I’m just Different

Starring by

Nam Tae Hyun (WINNER) and Nagisa Yook (OC)

.

Randolph

©2014

.

Don’t expect kindness

I’m angel and demon

.

.

.

Somewhere,

"Hoi, Tae Hyun, hari ini Nagi menangis lagi gara-gara anak kelas tiga." 
"biarkan saja. Dia bukan bocah."

Aku benci Nam Tae Hyun.

Pemuda itu bukan orang biasa. Dia tidak seperti kebanyakkan pria konyol di kelas, hobi membentuk kelompok; mengerjai guru, teman sebangku ataupun perempuan. Tapi Tae Hyun tidak, dia benci berbondong. dia lebih suka berpergian ke sudut, menyumpal kedua telinga dengan earbut lalu hanyut dalam alunan ballad kental. Paling tidak, jika sudah terlalu jengah, Tae Hyun akan berlalu ke atap sekolah, membiarkan bagian belakang seragamnya kotor demi menikmati cakrawala, menonton permainan para awan cirrus yang senantiasa berarak indah.

Polahnya pun tak terlalu bersahabat. Acapkali–ah, bukan, berujar dalam nada dingin serta ketus, tatapan lurus kopong adalah hal yang tidak dapat dipisahkan jauh-jauh dari pemuda itu. dia juga tidak pandai berperangai baik di depan perempuan, mungkin lebih tepatnya, sering mengacuhkan kehadiran mereka. Termasuk aku, kekasihnya yang mungkin tidak bisa secara gamblang disebut-sebut sebagai kekasih. Masih akan menjadi bahan obrolan kopi berkepanjangan untuk mengetahui statusku, kurasa.

Tapi ada satu hari di mana aku kembali terbuai oleh sifatnya yang tidak dapat ditebak. Kala itu, senja sudah lewat. Aku berusaha keluar meskipun tidak dalam keadaan baik. Wajahku berminyak, hidung memerah bak babi olahan baru terpanggang dan surai sengkarut melebihi orang gila di rumah kejiwaan. Memang sengaja menunggu seluruh staf dan siswa sekolah pulang sehingga aku tidak lagi–lagi dihardik karena penampilan sekacau ini, apalagi sampai bertemu dengan segerombolan siswa kelas tiga tadi.

Neon baboya?”

Aku terkesiap. Berhenti tepat di ambang pintu kamar mandi, tidak sedikit pun berani untuk bergerak, pun menoleh. Mustahil masih ada siswa di arah jam yang hampir menunjuk ke arah tengah malam. Apa mungkin…?

Ah!”

Dan barulah ketika orang itu menoyor kepalaku, aku refleks memutar leher setengah lingkar diiring delikan kejut setelah melihat pemandangan pelik di depan. “Tae Hyun–ah,” panggilku, pelan namun agak bergetar.

Iris pekat itu berotasi dengan salah satu ujung bibir yang menjungkit kesal. Masih dalam keadaan melongo, aku hanya bisa mengekori gerak pemuda itu yang lekas melangkah ke depan dari posisi bersandar di dinding. Kembali berpolah seperti laki–laki berengsek dengan memasuki kedua tangan di ceruk celana seragam. Tapi bisa kudengar ia meringis perih, menyatukan alis refleks.

Tae Hyun lantas menengadah, menatap wajahku seraya menghela napas. Mungkin dia sadar, jika sedari tadi aku menatap penuh sangsi. Kemudian pemuda itu mengumamkan kata ‘aku baik, aku baik’ sembari menganggukkan kepala, terlihat jelas kalau dia tak ingin dikhawatirkan. Sejujurnya, ini kali pertama aku melihat dia datang dengan tubuh disarati luka–luka segar; ujung mata membengkak, sudut bibir robek dan jari–jemari lebam, tapi masih dapat berujar dingin seolah tak terjadi apapun.

“Berhenti menatapku seperti itu. Aku hanya,” bola matanya bergulir ke sisi kiri, terlihat tengah mencari dalih “…bertengkar dengan sekolah lain. Sudahlah, Ayo pulang.”

