Connected

Connected

Aloise Kim

Karasu © 2015

1st Aloise series Whisper

.

.

Ada perasaan aneh ketika mata bulatnya menangkap sorot itu. Desiran asing namun familiar pun seakan menggelitikinya.

“Al, kenalkan ini Mr. Cortez, pianis asal Italia yang akan segera mengadakan konser tunggalnya bulan depan.”

Tubuhnya membungkuk rendah. Ritual budaya yang selalu dilakukan tiap kali menyapa seseorang yang dihormati.

“Mr. Cortez, dia Aloise yang kemarin kuceritakan padamu, salah satu penari muda terbaik Black Toes.”

Pemuda itu mengarahkan tatapannya tepat ke arah gadis muda yang kini tampak mengamatinya detail. Dia tersenyum. Cukup membuat desiran asing itu semakin bergejolak.

“Senang berkenalan denganmu, Aloise.”

.

.

Putih mendominasi sepanjang jangkauan mata. Tak ada satu pun tanda kehidupan. Hanya semilir angin lirih yang membelai surai panjangnya. Berembus bersamaan dengan desahan napas. Perlahan tungkainya pun berayun, maju setapak demi setapak. Sementara dua pasang maniknya menyusuri setiap titik, bergerak waspada.

“Loise.”

Suara itu lagi. Memanggil nama kecilnya, lembut namun ada setitik nada riang layaknya lonceng gereja yang terdengar.

Gadis itu melebarkan pupil, berusaha mempertajam fokusnya untuk mencari suara itu berasal.

“Loise.”

Dan gadis itu pun berhenti di satu titik. Mematung di tempatnya kini berpijak dengan pandangan tetap memburu.

“Aku di sini, Loise.”

Dalam sekali putaran, tubuh semampainya berbalik arah 90 derajat. Kini irisnya menatap lurus pada sebuah bayangan yang sedikit demi sedikit membentuk wujud nyata. Menjadi sosok yang jelas di depan mata. Senyum lebar yang menyapanya hangat, cipratan kembang api yang menyala tersembunyi di balik tatapan lembutnya, menyambutnya ramah.

“Juan,” bibirnya merapal nama itu pelan namun cukup jelas terdengar. Nama yang dimiliki sosok lelaki remaja yang ada di hadapannya sekarang. Ada perasaan hangat yang langsung mengaliri denyut nadinya kala nama itu terucap, terngiang menggelayuti jiwanya.

Sudut bibir pemuda itu masih terangkat ketika dia membuka suara. “Kemarilah,” ucapnya dengan tangan terulur. Dan tarikan kuat muncul dari dalam diri Aloise. Menariknya kian dekat pada sosok yang dirindukannya. Tangan jenjangnya pun ikut terulur bersama dengan langkah yang kian memperkecil jarak antara keduanya. Hingga ujung jemari mereka nyaris bersentuhan.

Namun sosok itu melebur dalam hitungan detik. Lenyap begitu saja dan digantikan gumpalan asap kelabu. Bertranformasi menjadi sosok lain. Sosok yang terus menjadi mimpi buruk Aloise.

Gadis itu menuruti nalurinya untuk mundur. Terhuyung ke belakang hingga nyaris terjungkal. Napasnya memburu.

Sosok itu menatap lurus ke dalam pasang mata milik Aloise. Tajam dan jahat. Sosok yang menyerupai sang ayah atau mungkin monster yang selalu siap menerkamnya. Menelannya ke dalam jurang kegelapan, jurang para pendosa.

“Pembunuh!”

Kedua tangan Aloise terangkat membentengi telinganya. Beralih fungsi sebagai perisai yang menghalangi semua suara yang berusaha menerobos masuk ke celah telinga. Namun, sekuat apapun dia berusaha, suara itu masih terngiang jelas. Menusuk relung batin.

“Kau pembunuh!”

Sosok itu menggeram penuh amarah, mengarahkan tangannya seolah ingin meraih leher gadis itu. Dan sosok itu melayang maju, melesat ke arah Aloise secepat anak panah yang terlepas dari busurnya.

Hanya jeritan yang tersisa kala bayangan itu menabrak dan menembus tubuh Aloise. Dalam sekejap mata sosok itu melebur menjadi asap pekat kemudian lenyap terbawa angin.

.

.

Dia membuka mata. Deru napas diikuti detak jantung yang memburu. Juga bulir keringat yang mengucur bebas. Takut yang tak terbendung. Memori seram masa lalu. Seakan lengkap dengan hampa yang menyelimuti ruang latihan utama Black Toes Dance Company.

Lagi-lagi mimpi itu kembali menyapa. Muncul bak malaikat penyabut nyawa, seolah siap membawanya pergi bersama ke neraka. Ya, neraka. Tempat mana lagi yang lebih cocok untuk seorang pendosa selain lautan api membara?

Al memejam mata sejenak. Mencoba meraup oksigen untuk menyembuhkan sesak yang melanda. Menyeka keringat yang membanjir, kemudian bangkit.

