Whisper

Whisper

Aloise’s story beginning

“Kau berjalan seperti kura-kura saja, Al.”

Gadis itu memutar bola mata sebagai respon untuk pernyataan berbau ejekan yang baru saja dilontarkan pemuda berperawakan jangkung yang kini berjalan mundur sambil menghadap ke arahnya. Ada lengkungan nyata yang tercetak di paras pemuda itu, mengisyaratkan jikalau kalimatnya tadi hanyalah candaan semata.

“Cepat sedikit, Miss Turtle. Kita bisa ketinggalan filmnya,” ujar Gil gemas, sementara tangan kekarnya terulur menggapai milik si gadis. Menariknya hingga mau tak mau gadis itu mempercepat langkah.

Tadi Gil secara tiba-tiba menampakkan batang hidungnya di butik tempat gadis itu bekerja, tanpa menghubungi Al terlebih dahulu dan tentu saja itu membuatnya cukup terkejut oleh kehadiran pemuda yang merupakan kakak angkatnya tersebut. Gil berniat mengajak Al menonton. Ia pun mengeluarkan seluruh kemampuan merajuknya agar gadis itu mau menemaninya ke bioskop. Film yang sudah lama ia tunggu sudah siap tayang dan Gil tidak ingin melewatkan pemutaran perdana.

Meski awalnya Al sempat menolak mentah-mentah ajakan Gil —karena, hei, bagaimana mungkin ia meninggalkan butik di saat jam kerja— pada akhirnya gadis itu mengiyakan ajakan Gil setelah rekan kerjanya berujar menyuruh Al untuk menuruti rajukan pemuda bertubuh atletis berotak bak bocah berumur tujuh tahun itu. Mungkin temannya juga tidak tahan mendengar ocehan rancau Gil yang terus memaksa Al pergi dengannya. Beruntung, Bos mereka tidak sedang berada di tempat. Al hanya perlu berdoa supaya Tuhan menghalangi sang Bos untuk datang ke butik sebelum ia kembali.

“Gil, berhenti menarikku seperti anjing, aku bisa berjalan sendiri,” gerutu Al.

Kini giliran bola mata Gil yang berotasi singkat di balik rongga. Sama sekali tidak mengindahkan omelan Al dan tetap tidak mengendurkan pegangannya.

Al melanjutkan gerutuannya dalam batin. Kakaknya selalu saja bertingkah seperti anak kecil, tidak pernah mau mendengarkan perkataannya. Gil tak lebih seperti seorang bocah lelaki nakal yang terjebak dalam tubuh berusia dua puluh  empat tahun.

“Aku tidak mau ketinggalan film ini barang sedetik saja, Al, jadi jangan protes dan ikuti saja aku,” seloroh Gil.

Baru saja Al hendak membalasnya, bibirnya mengatup ketika sebuah suara —nyaris seperti bisikan— memanggil namanya. Nama kecilnya dulu.

‘Loise!’

Seluruh syaraf gadis itu seolah membeku. Mengejang. Ia jelas bisa merasakan aliran listrik statis mulai merayapi setiap inci pembuluh darahnya. Sementara pupilnya melebar, tak bisa menahan reaksi keterkejutannya, dan ia pun memaksa kakinya untuk diam tak melangkah detik itu juga. Gil yang merasakan tarikan kuat Al dari arah berlawanan, akhirnya ikut berhenti. Pemuda itu dengan cepat menggeser irisnya menuju Al yang kini terdiam layaknya sebuah patung di belakangnya.

“Al?”

Suara Gil seolah mengendap begitu saja, tergantikan oleh bisikan kuat yang kini memenuhi isi kepala Al. Gadis itu memalingkan wajah, mengedarkan pandang ke seluruh penjuru. Berusaha mencari di mana letak sumber suara itu berasal.

‘Loise!’

.

.

.

Sepasang bola mata cokelat kelamnya tak kunjung beralih dari satu titik. Langkah mungilnya terus melaju perlahan namun pasti ke arah titik pandangnya. Di bawah pohon Ek yang berdiri gagah di tengah padang rumput tak jauh dari panti asuhan tempatnya tinggal, tampak seorang anak lelaki yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya sedang terpekur memandangi langit yang dipenuhi awan yang berarak teratur.

Anak lelaki itu memutar arah pandangnya ketika Aloise —gadis belia itu— sampai di belakang punggungnya, hanya terpisah oleh jarak yang tak lebih dari satu meter.

Aloise menahan napas begitu kehadirannya disadari oleh si anak lelaki yang kaki kirinya terbalut perban. Berdiri dengan menopang pada krug.

