gagal mencairkan suasana. Lelaki itu sama sekali tidak tersenyum, sorot matanya tetap menusuk. Membuat bulu kuduk menegak.

Sudah jadi rahasia umum jika sejak dulu Shouji menginginkan tugas ini. Misi yang sekarang malah harus diemban Miho, juga oleh Isama Yasu. Mengalahkan orang yang menjadi target mereka adalah keinginan terbesar seorang Kaji Shouji. Membunuh anak pertama sang Oyabun jadi ambisi yang mengalir dalam nadinya.

Siapa yang tidak tahu rivalitas antara Shouji dan Shin? Dua rival abadi yang tak pernah bosan dijadikan perbincangan hangat ketika Shin masih menjadi bagian klan Gyu. Dua darah muda yang terus bersaing memperebutkan kemenangan di tiap duel. Tentu saja, meski Shouji bisa mengalahkan Shin, ia tidak akan bisa jadi pengganti pemilik tahta. Namun sayangnya, tak pernah sekalipun Shouji berhasil membuat Shin bertekuk lutut. Mungkin itu yang jadi ambisi gila seorang Shouji, mencabik jantung Gyu Shin dengan tangannya sendiri. Ambisi yang berkembang mengerikan selepas Shin dijatuhi status buronan mati.

Tapi, lagi-lagi sangat disayangkan, peluang itu luput darinya. Misi yang selalu diimpikannya malah jatuh pada orang lain.

“Tidak peduli kau orang terdekatku, jika kau tidak sanggup membunuhnya,” Shouji memberi jeda dalam kalimatnya, sedikit penekanan di akhir, “aku tidak akan melepaskanmu.”

Senyum yang tadinya menghiasi paras gadis itu, untuk sesaat lenyap. Dua maniknya mengarah lurus pada Shouji, balas menatapnya tajam, sebelum tawanya menggelegar memenuhi ruangan sempit itu. Tawa yang terlalu dibuat-buat.

“Kenapa sih semuanya tidak percaya padaku?” Miho masih tergelak, berbanding terbalik dengan hatinya. Membuat obrolan ini seakan lelucon yang terlampau lumrah diucapkan. “Lihat saja, aku akan berhasil membawa bangkainya kemari!”

Miho membusung dada. Berlagak seakan dirinya tidak sedang mengalami pergolakan batin. Sementara Shouji hanya mendesis sinis. Memang sejak kapan gadis bodoh ini bisa membohonginya? Shouji sudah terlewat mengenalnya luar dalam. Lelaki itupun paham perasaan yang disembunyikan olehnya. Ya, Shouji tahu hati Miho belum berubah. Masih sama seperti yang dulu, untuk Shin. Ia tidak mempermasalahkan. Hanya saja, Shouji tidak akan memaafkan Miho jika gadis itu gagal dalam misi ini.

Iri karena kesempatan yang dia inginkan jadi tanggungjawab Miho. Terlebih, ia tidak ingin nyawa Miho dijadikan pengganti keparat itu. Tak rela jika gadis itu mati di tangan orang lain sebagai hukuman gagal dalam menjalankan tugas. Shouji bersumpah, kalau saja kemungkinan buruk itu terjadi, ia tidak akan membiarkan tangan orang asing mengoyak tubuh Miho. Tak ada yang berhak merampas nyawa gadis yang ia sayangi, kecuali dirinya sendiri.

“Buang perasaanmu padanya, jangan biarkan bersisa.” Rahangnya mengeras, sebelum balik memunggungi Miho dan berjalan ke ambang pintu. “Kau harus jadi kuat, Miho.”

* * *

Tokyo, 2015

Todai, Tokyo University, Japan.

12.45 p.m JST

“Kau bilang apa?”

Hane merengut. Bukan masalah telinganya mengendap penyakit peka, tapi perkataan teman satu jurusan selama satu setengah tahun terakhir ini dapat terbilang tak waras. Melakukan pertukaran pelajar, di saat semua sudah harus mengurus thesis? Ayolah, Isama!

“Aku sudah menyerahkan suratnya, dan mereka setuju. Tidak ada masalah.”

Temannya mendengkus, “kau ini. Menyerah sajalah, Yasu. Apa sih yang kau kejar di negara itu? Gelar mastermu lebih penting dan juga, kau lupa dengan janjimu untuk langsung mengambil gelar doktor? Ingat soal penderita gagal ginjal di luar sana, man.” Hane rasa, ia memang perlu mengingatkan teman sejawatnya ini. Ia tahu Yasu dari seleksi masuk Todai, kala itu pemuda ini masih menatap orang dengan tilikan dingin namun memiliki ambisius di luar batas. Tidak membuat orang bergetar sih, tapi bisalah untuk sekadar menjauhinya tanpa melakukan komunikasi lebih jauh. Dia pun baru berani bertukar sapa setelah terlibat dalam seminar yang sama di Korea dan berakhir menjadi teman dekat.

“Belajar bisa di mana saja, ‘kan?” Ujar Yasu, beranjak. Merangkak menuju vending machine terdekat. Tiba-tiba saja kerongkongannya terasa kering. “Bukan itu,” Hane menyahut sembari berbalik badan, melirik pria yang masih sibuk menekan-nekan tombol. “amensiamu kambuh lagi ya. Soal Oneechanmu, bukannya kau bilang kalau selama ini kau mengejar ilmu untuk dia, karena kematiannya ada negara ini. Lantas kalau kau mengemban ilmu di sana, panutan apa yang kau ambil?”

Yasu terhenyak. Tangan yang sedari tadi bergerak lincah, memilah-milah di atas tombol sontak menggantung—seolah sarafnya mendapat shock dan mendadak lupa akan segala hal. Perlahan kepalanya menunduk, menahan nyeri, pernyataan Hane barusan melepaskan sembilu baru dari berbagai arah. Mengoyak pertahanan yang telah dibuat sedemikian rupa.

Namun, di sisa-sisa yang ada, ia masih mencoba untuk menarik kedua ujung bibir ketika berbalik, dan memadu tatapan bersama pria yang tengah duduk di birai selasar itu.

Oneechan, dia…masih ada, Hane. Di korea, dia tetap hidup.”

-fin.-

 Jakeall note:

Jadi. Jadi ini adalah lanjutan dari Shigeru-Gyu Series. Dan ini juga duet maut kita–saya sama karasu–yang kesekian kali(yeay!). Mungkin, dulu yang pernah hadir di Paperofstories, mungkin ya bakal ngeh. Intinya mereka ini orang baru yang siap menerjang dunia perbankan fict. Okelah, selamat menikmati! Review?

1) Lho

2) Kenapa/Mengapa

3)Inoshishi: Babi Hutan

Advertisements

One Reply to “Unspeakable Secret”

  1. Halo. Halo. Aku kembali bertanya di kolom ini. Klan Gyu kayaknya gak asing. Ini apa Shin yang pelukis jalanan di pasangan Nara-Himchan? Kalo bener ini apanya Kite? Lah.
    Kayaknya aku kudu baca lengkap deh. Masih sibuk mencocok-cocokan file di kepala sama nama-nama baru dan lama. Jadi rada sambung gak sambung. Tapi diusahakan /usaha dong biar ngerti/. Seneng banget baca cerita yang kudu usaha dulu macam ini. >.< Kyaaa~~

    love,
    Gal

    Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s