Suara Elisa menari di tengah udara kosong yang memenuhi ruangan. Mengisi kesunyian dengan melodi lembut. Sementara Al, dengan beban dosa yang mengintip di balik punggung, berjalan tersuruk ke titik tengah. Matanya sekali lagi terpejam, kuat-kuat. Memfokuskan diri pada musik yang mengalun. Membiarkan nada demi nada memenuhi jiwanya.

I’m dancing in the room

As if I was in the woods with you

No need for anything but music

Music’s the reason why I know time still exists

Tak perlu apapun, hanya musik yang mampu memberinya ketenangan. Dan menari jadi ajang pembebasan diri. Meliuk di tengah udara, berputar dan melayang selayaknya helai bulu angsa, berdua dengan alunan lagu yang menemaninya.

Bunyi tepukan tangan menyeruak ke tengah ruangan tepat ketika lagu berakhir. Membuyarkan fokus Al, kini mengarahkan maniknya pada seseorang yang sedang bersandar di samping pintu. Tubuh Al seketika tegap. Dia menyeka keringat dan mulai membereskan barangnya. Alih-alih menyapa, gadis itu memilih bungkam.

Kesempatan tidak begitu saja dibuang oleh pemuda itu. Ya, pemuda yang berdiri di ujung pintu. Dia melangkah masuk, masih dengan senyum hangat miliknya.

“Tidak kusangka kau mendengarkan lagu Elisa juga.”

Al berdeham. Mau tak mau, dia berhenti pada kesibukan pribadinya dan membalas, “Aku lumayan sering mendengarkan lagunya.”

“Kau juga mendengarkan lagu italia lainnya?”

Al tidak lagi terkejut dengan fasihnya dia berbahasa korea meski bukan warga tetap. Pemuda itu terdengar semakin antusias dalam obrolan ini, berbanding terbalik dengan Al yang dihampiri kecanggungan.

“Hanya beberapa.”

“Siapa saja penyanyi yang kau ikuti?”

“Arisa, Francesca Michielin, Allevi—“

“Ah! Kau mendengar musik Allevi? Kau suka instrumental piano juga?”

Al mengusap tengkuknya canggung, “Yeah, begitulah.”

“Apa kau juga mendengar musikku?”

Pertanyaan itu sukses membuat Al terdiam, berpikir sebentar. Membingungkan ketika seorang pianis menanyakan padamu apakah kau mendengarkan musiknya padahal jujur saja kau belum tahu sama sekali. Ditambah lagi, orang itu bertanya dengan penuh semangat, seakan ada harapan yang terselubung di dalamnya.

“Maaf,” Al dengan kikuk menggeleng kepala. “Aku belum pernah mendengar musikmu.”

Alih-alih merasa kecewa, Mr. Cortez mengangguk maklum sembari tertawa renyah dan melempar lelucon. “Popularitasku memang belum seberapa dibanding Allevi.”

“Mu-mungkin aku akan mendengarnya nanti,” sahut Al lekas meski terbata.

Kali ini senyumnya berbeda, bukan senyum hangat dan bersahabat. Ada kekecewaan dan penyesalan yang tersirat. Al sampai dibuatnya tenggelam dalam kecanggungan. Tatapan pemuda itu terasa begitu tak biasa.

“Rupanya kau masih belum mengenaliku.”

Kalimatnya itu membuat Al balas menatap. Bukan sorot ingin tahu. Tidak pula berusaha menerka. Yang ada hanya gugup akan jawaban di balik dua manik tembaga itu.

“Pertama kali aku melihatmu, aku tahu itu kau. Aku memutuskan untuk diam awalnya, ingin tahu seberapa cepat kau akan mengenaliku tanpa harus aku dulu yang memulai,” Mr. Cortez mendengus dalam senyum lemahnya. “Mungkin kau sudah mulai melupakanku, begitu pikirku.”

Al masih diam mematung. Bungkam. Meski jawaban itu nyatanya mulai nampak sedari awal. Hanya sebagian dirinya saja yang memaksa berlagak pilon di hadapan kenyataan. Menipu diri. Menghindari masa lalu. Tapi tak bisa dibohongi jika rindu itu masih terasa di sepanjang denyut nadi.

“Apa kau benar-benar sudah melupakanku, Loise?”

Dan jawaban itu kini benar-benar menguak ke permukaan. Kenyataan kembali menamparnya.

Dia ingin melupakan semua masa lalu. Meninggalkannya di belakang tanpa harus menoleh kembali. Tapi masa lalu itu terus mengejarnya, dan sekarang berhasil menggapai dimana tempatnya bersembunyi.

“Hanya dua orang yang memanggil nama kecilku seperti itu. Ibuku, dan juga seorang anak laki-laki.”

Al bisa mendengar dengan jelas suaranya yang gemetar.

“Kau tidak senang dengan reuni kecil kita.”