Setahu Aloise, anak lelaki yang tampaknya sedang beranjak ke fase remaja itu bukan salah satu penghuni panti asuhan yang ia diami. Apakah ia salah satu penduduk yang tinggal di sekitar wilayah ini? Entahlah, Aloise pun baru beberapa hari tinggal di daerah itu, ia dimasukkan ke panti itu setelah Elias —ayah kandungnya— meregang nyawa, membuat Aloise kecil menjadi sebatang kara.

“Kau siapa?”

Aloise tidak lekas menjawab. Bibir tipisnya terkatup rapat, sementara kedua irisnya masih mengamati anak lelaki di depannya itu.

Lipatan di kening anak lelaki itu mulai nampak jelas. Raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kau anak panti asuhan yang baru? Ah, benar! Kau pasti anak itu. Semua orang di desa ini membicarakanmu, gadis kecil yang ditinggal mati oleh ayahnya yang mati bunuh diri.”

Aloise menunduk, jelas-jelas merasa tidak nyaman dengan perkataan anak lelaki itu.

“Oh, maaf, sepertinya aku sudah membuatmu tidak nyaman,” ujarnya lagi, terdengar tulus dan diliputi penyesalan. Meski begitu, rasa penasarannya yang tinggi tidak bisa ia sembunyikan. “Um, jadi.. apa benar  kau anak yang dibicarakan orang-orang?”

Aloise masih tak bergeming. Sejurus kemudian ia mengangguk samar.

“Hai, aku Juan. Rumahku tak jauh dari sini, aku sering datang ke padang ini jika sedang bosan. Biasanya tidak ada orang selain aku yang mengunjungi tempat ini, tapi kelihatannya hari ini aku mendapat teman mengobrol,” cerocosnya panjang lebar. Tak disangka, anak lelaki yang mengaku bernama Juan ini agak banyak bicara.

“Jadi, siapa namamu?”

Aloise mendongak, memberanikan diri beradu pandang pada remaja asing yang baru saja memperkenalkan diri padanya.

“Aloise,” jawabnya, setelah beberapa detik terdiam.

Well, senang berkenalan denganmu, um, Loise.”

Punggung gadis itu menegak, tampak sedikit terkejut saat anak lelaki itu memanggil namanya dengan sebutan lain.

“Maaf, aku pasti terdengar sok akrab,” sambung Juan, menggaruk tengkuknya canggung. “Kau tidak menyukainya?”

Aloise menggeleng. “Tidak juga, aku hanya teringat ibuku,” jawabnya cukup pelan. “Kau memanggilku seperti cara ibuku memanggilku dulu.”

Juan memilin senyum miring. Mata yang selalu memancarkan binar ceria bak kembang api kini menatap gadis itu dengan teduh.

“Senang bisa bertemu denganmu, Loise.”

.

.

.

Kenangan itu kembali mencuat ke tengah permukaan.

Degup jantung tak berirama terus berpacu di balik rongga dada, menimbulkan sensasi tersendiri. Ia membutuhkan lebih banyak udara untuk mengatur kembali ritme jantungnya.

Namun, sekali lagi Al membebaskan matanya untuk menjelajahi setiap titik di sekelilingnya. Masih berharap ia bisa menangkap sosok itu dalam wujud nyata. Suara tadi, bisikan kuat yang memenuhi kepalanya, terdengar amat jelas sampai ia sempat berpikir mungkin saja itu bukan sekedar suara angin lalu yang berasal dari fantasi bawah sadarnya. Mungkin saja sosok itu ada di sini. Di dekatnya.

Tidak. Ia tidak boleh larut dalam imaji berlebihan. Lelaki itu tidak ada di sini. Sudah bertahun-tahun mereka mengucap salam perpisahan, terpisah oleh dimensi jarak dan waktu. Dan inilah takdir mereka, menjalani hidup masing-masing di benua berbeda.

“Al?”

Gadis itu terkesiap ketika Gil mengibaskan tangannya ke udara, tepat di hadapan wajahnya.

“Hei, kau sudah sadar?” Gil berdecak, “Ada apa denganmu, Al? Kau seperti orang linglung tadi.”

Al meneguk ludah. Bungkam menjadi pilihan satu-satunya dan ia juga menghindari tatapan Gil.

Gil mendesah. Sejurus kemudian ia tersenyum tipis dan kembali meraih pergelangan tangan Al, “Ayo, sebentar lagi filmnya mulai.”

Kali ini Al tidak berusaha berontak. Dibiarkannya tangan besar dan hangat Gil membawanya masuk ke dalam gedung bioskop. Seperti biasa, tangan itu cukup mampu menenangkan pikirannya.

fin.

Sincerely,

Yoo

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s