Entah refleks atau apa, aku menahan gerak laju Tae Hyun dengan memegang tangannya. Namun seperti biasa, pemuda itu lekas menepis tanganku kasar sampai aku terdorong dan berakhir dengan pantat memadu kemesraan di atas tegel. Bendungan air jelas–jelas mulai menyeruak, jemariku bergetar hebat—mungkin ini bukan pertama kali, tapi efeknya, euh, terlalu besar dan menyakitkan untuk dirasakan terus–menerus.

“Ka—kau membenciku?” Tengkingku jelas gejolak amarah, sudah tak tahan menghadapi sifat bunglonnya.

Kesekian kali, Tae Hyun menghela napas. “Nai—“

Ah, aku tahu…” Kubiarkan air itu menjuntai, masa bodoh dengan napasku yang–lagi-lagi–mulai menyempit dengan diafragma sekonyong–konyong berkontraksi lebih cepat dari yang kuduga, mengeluarkan suara cegukan. Aku menengadah, tersenyum kecut, “hubungan ini guyonan, kan?”

“—Nai, cepat berdiri, kau bukan bocah lima tahun.”

Mendengar nada bicaranya saja aku sudah tahu, Tae Hyun tidak benar–benar serius dengan hubungan ini, tidak sama sekali.

“Kau…” Jenak kubiarkan melambung sembari menatap kopong ke arah lapangan basket sekolah, tak lupa menyelipkan ringkih senyum sisa, “tidak mencintaiku, kan?” Lama Tae Hyun terdiam. Aku mengangguk paham, aksi bungkam pemuda itu sudah dapat diartikan sebagaimana dia berpendapat sama denganku.

Susah payah, dengan hati setengah padam, aku beranjak. Meski sempoyongan bahkan hampir terjatuh lagi, kulihat Tae Hyun tak sedikitpun bergerak untuk membantu, dia tenggelam di dalam dunianya sendiri. Seperti biasa, seperti seluruh angkatan mengenal dirinya, layak orang asing yang tak pernah kutemui semasa hidupku; membisu, menatap lawan bicara dengan tatapan tidak dapat diartikan.

Aku menghembus napas keras, kualihkan tatapanku padanya sebelum berbalik dan menjauh. Masih dalam cegukan, tanganku tergerak untuk merapikan riap suraiku, juga menghapus riol-riol yang membelah pipi. Seharusnya aku sadar, Tae Hyun tidak akan pernah bisa menjadi pemuda yang aku inginkan, pun menjadi kind-hearted man atau apapun itu yang berbuat baik.

Dia terlalu berbeda, terlihat tak nyata, tapi berkeliaran di dunia ini.

“Aku antar kau pulang, Nai.” Dia melangkahkan kedua tungkai lebih lebar, berlalu lebih dahulu di depan tanpa menoleh. Tidak seperti drama remaja yang kerap aku lihat di teve, ketika pasangan bertengkar si pria akan menyusul dan mengenggam tangan, tapi ini tidak.

Namun, mana kala dia terlihat angkuh dan arogan, aku akan tetap berada di pusaran air itu. Tergenang di sana, lalu tenggelam karena sikap tak menentunya. Aku memelankan langkah kakiku, memandang punggung lebar milik Tae Hyun yang agaknya tak akan pernah bisa untuk dilampaui dengan memajukan bibir.

Drrt, drrt,

Ponselku bergetar di balik ceruk almamater.

Line baru dari Sang Eo,

상어

Berhenti membuatnya berubah menjadi iljin lagi, Nagi-ah. Obati dia. 오진 11.56 p.m

Ya, kau tidak mau pulang?” Suara khasnya menggema di sekitar koridor lantai bawah. Aku menengadah, tersenyum lebar sampai yang tersisa hanya lengkung garis senyum di mata. Tae Hyun melengos, mengibaskan tangan kanannya dan kembali berjalan, “cepatlah, sebelum mahluk lain datang.”

“Apa?”

Mataku mengerling, sialan, cerita seram yang seringkali diceritakan oleh Sang Eo berputar di benakku.

.

.

.

.

Try to understand baby
I want to express it but it’s not easy.

fin.

note :

INI APAH! WINNER DONG! HAHAHA

salam,

Taree

Advertisements

PAY HERE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s