Bukan pertanyaan. Pemuda itu melempar argumen. Sementara Al lagi-lagi bungkam. Mengungkapkan isi hatinya saat ini hanyalah percuma. Dia tidak akan memahami apa yang dirasakan Al. Terlalu sulit untuk dimengerti.

Bertemu dengannya mengobati rindu sekaligus membuka luka masa lampau. Bahagia dan takut bercampur menjadi kesatuan yang menekannya sedemikian dalam.

“Aku merindukanmu, Loise.”

Al menggigit bibir. Menahan tubuhnya yang gemetar. Sejujurnya, dia ingin sekali membalas, mengatakan bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama. Bahwa dia juga merindukan pemuda itu. Dan dia pun memberanikan diri menatap lurus sepasang mata di depannya. Sorot mata dan senyum hangat yang sama seperti sembilan tahun lalu, sekali lagi mampu menenangkannya. Sama seperti saat itu, ketika takdir pertama kali mempertemukan mereka. Kini takdir pula yang menghubungkan keduanya.

Berusaha menanggalkan takut yang menghantui, Al mendapati egonya bertarung dengan bayang kelam masa lalu. Sekali ini saja, dia ingin membiarkan kebahagiaan memeluknya dengan damai.

“Aku juga merindukanmu, Juan.”

/fin.

Aloise series yang kedua! Akhirnya selesai juga, padahal fic ini mandek tahun lalu dan mulai saya lanjutkan tahun ini /ketawa setan/ Ini pertama kalinya Al & Juan reuni lagi setelah lama berpisah /asek/ Terimakasih bagi yang sudah membaca dan mohon kritik sarannya 🙂

nb: lagu yang ada di atas lagu dari Elisa yang berjudul Dancing

Advertisements

2 Replies to “Connected”

  1. Ini nih, padahal kemarin udah janji mau langsung komen pas jam duabelas eh malah kebablasan-_-

    KURANG GREGET! aku butuh bumbu-bumbu eron kak HAHAHAHA ah pokoknya OC itu aku antisipasi banget lah datengnya, dan seharusnya si eron itu temenan sama Kwak brothers /dziiing!/ soalnya mereka satu visi dan misi GYAHAHAHA /lempar sendal/ aku kira bakal ada adegan dramatisir dulu sebelum juan ketemu sama Al, ah tapi bisa aja sih kakak nyiapin kartu truf di belakang nanti ya hehehe awal kalem ntar akhir-akhir kelok sembilan padang wkwkwkwk noleh sedikit, bisa masuk jurang terus mati. Tapi kayaknya aku suka sama sifat Juan, entah kayaknya orangnya adem kalem gitu tapi sekali bertindak meleleh, kayak sebelas duabelas sama uhukhukhukakakjunhuuhuk! hahahaha

    Dan haha, aku agak geer, aku kira benja bakal masuk terus ngusik Al sama Juan gitu kak puft kan dia sok akrab orangnya, lucu juga sih kalau Al sama Juan lagi serius nostalgia eh benja ngebrak pintu sambil bilang kalau dia nyari kelinci di Alicewonderland /halah/ /ngaco/ atau hal konyol yang hanya tuhan dan dunia dia yang tahu /lah ini jadi curhat si benja/

    Maz eron, iya kamuh, eke tunggu kedatangannya ya! Dan Juan juga Al, siap-siap diincer sama benja HAHAHAHA /lha?/ mangap kalau banyak spam kak, diriku ini hanya serpihan eek kambing yang mengharapkan untuk menebar cinta di tulisan kakak ini /duagh!/

    Salam,

    Ejen.

    Like

    1. JENIE!!!
      eron lagi berkelana dulu dek, masih belum dapet petunjuk keberadaannya al makanya masih belum nongol hahah, tapi tenang aja dia lagi di jalan kok otw ke pintu hatinya al. iya boleh!! eron sama kwak brothers satu visi dan misi, mungkin nanti mereka bisa saling bantu membantu menjalankan misi wkwk
      hehe iya ini masih permulaan aja, pengen nyeritain si al sama juan ini ketemu lagi setelah sekian lamanya, padahal si al udah nutup erat pintu masa lalu eh juan tiba-tiba muncul tanpa permisi (EAAAAK) awalnya kakak bikin adem dulu, walaupun ada gejolak batin di hati al, dia antara suka dan ga suka si juan muncul lagi. tapi si al mah orangnya muna sih wkwk (ditendang al ke bengawan solo)
      maafin kakak ini member black toes ga ada yang nongol sama sekali ;_; sejujurnya sih emang ide lagi mampet dek jadi ya cuma ini dapetnya, langsung ke point si al & juan ketemu trus selesai </3 ini juga pas udah selesai kakak sadar banyak yang masih kurang dan melenceng dari ide awal, tapi yah udahlah seadanya ini aja udah terlanjur publish wkwk (nyebur sumur)
      makasih udah baca dek dan spam yang manis ini, apalah kakak tanpa kehadiranmu ❤

      Like

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s