Serendipity

Serendipity

Nara – Dujun

Karasu ©2015

.

“Bertemu denganmu adalah sebuah kebetulan yang manis.”

.

Kei, sebuah pulau kecil dengan panorama seindah surga yang mengapung di antara bentangan gugus-gugus pulau Indonesia. Pulau yang masih amat terjaga kecantikannya, namun sayang tak banyak yang tahu. Kebanyakan turis mancanegara lebih mengenal Bali sebagai surganya Indonesia, melewatkan kesempatan berharga melawat ke pulau kecil ini. Aku mungkin salah satu orang yang beruntung bisa mengetahui bahkan berkunjung kemari. Terimakasih pada dunia maya yang sudah memperkenalkanku dengan tidak sengaja pada tempat ini. Aku sama sekali tak menyesal menyisihkan uang untuk perjalanan dari kampung halamanku hingga ke Pulau Kei.

Sudah sekitar empat bulan lebih aku merencanakan untuk berlibur di sini. Mengumpulkan won demi won dari gajiku sebagai pegawai kantoran ditambah simpanan tabungan demi sampai ke pulau kecil impianku yang awalnya hanya kujumpai di dunia maya.

Rasanya begitu nyaman ketika telapak kakiku beradu dengan pasir putih yang amat lembut dari Pantai Ngurbloat, pantai yang terletak di bagian barat Pulai Kei Kecil. Sendirian menyisiri tepian pantai yang begitu indah di bawah langit senja. Damai ditemani semilir angin yang menerpa wajahku dan meniup helai-helai suraiku, dan sang surya yang beranjak ke tempat peristirahatan.

Dengan pasti aku melangkah mendekat pada bibir pantai, membiarkan ombak kecil menggelitik ujung jemari kakiku. Dua tanganku melayang bebas di udara, dan sepasang kelopak mataku mengatup, dan cuping hidungku meraup lamat-lamat udara segar yang bercampur asinnya aroma laut. Aku mendapati diriku begitu hanyut dalam sihir Pantai Ngurbloat.

Kilatan cahaya putih membuyarkanku. Sejenak mataku mengerjap, mengembalikan fokus penglihatan setelah beberapa menit terpejam.

Di sisi kanan, tak jauh dari posisiku berdiri, seorang pemuda berwajah asia tengah memandangiku dengan kamera di tangannya. Aku mengernyit. Bertanya-tanya apakah ia juga turis sepertiku. Ia berjalan mendekat, tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya. Kameranya masih tertahan di tangan kiri pemuda itu.

“Maafkan aku karena memotretmu sembarangan tadi.” ujarnya dengan senyum menyesal. Sebagian wajahnya mulai memerah seperti tomat.

Sementara aku dibuatnya tertegun ketika pemuda itu tak sengaja berbicara dengan bahasa nenek moyang kami. Tidak kusangka aku bertemu dengan seorang warga negara yang sama.

Kini ia yang balik mengernyit, menelengkan kepala dan menggumam sendiri. Tentu saja aku masih bisa mendengar gumamannya, dan pastinya mengerti apa yang ia bicarakan. Pemuda itu lupa menanyakan asalku, malah kelepasan berbicara memakai bahasa ibunya. Sedangkan aku hanya diam mengamati tingkahnya, menyembunyikan senyumku ketika ia mulai mengeluarkan kemampuan berbahasa asingnya yang tak melebihi standar.

Are you from Japan?

Aku menggeleng.

Mm, Taiwan? Hongkong?

Aku kembali menggeleng.

Ia menelengkan kepalanya lagi, mencoba berpikir. Matanya tak beralih dariku, sementara tangannya yang bebas mengusap dagunya berulang kali. Tak sampai hitungan ketiga, ia berdecak puas, seakan menemukan jawaban pamungkas.

“Ah! Kau dari Korea?”

Pada akhirnya aku tidak bisa menahan tawaku. “Aku datang dari Seoul.”

Woah, kebetulan sekali, aku juga dari Seoul.”

“Benarkah?”

Ia mengangguk antusias, masih dengan senyum tiga jarinya, lalu menyodorkan tangannya. “Aku tinggal di Seodaemun. Namaku Yoon Dujun.”

Kubalas jabatannya, sejenak hanyut dalam hangat tangannya yang kini menggenggam milikku.

“Aku Yoon Nara, kau bisa memanggilku Nara.”

Aku mengutuk diri ketika panas mulai menjalari kedua sisi pipiku.

“Kau berlibur sendiri kemari?” tanyanya, memulai obrolan ringan.

Aku mengangguk sekilas sebagai jawaban. “Kau juga?”

Ia tertawa, terdengar begitu renyah. “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan teman satu negara di sini yang juga sedang berlibur sendirian.”

“Benar-benar kebetulan,” sahutku, ikut tertawa meski masih sedikit canggung.

“Aku minta maaf karena tadi memotretmu tanpa izin,” lanjutnya, kembali menggaruk tengkuk. “Aku sedang berjalan-jalan, berburu objek yang bisa kuabadikan, dan tiba-tiba saja aku menangkap sosokmu, kau berhasil mengalihkan perhatianku, sungguh. Kau menyempurnakan pesona pantai ini, objek paling indah yang kutemui di sepanjang perjalanan.”

“Jangan membual di pertemuan pertama kita,” balasku melempar lelucon.

Setengah menunduk, tawanya kembali menyusup ke gendang telingaku, mengaliri sepanjang arteri, dan membuncah di seluruh tubuh. Menimbulkan desiran asing yang sebelumnya belum pernah kurasakan.

Oh, tunggu sebentar. Ada apa denganku hari ini?

“Aku bukan orang yang mudah berinteraksi dengan lawan jenis, asal kau tahu,” ujarnya, mendengus geli lebih pada dirinya sendiri. “Tapi denganmu, kasusnya sedikit berbeda. Jangan tanya kenapa, karena aku pun belum menemukan jawabannya.”

“Mungkin itu juga sebuah kebetulan,” sahutnya, sedikit bercanda untuk menghilangkan rasa gugup.

Yoon Dujun mengangguk setuju. “Mungkin saja, kebetulan yang manis, huh?”

Dan sekali lagi, suaranya berhasil menyihirku. Bukan hanya pantai ini yang mengeluarkan sihirnya padaku, pemuda itu pun sama. Membuatku hanyut ke dalam sensasi asing entah apa.

Pertemuan kami di pulau sejuta pesona ini  mungkin adalah sebuah kebetulan belaka. Atau salah satu kebetulan dari serangkaian benang takdir yang mengikat. Entahlah, biarkan waktu bergulir sebagaimana mestinya, mengalir mengikuti alur nasib hingga mencapai ujung ikatan itu berada.

/fin.

Ini fic dadakan yang idenya muncul dadakan dan bikinnya juga dadakan, intinya serba dadakan. Ceritanya kelewat simpel jadi mohon dimaklumi hasil dadakan ini hehe. Terimakasih sudah membaca dan mohon reviewnya 🙂

Advertisements

4 Replies to “Serendipity”

  1. YUHUOUOUOUOOOOOO /Kayang sepanjang jalan kenangan/ KAKZ YUU IZ BEK /lempar menyan/ /semedi/ /pergilah kau setan!/

    Kei, mungkinkah pulau itu pulau punyai Kei Killerpile O.O /halah/ /dilempar sempak/ Nyahahaha aku gak bisa bohong kak, gak-bisa-bohong kalau aku bagaikan bermandi mata air gunung ngeliat tulisan kakak lagez di dunia ini /wetseeh/ /dziiiing/ maapkeun diriku ini kak, aku tak bermaksud buat nyepam, aku hanya suka berbawel ria di tulisan kakak. Ini hanya cinta kak, ini cinta~ /tetiba nyanyi lagu NOAH/

    Okelah balik ke komen! h3h3h3h3h3h3h3h3h3h3h3 writerblock itu emang menyiksa kak, aku akui itu. Liat aja tulisanku bagai comberan itu, gak di revisi lagi langsung publish set set set! hahaha. Keliatan dari cara kakak bernarasi, kosakata lebih banyak yang biasa tapi tenang, diksi mah gamvang tinggal buka kamus lagi ntar nambah deh /sok/ /ditendang!/ tapi itu dujun nara ARGGGH couple favoritku setelah SHINARA ❤ aku seneng banget kakak ngungkit mereka lagi masa, walopun cuma drabble / ficlet pendek gini aja, tetep aja bahagia /ah lebai lu kampret/ tapi sejujurnya aku pengen banget, kebangetan, mereka balik ke canon HAHAHAHA /dilempar sambel/ Yaudahlah toh ntar nara sama shin juga wakakak. ohiya masalah diksi ini pake orang pertama kan ya, diksi mah gak perlu bagus-bagus kalau orang pertama kak yang penting mengambarkan perasaan si tokoh dengan jelas aja udah keren! iya bikin orang ngerasain apa yang dia rasa gitu /paham zen/ /sesat/ tapi agak akhir-akhir tulisan kakak udah balik lagi kok, mungkin baru dapet feelnya pas di bagian rada ending? hahaha tapi hebat lho kak kalau iya, soalnya aku biasanya bagusnya di awal aja ke bawah tulisannya tambah gak jelas gyahahaha. terus apa lagi ya, duh sampe lupa karena kelewatan nyepam-_-

    intinya, semoga wbnya cepet ilang kak! ditunggu berat cerita lainnya, pokoknya terus nulis hehehe.

    Salam,

    Kolektor cogan sedunia. Ejen.

    Like

    1. BISA JADI INI PULAUNYA KEI KILLERPILE SI MOODMAKER HAPPY VIRUS UNYU MENGGEMASKAN DEK!! XD
      kayanya emang virus WB lagi melanda dunia dek, kita jadi korbannya. kita harus cari obatnya, kalo perlu hingga ke ujung dunia sekalipun! tapi blog ini dunia kita, semua halal disini, bebas nyampah bebas nyepam (tebar kembang tujuh rupa)
      whahaha iya nih waktu itu lagi kangen sama dujun-nara jadi mendadak muncul ide abal ini trus dijadiin fanfic, sekalian buat nyembuhin WB, kalo dibiarin ga nulis sama sekali malah bablas WB sampai mati ntar haha. kakak juga kadang kangen bikin canon mereka dek, kangen juga bikin canon himnara ;_; tapi alur nara yang baru udah terlanjur memenuhi hati ini (lebay u tir) hidupnya dia udah terlalu kusut di alur yang baru ini, kalo ditambahin sama idol malah bisa bisa kakak yang gila duluan wkwk
      diksi kakak masih perlu digali lagi dek, jadinya segitu-gitu aja, apalagi baru kena WB. pengaruh terlalu lama bergaul sama laporan magang mungkin ya, dan habis ini bakal berhubungan intim lagi sama laporan akhir. kadang bikin tulisan jadi kaku & formal banget. harus banyak-banyak ngelenturin badan nih (apa hubungannya woi?!!)
      yosh! kakak juga nunggu fic kamu lagi dek! khususnya fic yasu-sojin hehehe ❤ semangat berkarya buat kita semua!!

      Like

  2. Aloha, Tir.
    Maaf ya muncul dadakan, hahah. Sengaja klik fiksi yang ini karena….. judulnya sama kayak fiksiku, tapi jelas dong ceritanya beda. Keren ya, aku orang Indonesia aja enggak tahu pulau Kei, malah si Nara sama Yundu gelundungan berdua di pulau itu aduh aku merasa gagal jadi warga negara yang baik hahaha. halah lo sha, ktp aja lo ilangin!!
    Oke, kembali ke cerita. Simpel ya, dadakannya enggak berasa sih, tapi manis.
    Cocok buat cemilan sore-sore pas hujan, sambil minum teh.
    Apalagi kalo tehnya dibikinin. Iya. Gitu.
    Hahah yasud, cao deh ya

    xx,
    Ashachan.

    Like

    1. halo sha 🙂
      makasih udah mampir ke sini hehe
      oh ya? wah samaan dong judulnya? kebetulan banget, mirip sama arti judul fic kita ya hehe
      iya nih, nara sama dujun aja udah ke pulai kei, dan aku yang orang indonesia belum pernah kesana ;_; hahahaha. aku tau pulau kei ini dari novel erni aladjai yang aku beli tahun lalu kalo ga salah, judulnya Kei, aku kira novelnya bau-bau jepang eh ternyata pas dibaca indonesia banget dan sama sekali ga nyesel udah beli novel itu. ceritanya bagus banget, jempol deh pokoknya, langsung jadi salah satu novel favorit haha (lah kok malah jadi curcol)
      makasih udah baca fic abal ini sha 🙂

      Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s